Menggenggam Mimpi Ibu, Zakiyah Berangkat Haji di Usia Muda
- 06 Mei 2026 09:21 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Di tengah hiruk-pikuk kedatangan jemaah calon haji Kloter 21 UPG Embarkasi Makassar, ada satu sosok yang mencuri perhatian. Bukan karena usia yang renta atau kondisi fisik yang lemah, melainkan karena usianya yang masih begitu muda diusia 13 tahun.
Namanya Zakiyah Amalia Rahmadani. Remaja asal Kabupaten Soppeng itu tampak melangkah perlahan memasuki Aula Arafah, Selasa 5 April 2026, didampingi sang ayah, Aliyas Talib Musa. Di antara ratusan jemaah lain yang didominasi usia dewasa hingga lanjut, kehadiran Zakiyah menghadirkan cerita berbeda tentang kehilangan, harapan, dan perjalanan yang sarat makna.
Saat disapa awak media, Zakiyah terlihat sedikit canggung. Tatapannya sesekali beralih, mencoba merangkai jawaban di tengah suasana yang riuh oleh suara petugas yang mengarahkan jemaah mencari tempat duduk sesuai regu dan rombongan.
Di tangannya, selembar kertas akomodasi tergulung rapi berisi informasi wisma dan kamar selama masa karantina di Asrama Haji Sudiang. Jari-jarinya tampak memainkan kertas itu, seolah menjadi pelarian kecil dari rasa gugup yang ia rasakan.
Ketika ditanya tentang keberangkatannya yang terbilang muda, Zakiyah sempat terdiam. Ia seperti mencari kata yang tepat untuk menjelaskan perasaan yang tidak sederhana.
“Berangkat haji ini ada senangnya dan ada sedihnya juga,” ucapnya lirih.
Kalimat itu terdengar singkat, namun menyimpan cerita panjang di baliknya.
Zakiyah bukan sekadar jemaah termuda di daerahnya tahun ini. Ia berangkat menggantikan posisi sang ibu yang telah berpulang setahun lalu. Sebuah perjalanan yang awalnya direncanakan bersama, kini harus ia jalani dengan membawa rindu yang belum sempat usai.
Sang ayah, Aliyas Talib Musa seorang ASN di Kementerian Agama Kabupaten Soppeng mengenang bahwa ia dan almarhumah istrinya telah mendaftar haji sejak tahun 2010. Penantian panjang itu akhirnya tiba, namun takdir berkata lain.
“Istri saya lebih dulu dipanggil Tuhan tahun lalu,” tuturnya pelan, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Di antara keramaian aula, kisah mereka seperti menghadirkan ruang sunyi tersendiri. Sebuah perjalanan spiritual yang tidak hanya tentang memenuhi panggilan ibadah, tetapi juga tentang melanjutkan mimpi yang tertunda.
Bagi Zakiyah, Tanah Suci bukan hanya tujuan ibadah, melainkan juga ruang untuk menyampaikan rindu—rindu kepada sosok ibu yang seharusnya berada di sisinya dalam perjalanan ini.
Langkah kecilnya di usia muda kini membawa beban besar: doa, harapan, dan kenangan yang dititipkan oleh orang yang telah tiada.
Di antara barisan jemaah yang bersiap menuju Tanah Suci, Zakiyah berdiri sebagai pengingat bahwa setiap perjalanan haji memiliki cerita. Ada yang datang dengan harapan, ada yang membawa syukur, dan ada pula yang melangkah dengan hati yang setengahnya tertinggal.
Namun satu hal yang pasti, dari perjalanan ini, Zakiyah tidak hanya berangkat sebagai jemaah termuda—ia juga membawa kisah paling dalam tentang cinta yang tak lekang oleh waktu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....