Air Mata dan Doa di Balik Keberangkatan Haji, Afdhalul Khair
- 03 Mei 2026 10:21 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Ditengah ramainya penerimaan jemaah haji kloter 16 Embarkasi Makassar, suasana Aula Arafah, Asrama Haji Sudiang, menyimpan satu kisah yang begitu menyentuh. Seorang pemuda tampak duduk tenang di kursi hijau tosca, dengan tulisan “Karom 6” di sandarannya Ketua Rombongan 6. Namanya Afdhalul Khair. Usianya baru 18 tahun. Senyumnya hangat, namun matanya menyimpan cerita panjang tentang kehilangan dan keteguhan hati.
Pemuda asal Limbung, Kabupaten Gowa ini tak pernah membayangkan akan berangkat ke Tanah Suci secepat ini. Perjalanan haji itu sejatinya milik sang ayah, Abd. Syukur, yang telah lebih dulu mendaftar. Namun takdir berkata lain. Pada Oktober 2025, sang ayah berpulang. Dalam duka itu, secercah harapan datang. Kebijakan pemerintah memungkinkan porsi haji dialihkan kepada anggota keluarga. Dua minggu setelah kepergian ayahnya, Afdhalul menerima kabar bahwa ia bisa berangkat menggantikan. “Senang, karena bisa berangkat di usia muda. Tapi sedih juga, seharusnya bapak yang ada di posisi ini. Saya hanya menggantikan,” ujarnya lirih Sabtu, 2 Mei 2026.
Kesedihan itu belum usai. Saat bersiap menunaikan ibadah haji, cobaan kembali datang. Ibunya, Hawani, meninggal dunia pada 15 April 2026 setelah sakit. Dalam hitungan bulan, Afdhalul kehilangan kedua orang tuanya. Kini, ia menjalani hidup bersama neneknya, Hj. Bulang. Di usia yang begitu muda, ia harus menapaki kehidupan dengan kehilangan yang begitu dalam.
Namun di balik luka, Afdhalul memilih untuk tetap tegar. Baginya, perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar ibadah, melainkan perjalanan hati yang sangat personal. “Saat sampai di sana, hal pertama yang akan saya lakukan adalah mendoakan bapak dan ibu,” katanya mantap. “Karena tanpa mereka, saya tidak mungkin bisa berangkat tahun ini.”
Tak hanya itu, Afdhalul juga mengemban amanah sebagai Ketua Rombongan. Sebuah tanggung jawab besar yang sempat membuatnya ragu, mengingat usianya yang masih muda dibandingkan jemaah lain yang lebih berpengalaman. “Sebagai ketua rombongan, tentu tanggung jawabnya besar. Tapi kalau kita sudah dipilih, berarti kita yang terbaik menurut yang memilih,” ucapnya penuh keyakinan.
Persiapan yang ia miliki pun terbilang singkat. Di tengah kesibukan menemani ibunya di rumah sakit, ia hanya memiliki waktu sekitar dua minggu untuk mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun perlengkapan. Langkah Afdhalul menuju Tanah Suci mungkin ia tempuh seorang diri. Namun, doa dan cinta kedua orang tuanya akan selalu menyertainya. Di setiap langkah thawaf, di setiap doa yang ia panjatkan, ada harapan yang terangkai tentang rindu yang tak lagi bisa dipeluk, namun akan selalu hidup dalam hati.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....