Istigfar jelang Berbuka, Detoksifikasi Batin dan Penguat Doa
- 25 Feb 2026 16:07 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Menjelang waktu berbuka puasa, kondisi fisik seseorang umumnya berada pada titik lemah akibat rasa lapar dan dahaga. Namun secara spiritual, momen tersebut justru dinilai sebagai fase kejernihan jiwa yang tinggi.
Pada waktu inilah istigfar memiliki makna yang lebih mendalam, bukan sekadar ucapan lisan, tetapi sebagai proses pembersihan batin. Dalam khazanah tasawuf, istigfar dipahami sebagai bentuk perendahan diri di hadapan Allah SWT.
Saat energi fisik melemah, pengakuan atas keterbatasan dan kesalahan diri menjadi sarana meruntuhkan ego serta kesombongan. Proses ini diyakini membuka ruang bagi kedamaian batin sebelum memasuki waktu berbuka.
Secara psikologis, istigfar menjelang berbuka juga berfungsi sebagai jeda kesadaran atau mindfulness. Di tengah kesibukan menyiapkan hidangan, istigfar membantu mengembalikan fokus pada hakikat puasa sebagai ibadah penghambaan.
Dengan demikian, seseorang tidak terjebak pada pelampiasan nafsu saat berbuka, melainkan memasuki waktu makan dengan rasa syukur dan kontrol diri. Dalam literatur klasik seperti Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, dijelaskan bahwa adab berdoa dimulai dengan memohon ampun sebelum menyampaikan permintaan.
Istigfar diibaratkan sebagai upaya membersihkan wadah sebelum diisi dengan air yang jernih. Selain itu, dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi disebutkan bahwa terdapat tiga golongan yang doanya tidak tertolak, salah satunya adalah orang yang berpuasa hingga waktu berbuka.
Hal ini menguatkan keyakinan bahwa detik-detik menjelang berbuka merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa. Lebih jauh, istigfar pada akhir waktu puasa juga menjadi bentuk evaluasi diri atas kualitas ibadah yang telah dijalani sepanjang hari.
Kesadaran bahwa puasa mungkin belum sempurna mendorong seseorang untuk memohon penyempurnaan melalui rahmat dan ampunan Allah SWT. Dengan menjadikan istigfar sebagai rutinitas menjelang berbuka, nilai introspeksi dan sikap pemaaf diharapkan tumbuh dalam diri individu.
Keberkahan puasa pun tidak hanya dirasakan secara personal, tetapi juga berdampak pada keharmonisan sosial setelah Ramadhan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....