Nama Jemaah Haji Tunanetra Asal Sinjai Diabadikan di Tanah Suci
- 14 Jun 2026 19:42 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Di tengah kebahagiaan ratusan jemaah haji yang kembali ke Tanah Air, kisah mengharukan datang dari Saifuddin HM Abd Muin Saideng, jemaah haji tunanetra asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Pria yang tergabung dalam Kloter 17 Debarkasi Makassar itu tak pernah membayangkan bahwa namanya akan diabadikan menjadi nama salah satu masjid yang akan dibangun di Arab Saudi.
Kisah tersebut menjadi salah satu cerita paling menyentuh dari musim haji 1447 H/2026 M. Bagi Saifuddin, kehormatan itu bukan sesuatu yang pernah terlintas dalam benaknya. Bahkan, di Tanah Suci, doa yang ia panjatkan justru sangat sederhana: berharap Allah SWT berkenan mengembalikan penglihatannya.
Namun, takdir berkata lain. Allah menghadiahkan sesuatu yang jauh di luar bayangannya. "Saya berdoa semoga bisa melihat, tetapi semuanya kembali kepada rezeki. Saya tidak sangka justru nama saya digunakan untuk menjadi nama masjid," ujar Saifuddin dengan suara bergetar saat tiba di Asrama Haji Sudiang Makassar, Minggu 14 Juni 2026.
Saifuddin menceritakan, peristiwa yang mengubah hidupnya itu terjadi secara tidak terduga. Seusai melaksanakan salat Isya di Masjidil Haram, ia bersama pendamping dari Kementerian Agama Kabupaten Sinjai mendapat panggilan dari imam masjid.
"Setelah salat Isya di Masjidil Haram, kami dipanggil. Pak Kandep bilang, ke sini dulu, ada yang mau dibicarakan," kenangnya.
Dalam pertemuan tersebut, ia memperoleh kabar yang membuat dirinya nyaris tak percaya. Namanya akan digunakan untuk salah satu masjid yang akan dibangun di Arab Saudi. Kabar itu sontak membuat Saifuddin terharu. Selama menjalani ibadah haji, ia mengaku mendapatkan pelayanan yang baik dan tidak mengalami kendala berarti. Namun, penghormatan yang diterimanya menjadi sesuatu yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
"Alhamdulillah saya senang sekali. Perjalanan lancar dan tidak ada kendala. Saya tidak sangka nama saya akan dijadikan nama masjid yang akan dibangun," katanya.
Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, membenarkan penghargaan yang diberikan Pemerintah Arab Saudi tersebut. Menurut pria yang akrab disapa Gus Irfan itu, penghormatan kepada Saifuddin merupakan bagian dari perhatian khusus yang diberikan kepada kelompok-kelompok jemaah yang menjadi prioritas pelayanan selama musim haji tahun ini.
"Ini suatu apresiasi dari pemerintah Saudi. Tahun ini kita memberikan perhatian kepada tiga kelompok, yaitu jemaah haji perempuan, jemaah haji lansia, dan jemaah haji berkebutuhan khusus, termasuk beliau," ujar Gus Irfan.
Ia menilai perhatian tersebut menunjukkan semakin kuatnya komitmen pelayanan yang humanis dan inklusif dalam penyelenggaraan ibadah haji. Kisah Saifuddin menjadi pengingat bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menghalangi seseorang untuk memperoleh kemuliaan di hadapan Allah SWT maupun penghargaan dari sesama manusia.
Di usia senja dan dengan kondisi penglihatan yang tak lagi berfungsi, Saifuddin tetap berangkat memenuhi panggilan suci ke Baitullah. Dengan ketulusan dan kesabaran, ia menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji hingga kembali ke Tanah Air dengan membawa kisah yang akan dikenang banyak orang.
Di tengah jutaan jemaah yang datang dari berbagai penjuru dunia, nama seorang warga sederhana dari Kabupaten Sinjai justru akan terpatri di salah satu rumah ibadah di negeri tempat lahirnya Islam. Bagi Saifuddin, mungkin doa untuk kembali melihat belum terjawab seperti yang ia harapkan.
Namun, Tuhan tampaknya menghadiahkan sesuatu yang berbeda: sebuah jejak pengabdian yang akan terus hidup dan disebut orang, setiap kali azan berkumandang dan umat Islam bersujud di masjid yang kelak menyandang namanya. Sebuah kehormatan yang datang tanpa diminta, dan menjadi bukti bahwa kemuliaan sering kali hadir dengan cara yang tak pernah diduga manusia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....