Daya Tarik Drakor bagi Penonton di Indonesia

  • 14 Nov 2025 10:52 WIB
  •  Makassar

KBRN,Makassar: Pada awalnya, drama Korea (drakor) mulai dikenal secara luas di Indonesia sekitar akhir 1990-an dan awal 2000-an, terutama melalui VCD bajakan yang dijual di toko-toko lokal. Judul-judul seperti Autumn in My Heart (Endless Love) menjadi pintu gerbang demam Drakor di Tanah Air. Tak lama kemudian, stasiun TV nasional mulai menayangkan drakor secara reguler, dan serial seperti Winter Sonata, Dae Jang Geum, serta Full House menyita perhatian pemirsa lokal dengan rating yang tinggi.

Seiring waktu, industri drama Korea sendiri berkembang pesat di negaranya. Dikutip dari laman wikipedia sejarah produksi drakor bermula sejak tahun 1950-an, tetapi baru pada era 1990-an mulai muncul berbagai genre seperti komedi romantis, melodrama, dan cerita kontemporer lainnya. Pemerintah Korea Selatan juga turut berperan dalam pengembangan industri ini melalui dukungan infrastruktur dan persaingan antar media penyiaran, yang membuka jalan bagi ekspor budaya Korea melalui drama. Selain itu, kemunculan platform streaming seperti Netflix dan lainnya membuat drakor semakin mudah diakses oleh penonton internasional, termasuk di Indonesia.

Lalu, mengapa orang Indonesia begitu terpikat oleh drakor? Menurut survei dari JakPat yang dilakukan pada April 2025, sebanyak 51 % responden Indonesia mengaku suka menonton drama Korea. Alasan utama adalah alur cerita yang menarik (82 % responden) dan karakter yang kuat serta pemeran yang menarik. Faktor-faktor ini menciptakan pengalaman menonton yang emosional dan mendalam, yang tidak hanya sekedar hiburan ringan.

Selain itu, survei juga menunjukkan bahwa penonton drakor di Indonesia memiliki karakteristik yang cukup jelas menurut data GoodStatics, mayoritas penonton adalah perempuan (sekitar 68 %) dan kelompok usia utama berada di antara 20-24 tahun (22 %) dan 25-29 tahun (20 %), yang berarti dominan dari generasi Z dan milenial. Sementara itu, durasi menonton per sesi juga menunjukkan intensitas yang cukup tinggi; misalnya, dalam survei JakPat 2025, 47 % responden menyebutkan bahwa mereka menonton selama 1,5 – 3 jam dalam satu sesi, 26 % kurang dari 1,5 jam, dan 8 % lebih dari 5 jam. Data ini menjelaskan bahwa selain daya tarik cerita, aspek “waktu luang” dan budaya konsumsi konten juga mendukung popularitas drakor di Indonesia.

Analisis akademis menambahkan bahwa ada kedekatan budaya antara Korea dan Indonesia yang turut memperkuat daya tarik drakor. Teori cultural proximity (oleh Joseph Straubhaar) menjelaskan bahwa audiens cenderung menyukai produk media yang memiliki elemen budaya mirip dengan mereka. Penelitian menunjukkan terdapat kemiripan dalam struktur keluarga (keluarga besar), norma sosial, rasa hormat kepada orang tua, bahkan kesamaan dalam pola konsumsi makanan pokok seperti nasi dengan lauk.

Pengaruh drakor di Indonesia juga merambat ke aspek gaya hidup. Analisis tentang dampak gelombang budaya Korea (K-Wave) di Indonesia menunjukkan bahwa drakor mendorong minat pada kebudayaan Korea secara lebih luas mulai dari fashion, kosmetik, bahasa, hingga pariwisata. Remaja Indonesia, misalnya, banyak mengikuti tren kecantikan ala Korea atau bahkan belajar bahasa Korea agar bisa lebih menikmati dialog dan nuansa drama. Demam drakor ini telah menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....