Tradisi Panjat Pinang Punya Sejarah sejak Era Kolonial

  • 13 Agt 2026 07:26 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Momen peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia selalu diwarnai dengan berbagai perlombaan tradisional yang meriah, salah satunya adalah panjat pinang. Perlombaan tradisional yang sangat populer ini digelar sebagai bagian dari acara mengisi dan menyemarakkan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, menjadi daya tarik utama yang menghibur masyarakat di berbagai pelosok nusantara.

Dikutip dari rangkuman di wikipedia, Tata cara permainan panjat pinang diawali dengan persiapan khusus yang dilakukan oleh panitia perlombaan. Sebuah batang pohon pinang atau bambu tinggi yang sudah dikuliti hingga bersih disiapkan di area terbuka, kemudian permukaannya dilumuri dengan cairan pelicin atau pelumas. Di bagian puncak pohon tersebut, panitia menggantungkan berbagai macam hadiah menarik untuk diperebutkan oleh para peserta.

Dalam pelaksanaan lombanya, para peserta dituntut untuk bekerja sama memanjat batang pohon yang sangat licin tersebut demi menggapai hadiah di atasnya. Karena tingginya pohon dan tebalnya lapisan pelicin, para peserta berlomba mendapatkan hadiah dengan memanjat batang pohon tersebut, yang pada umumnya mengandalkan strategi beregu dan saling menopang satu sama lain agar ada anggota tim yang berhasil mencapai puncak.

Di balik kemeriahannya sebagai ikon perayaan Kemerdekaan RI hari ini, perlombaan panjat pinang sebenarnya memiliki akar sejarah yang panjang sejak zaman penjajahan Belanda. Pada era kolonial tersebut, orang-orang Belanda kerap menyelenggarakan lomba panjat pinang ketika sedang mengadakan acara-acara besar atau hajatan, seperti perayaan pesta pernikahan dan syukuran lainnya.

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda itu, orang-orang pribumilah yang menjadi peserta dalam perlombaan panjat pinang tersebut. Kaum pribumi bersaing ketat memanjat pohon licin demi mendapatkan hadiah dan barang-barang yang digantungkan di atasnya oleh para penyelenggara Belanda.

Menariknya, tradisi panjat pinang tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga sangat populer dalam kebudayaan Tionghoa, khususnya di kawasan Fujian, Guangdong, dan Taiwan. Prosesi ini berkaitan erat dengan perayaan Festival Hantu, yang berkembang pesat karena didukung kondisi geografis kawasan tersebut yang beriklim sub-tropis sehingga memungkinkan tanaman pinang atau kelapa tumbuh dan hidup subur.

Berdasarkan catatan sejarah, permainan ini pertama kali tercatat pada masa Dinasti Ming dan lumrah disebut sebagai qiang-gu. Namun, pada era Dinasti Qing, permainan panjat pinang ini sempat dilarang oleh pemerintah setempat karena sering menimbulkan korban jiwa. Sewaktu Taiwan berada di bawah pendudukan Jepang, tradisi ini mulai dipraktikkan kembali di beberapa tempat dan terus dilestarikan sebagai permainan tradisional hingga saat ini.

Meskipun tata cara permainannya secara umum sama—dilakukan secara beregu dengan banyak hadiah digantungkan di atas—panjat pinang di Taiwan telah mengalami evolusi bentuk yang unik. Ketinggian yang harus dipanjat bukan lagi sekadar sebatang pohon pinang biasa, melainkan telah berkembang menjadi sebuah bangunan konstruksi dari kayu dan pohon pinang bertingkat yang puncaknya bisa mencapai setinggi 3 hingga 4 lantai gedung, di mana setiap regu harus memanjat sampai ke puncak tertinggi untuk menurunkan gulungan merah demi mengklaim gelar juara pertama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....