Dari Gerobak Bubur ke Tanah Suci

  • 07 Jul 2025 21:49 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar : Di bawah langit pagi Madinah yang hangat, pesawat Garuda Indonesia GA 1436 bersiap lepas landas. Di dalamnya, Hj. Suci Novikana atau yang lebih akrab disapa Cici, memegang tangan ibunya erat sebuah genggaman yang membawa banyak cerita. Hari itu, Minggu (6/7), menjadi momen pamit dari Tanah Suci yang telah mereka tempati selama lebih dari 40 hari.

Nama Hj. Cici sempat viral beberapa waktu lalu. Bukan karena sensasi, melainkan kisah sederhana yang menyentuh: seorang penjual bubur dari Pomala, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, yang berangkat haji mendampingi ibunda tercintanya, Hj. Siti Nurbaja (69). Ia kerap membagikan potongan-potongan momen penuh makna di akun Facebook-nya, “Argo Bubur Pomala”. Di sanalah, netizen mengikuti perjalanan rohaninya dengan mata yang haru.

“Setiap momen di Tanah Suci bagi saya sangat berharga,” ucapnya dalam sambungan telepon kepada tim Humas PPIH Debarkasi Makassar. “Saya ke sini karena ibunda saya, dan saya percaya, ini cara Allah menunjukkan jalan untuk lebih dekat dan berbakti kepada orang tua.”ucapnya.

Di balik wajah yang selalu tampak tegar, Hj. Cici menyimpan kisah perjuangan. Sebagai tulang punggung keluarga, kesehariannya dihabiskan mendorong gerobak bubur keliling Pomala. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa suatu hari akan melihat Ka'bah secara langsung apalagi mendampingi ibunya yang memiliki keterbatasan fisik menunaikan ibadah haji.

Namun tahun ini menjadi nyata. Dari Tawaf hingga melontar jumrah di Mina, dari wukuf di Arafah hingga shalat di Raudhah Masjid Nabawi—semua ia lewati sambil mendorong kursi roda sang ibu. Tak sedikit air mata tumpah di tiap langkah ibadah yang mereka jalani bersama.

“Yang paling berat adalah Tawaf Wada, saat harus benar-benar meninggalkan Makkah. Rasanya seperti meninggalkan rumah kedua,” ujarnya dengan suara tertahan.

Meski melelahkan, Hj. Cici tak pernah merasa sendiri. Ia mengapresiasi layanan yang diberikan petugas haji Indonesia, mulai dari bantuan mobilitas hingga pendampingan spiritual. Baginya, ini bukan hanya perjalanan ibadah, tapi juga pelajaran hidup tentang sabar, syukur, dan cinta seorang anak kepada orang tuanya.

Kini, pesawat yang membawanya pulang dijadwalkan mendarat di Makassar pada Senin dini hari (7/7/2025). Di sana, mungkin tak ada karpet merah atau sorotan kamera besar, tapi ada satu hal yang pasti: sepasang hati yang telah menjalani ibadah puncak dengan penuh cinta dan pengorbanan akan kembali ke tanah air lebih utuh, lebih tenang, dan lebih kuat.(*)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....