Berawal dari Nongkrong dan Jamming, Prakarsa Bawa Cerita Jalan Tupai ke Album

  • 02 Sep 2026 14:26 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Tidak semua album lahir dari studio megah atau proses produksi yang panjang sejak awal. Bagi Prakarsa Band, album perdana Tupai Terkurung berawal dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: nongkrong, bertukar cerita, dan jamming bersama di Jalan Tupai, Makassar.

Cerita dari ruang pertemanan itu kemudian berkembang menjadi tujuh lagu yang terangkum dalam album Tupai Terkurung, yang resmi dirilis pada 7 Juni 2026. Perjalanan tersebut mencapai salah satu titik penting ketika Prakarsa menggelar Showcase Malam Pertunjukan Album Perdana Tupai Terkurung di Lotus Bajiminasa, Makassar, Sabtu, 30 Agustus 2026.

Dikemas dalam format intimate showcase, Prakarsa membawakan seluruh materi album secara berurutan. “Ambil Kendali” menjadi pembuka, disusul “Membabi Buta”, “Mama Tersenyumlah”, “Tupai Terkurung”, “5 Desember”, “Belasungkawa”, dan “Cinta Mengudara” sebagai penutup.

Bukan sekadar pertunjukan untuk memperkenalkan album, malam itu menjadi semacam pertemuan kembali antara Prakarsa dan orang-orang yang mengikuti perjalanan mereka sejak awal. Suasana semakin hidup ketika penonton ikut menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan.

“Mama Tersenyumlah” dan “Tupai Terkurung” menjadi dua lagu yang mendapat respons sing-along paling kuat. Kepada RRI Makassar, bagi para personel, momen tersebut terasa spesial karena karya yang sebelumnya lahir dari obrolan dan jamming di Jalan Tupai akhirnya dapat dimainkan secara langsung di hadapan orang-orang terdekat.

“Tupai Terkurung” sendiri membawa cerita tentang perasaan terkurung yang dialami anak muda—mulai dari tuntutan dan ekspektasi, kondisi yang tidak selalu sesuai keinginan, hingga pergulatan dengan pikiran sendiri.

Namun, Prakarsa memilih menjadikan keresahan tersebut bukan sebagai akhir cerita. Lewat tujuh lagu di dalam album, mereka menawarkan gagasan bahwa meski seseorang merasa terkurung, masih ada pilihan untuk mengambil kembali kendali.

Proses produksinya pun dilakukan secara independen. Prakarsa mengerjakan album bersama support system terdekat mereka di Makassar, menjadikan karya tersebut sebagai representasi perjalanan dan lingkungan yang membentuk mereka.

Prakarsa Band kini terdiri atas Bowo (vokal), Fatur (gitar), Romeo (bass), Appy (drum), dan Ibe (keyboard). Showcase turut dihadiri Azrif Hariri, Owner Sulawesi Youth Festival dan PIKO Festival, serta Achmad Nirwan, pengamat skena musik nasional, Owner Doubleacademy dan Nadavana Merch.

Usai pertunjukan, rasa lega dan haru menjadi kesan utama para personel. Mereka bukan hanya baru saja menyelesaikan sebuah konser, tetapi juga menutup satu bab perjalanan yang dimulai dari tongkrongan di Jalan Tupai. Bab berikutnya sudah disiapkan. Prakarsa berencana melanjutkan perjalanan Tupai Terkurung melalui perilisan music video, tur ke sejumlah kota di Sulawesi, serta persiapan menuju panggung festival.

Dari jamming sederhana di Jalan Tupai, Prakarsa kini mulai membawa tujuh cerita mereka melangkah lebih jauh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....