Raffi Ahmad Promosikan Film Animasi “Pelangi di Mars” di Makassar
- 19 Mar 2026 21:07 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Kehadiran Raffi Ahmad di Makassar menjadi sorotan publik, terutama dalam rangka memberikan dukungan terhadap film animasi live action Pelangi di Mars yang tengah menjadi perbincangan luas di kalangan pecinta film tanah air. Kunjungan Raffi juga menandai dukungan nyata terhadap perkembangan industri kreatif, khususnya perfilman Indonesia yang kini semakin berani bereksperimen melalui proyek seperti “Pelangi di Mars”, baik dari sisi teknologi maupun kekuatan cerita yang diangkat.
Ia datang bersama dengan sutradara, produser serta para pengisi suara dalam film “Pelangi di Mars”. Kehadiran mereka sekaligus menyapa penonton secara langsung di studio XXI Nipah Mal, Kamis, 19 Maret 2026, yang disambut antusias oleh masyarakat. Raffi Ahmad menegaskan bahwa kehadirannya di Makassar merupakan bentuk dukungan terhadap industri kreatif, khususnya generasi muda dan pekerja seni yang terus berkembang melalui karya seperti “Pelangi di Mars”.
Dalam kapasitasnya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, ia melihat film “Pelangi di Mars” sebagai contoh inovasi yang patut diapresiasi dalam industri perfilman nasional. “Saya juga mewakili istri saya, sebab ada keterlibatannya dalam proyek ini yang turut ambil bagian dalam produksi,” tuturnya.
| Baca juga: Film Super Mario Galaxy Tembus US$1 Miliar |
Raffi mengaku senang bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat Makassar dan berharap “Pelangi di Mars” dapat diterima dengan baik oleh publik, terutama sebagai tontonan keluarga. “Momentum Lebaran dinilai menjadi waktu strategis bagi perilisan film ini. Di tengah meningkatnya minat masyarakat untuk menonton bersama keluarga,” ucapnya.
Film “Pelangi di Mars” kata dia, hadir sebagai alternatif tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat pesan inspiratif yang relevan dengan nilai kehidupan masyarakat.
Produser film, Dendi Reynando mengungkapkan bahwa kekuatan utama “Pelangi di Mars” tidak hanya terletak pada visual, tetapi juga pada cerita yang diangkat dari inspirasi nyata yang kuat. “Salah satu tokoh penting dalam film ini adalah sosok “ibu” yang terinspirasi dari figur perempuan Indonesia bernama Kartini Damono,” ucapnya.
| Baca juga: Toy Story 5 Gandeng Taylor Swift |
Dalam cerita “Pelangi di Mars”, karakter tersebut diwujudkan melalui sosok Ibu Kaswi, yang menjadi simbol kasih sayang, perjuangan, dan keteguhan seorang ibu dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. “Figur ini disebut-sebut pernah menjadi bagian dari sejarah dunia penerbangan luar angkasa pada tahun 1986, sebuah latar yang memberikan dimensi unik pada narasi film ini,” ungkapnya.
Kehadiran karakter berbasis tokoh nyata ini dalam “Pelangi di Mars” menjadi elemen emosional yang kuat. Penonton tidak hanya diajak menikmati visual futuristik, tetapi juga diajak merenungi kisah inspiratif dari sosok Indonesia yang selama ini jarang terekspos.
Selain itu, pihak produksi juga sengaja menyisipkan sejumlah petunjuk atau “clue” dalam alur cerita “Pelangi di Mars” untuk membangun rasa penasaran penonton. “Hal ini kami lakukan untuk membangun rasa penasaran penonton, termasuk kemungkinan adanya sekuel di masa mendatang,” tuturnya. Strategi tersebut menunjukkan bahwa “Pelangi di Mars” tidak hanya dirancang sebagai tontonan tunggal, tetapi juga sebagai awal dari semesta cerita yang lebih luas di industri film nasional.
Dari sisi teknis, “Pelangi di Mars” mengandalkan teknologi mutakhir bernama Studio XR Production. Teknologi ini memungkinkan proses pengambilan gambar dilakukan di studio dengan latar virtual yang realistis, sehingga menciptakan dunia visual yang luas tanpa harus berpindah lokasi secara fisik. Penggunaan teknologi ini menjadi langkah maju bagi industri film Indonesia. Melalui “Pelangi di Mars”, sineas lokal mulai menunjukkan kemampuan dalam mengadopsi standar produksi global yang selama ini identik dengan industri perfilman Hollywood.
Proses syuting film “Pelangi di Mars” sendiri berlangsung selama dua hingga tiga minggu di Jakarta. Meski relatif singkat, proses tersebut didukung oleh persiapan panjang dan matang, terutama dalam perencanaan visual berbasis teknologi. Film “Pelangi di Mars” diketahui telah melalui proses pengembangan selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang panjang ini mencerminkan keseriusan tim produksi dalam menghadirkan karya yang tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga memiliki kedalaman cerita.
Sutradara film, Upie Guava, menjelaskan bahwa penggunaan teknologi XR dalam “Pelangi di Mars” memberikan tantangan tersendiri bagi para pemain. Mereka harus berakting di ruang yang sebagian besar kosong, sambil membayangkan lingkungan digital yang nantinya akan ditambahkan dalam tahap pascaproduksi.
Namun, tantangan tersebut justru menjadi pengalaman baru yang memperkaya kemampuan para aktor dalam mengeksplorasi peran mereka di film “Pelangi di Mars”. “Beberapa pemain bahkan mengaku proses ini terasa seperti memasuki dunia imajinasi yang berbeda dari metode syuting konvensional,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....