Andi Abdul : Haji Adalah Awal Kesalehan, Bukan Cari Status Sosial
- 07 Jun 2026 07:59 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Fenomena berbusana yang dinilai berlebihan sepulang ibadah haji mengingatkan kembali akan hakikat ketawaduan yang diajarkan selama berhaji. Ibadah haji dirancang untuk mendidik manusia agar melepaskan segala bentuk kemewahan dan kesombongan duniawi.
Komisi Hubungan Luar Negeri Dan Kerjasama Internasional MUI Sulsel, Andi Abdul Hamzah dalam Program Mutiara Pagi pada Minggu, 7 Juni 2026 mengatakan jemaah seharusnya membawa pulang karakter yang lebih membumi dan penuh kesederhanaan setelah mengalami langsung kesetaraan di tanah suci. Pengalaman spiritual di Musdalifah menjadi contoh nyata bagaimana seluruh jemaah diajarkan untuk hidup sangat sederhana tanpa fasilitas mewah.
Dikatakan, di tempat tersebut, tidak ada hotel berbintang maupun kemah eksklusif, sehingga semua manusia dari berbagai status sosial tidur beralaskan seadanya di atas tanah. Pengalaman ini semestinya mengikis habis keangkuhan yang dipicu oleh kekayaan, kekuasaan, ataupun status sosial tinggi di masyarakat.
“Tetapi ketika kita berada di Musdalifah misalnya maka semua kesombongan itu semua keangkuhan itu, semua status sosial itu, ya menjadi sirna ya. Karena di situ, semua harus hadir ya, mau presidennya mau rajanya, mau orang kayanya, mau orang miskinnya, semua harus hadir di Musdalifah ya untuk bermalam. Jadi betul-betul kita hidup diajarkan hidup sederhana oleh Allah SWT,” ujar Andi Abdul Hamzah.
Dijelaskan, secara syariat, ibadah haji merupakan puncak dari rukun Islam yang melibatkan pengorbanan fisik, mental, dan harta. Namun, para ulama menegaskan bahwa momentum ini bukanlah titik akhir pencapaian, melainkan titik awal untuk memperbaiki dan membenahi kualitas diri. Jemaah yang kembali dengan predikat haji diharapkan menjadi figur baru yang bersih dari dosa layaknya bayi yang baru lahir.
“Karena Nabi mengatakan barang siapa yang pergi berhaji kemudian dia tidak mengucapkan kata-kata kotor selama berada di sana, tidak mengumpat orang, tidak mencaci orang, kemudian tidak melakukan kata-kata kotor, perbuatan kotor maka dia kembali dari tanah suci itu bersih dari dosanya. Sebagaimana bersihnya bayi yang baru lahir dari dari rahim ibunya. Jadi, itu awal-awal dari kehidupan spiritual manusia,” ujar Andi Abdul Hamzah.
Perubahan total pada diri seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji wajib dibuktikan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sosial. Predikat haji yang disematkan di depan nama harus berbanding lurus dengan peningkatan kesalehan spiritual dan kesalehan sosial jemaah. Sikap santun, gemar bersedekah, serta menjaga lisan merupakan indikator utama dari keberhasilan ibadah haji yang mabrur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....