Dari Imam Kampung ke Tanah Suci, Kisah Inspiratif JCH Tunanetra Asal Sinjai

  • 04 Mei 2026 00:00 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Di tengah hiruk-pikuk keberangkatan jemaah calon haji di Asrama Haji Sudiang, sosok Saifuddin HM Abd Muin Saideng hadir dengan kisah yang menggetarkan hati. Keterbatasan penglihatan yang ia alami sejak remaja tak pernah memadamkan tekadnya untuk memenuhi panggilan suci ke Tanah Suci.

Pria asal Kabupaten Sinjai itu kini tergabung dalam Kloter 17 Embarkasi Makassar. Dengan langkah mantap, ia bersiap menapaki perjalanan spiritual yang telah ia impikan selama puluhan tahun.

“Alhamdulillah, saya sudah mendaftar sejak 2014. Sekarang akhirnya bisa berangkat,” ucapnya lirih namun penuh syukur saat ditemui di Aula Arafah, Sabtu 2 Mei 2026

Imam yang Mengandalkan Ingatan

Di kampung halamannya, Saifuddin bukan sosok biasa. Ia dikenal sebagai imam masjid yang tetap istiqamah memimpin salat, meski dunia yang ia lihat kini hanya gelap. Hafalan dan ingatan menjadi “mata” yang membimbing setiap langkahnya menuju rumah ibadah.

“Saya imam masjid di kampung. Dulu waktu masih bisa melihat, saya hafal jalan ke masjid. Sekarang itu yang saya ingat,” tuturnya.

Keteguhan itu menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi peran dan pengabdian seseorang dalam kehidupan beragama. Perjalanan menuju Tanah Suci bagi Saifuddin bukanlah jalan yang mudah.

Ia harus menabung selama lebih dari 20 tahun, mengumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil berjualan bahan campuran serta honor sebagai imam masjid yang jauh dari kata besar. “Lebih dari 20 tahun menabung. Jualan bahan campuran, ditambah honor imam sekitar Rp200 ribu,” ungkapnya.

Di balik angka yang tampak sederhana, tersimpan ketekunan luar biasa. Setiap rupiah yang ia sisihkan menjadi saksi kesabaran dan keyakinannya bahwa suatu hari ia akan sampai ke Baitullah. Tak Sendiri dalam Perjalanan Iman

Perjalanan spiritual ini juga menjadi lebih hangat karena Saifuddin tidak sendiri.

Ia berangkat bersama empat anggota keluarga, termasuk sepupu yang akan mendampinginya selama di Tanah Suci. “Alhamdulillah masih kuat jalan,” katanya dengan senyum tipis, menunjukkan optimisme yang tak lekang oleh kondisi fisiknya.

Kehadiran keluarga menjadi penopang penting, bukan hanya secara fisik tetapi juga emosional, dalam menjalani rangkaian ibadah haji yang panjang dan melelahkan. Di balik ketegaran yang ia tunjukkan, Saifuddin menyimpan harapan sederhana namun mendalam: ingin kembali melihat.

Ia mengenang bagaimana penglihatannya perlahan memudar sejak masa sekolah. “Waktu SMP mulai sakit. Rasanya seperti tertusuk jarum, lalu bengkak. Tahun 1985 sempat berobat ke dokter mata di Makassar, tapi lama-lama hilang penglihatan,” kenangnya.

Kini, di perjalanan hajinya, doa itu kembali ia panjatkan. Bukan hanya untuk kesempurnaan ibadah, tetapi juga untuk kemungkinan melihat kembali dunia yang telah lama ia tinggalkan. “Doanya berharap mata bisa sembuh,” ujarnya pelan.

Kisah Saifuddin adalah potret keteguhan iman yang melampaui keterbatasan fisik. Dalam gelap yang ia jalani selama puluhan tahun, ia justru menemukan cahaya harapan yang membawanya semakin dekat ke Baitullah.

Di tengah jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia, langkah Saifuddin mungkin tampak sederhana. Namun di baliknya, tersimpan perjalanan panjang penuh kesabaran, pengorbanan, dan keyakinan.

Perjalanannya menjadi pengingat: bahwa panggilan haji bukan hanya soal kemampuan fisik, tetapi tentang ketulusan hati dan keteguhan untuk terus melangkah meski tanpa cahaya penglihatan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....