Dengan Kursi Roda, Kasma Wujudkan Impian Berhaji

  • 03 Mei 2026 10:47 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Di antara ratusan jemaah yang bersiap berangkat ke Tanah Suci dari Embarkasi Makassar, terselip kisah perjuangan yang menggetarkan hati. Adalah Kasma Muskin Nusi, jemaah asal Sinjai, yang akhirnya bisa menunaikan ibadah haji setelah dua kali tertunda akibat kondisi kesehatan.

Perempuan yang tergabung dalam Kloter 17 ini sejatinya sudah dijadwalkan berangkat sejak 2023. Namun takdir menguji kesabarannya. Penyakit gula yang dideritanya membuat keberangkatan itu harus ditunda. “Harusnya tiga tahun lalu berangkat,” ucapnya pelan saat ditemui di Asrama Haji Sudiang, Sabtu, 2 Mei 2026 sore.

Harapan sempat kembali muncul pada 2024. Namun, kondisi kesehatannya justru memburuk. Luka pada kakinya semakin parah hingga akhirnya ia harus menjalani amputasi sampai ke bagian paha. Tak hanya itu, tangan kanannya pun mengalami pelemahan, membuatnya kini harus beraktivitas menggunakan kursi roda. “Karena luka di kaki bernanah sampai ke lutut, akhirnya di amputasi,” ungkapnya, tanpa berusaha menutupi kenyataan pahit yang ia jalani.

Namun di balik keterbatasan fisik, semangatnya tak pernah surut. Bagi Kasma, perjalanan haji bukan sekadar perjalanan tubuh, melainkan panggilan hati yang telah ia tunggu sejak mendaftar pada 2011. Kini, di usia yang tak lagi muda dan dengan kondisi yang serba terbatas, ia tetap melangkah—atau lebih tepatnya, mengayuh harapan dari kursi roda—menuju Tanah Suci.

Dalam perjalanan ini, ia tidak sendiri. Sang anak setia mendampingi, menjadi tangan yang menguatkan sekaligus tempat bersandar. “Doanya banyak, salah satunya bahagia terus sama anak,” tuturnya, dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

Sebelum sakit, Kasma adalah seorang penjual pakaian yang aktif bekerja. Namun setelah amputasi, ia harus berhenti. Hidupnya berubah, dari yang sebelumnya mandiri menjadi bergantung pada orang lain. Meski demikian, ia tidak menyerah pada keadaan. Baginya, kesempatan berangkat haji tahun ini adalah anugerah yang tak ternilai—sebuah jawaban dari doa panjang yang tak pernah putus.

Di tengah keterbatasan, Kasma mengajarkan arti keteguhan. Bahwa iman tidak diukur dari kuatnya tubuh, melainkan dari kuatnya hati dalam menghadapi ujian. Perjalanannya menuju Tanah Suci menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk memenuhi panggilan Ilahi. Dan bagi Kasma, waktu itu akhirnya tiba—setelah kesabaran panjang, luka, dan air mata. Kini, ia berangkat dengan satu harapan sederhana: menyempurnakan ibadah, dan pulang membawa ketenangan hati yang selama ini ia perjuangkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....