Mengenal Busana Talili dan Ciput yang Ikonik Haji Asal Sulsel

  • 26 Apr 2026 11:05 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Kepulangan jemaah haji asal Sulawesi Selatan selalu menjadi pemandangan menarik di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin maupun di Asrama Haji Sudiang. Hal ini berbeda dengan daerah lain. Untuk jemaah Sulawesi Selatan dikenal dengan busana khas yang mencolok dan penuh aksesoris sebagai penanda identitas sosial dan keberhasilan menunaikan rukun Islam kelima.

Keunikan yang paling kentara terletak pada transformasi pakaian yang dikenakan jemaah perempuan saat tiba di tanah air, ketika saat berangkat jemaah mengenakan pakaian biasa namun saat pulang tampil dengan busana berlapis-lapis. "Yang uniknya itu pemberangkatannya sama pulangnya. Kalau Jawa, yang dipakai pergi itu yang dipakai pulang. Kalau Sulawesi tidak, itu bisa menandakan bahwa orang Sulawesi itu bermodis,” jelas Ayu selaku narasumber di acara Ikat’te Pro 4 RRI Makassar Sabtu, 25 April 2026.

Disebutkan, salah satu aksesoris unik dalam busana haji perempuan Sulawesi Selatan pada penggunaan Talili dan Misbah atau penutup kepala sering kali digunakan dengan berbagai hiasan yang mewah dan elegan. "Ada namanya Talili, itu kudung yang disematkan baru dipasang itu misbah. Di dalamnya ada lagi yang namanya cipuk-cipuk," jelas Ibu Ayu.

Penggunaan perhiasan emas juga menjadi bagian tradisi unik Haji di Sulsel, jemaah perempuan kerap tampil gunakan kalung dan gelang yang mencolok sebagai simbol rasa syukur dan kebahagiaan. Hartati Dg. Nurung yang juga hadir dalam dialog tersebut menambahkan bahwa penampilan tersebut menyerupai pengantin.

"Karena kalau di luar itu cantik sekali seperti pengantin. Itu menjadi ciri khasnya, emasnya, gaunnya,” ungkapnya.

Dijelaskan, jemaah biasanya sudah mempersiapkan busana terbaik di dalam pesawat atau sesampainya di bandara agar terlihat berbeda saat disambut keluarga. "Pas pulangnya subhanallah, bajunya paling mewah saat turun dari pesawat, warnanya mencolok," ujar Hartati.

Anggota FKP RRI Makassar ini mengungkapkan, tradisi ini tidak hanya sekadar soal estetika, akan tetapi berkaitan dengan aroma yang ditinggalkan oleh para jemaah. Penggunaan parfum yang kuat menjadi ciri khas tersendiri yang membuat kehadiran mereka langsung terasa oleh para penjemput.

"Parfumnya itu satu kilo setengah, tercium sekali. Itu ciri khasnya jemaah kita saat pulang," candanya.

Menurutnya, tradisi haji yang ada di Sulawesi Selatan ini perlu apresiasi dan tidak menjadi sebuah hal tabu terlebih mengkaitkan dengan aturan agama. Pasalnya, tradisi ini tidak memiliki hubungan dengan aturan agama jadi perlu memahami tradisi yang sudah ada sejak dulu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....