Perjalanan Seorang Arsitek Ibukota Memahami Rumah Tua di Bitombang Selayar

  • 14 Sep 2026 17:00 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Selayar — Pengalaman 15 tahun sebagai arsitek profesional di Jakarta membawa Arya Poetra pada cara pandang baru tentang arsitektur dan kehidupan kampung. Selama berkarier di Jakarta, Arya terlibat dalam berbagai proyek, mulai rumah tinggal, hotel, apartemen hingga bandara.

Pengalaman tersebut membuatnya memahami bagaimana gagasan diterjemahkan menjadi bangunan serta menyesuaikan ruang dengan kebutuhan manusia. Namun, perjumpaannya dengan Perkampungan Tua Bitombang, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, membuat Arya melihat sisi lain dari arsitektur.

Awalnya, Arya datang ke Selayar karena pekerjaan. Intensitas kunjungan ke Bitombang kemudian membuatnya tertarik dengan kehidupan masyarakat yang dinilai lebih dekat dengan alam. “Di Selayar, saya justru merasa perlu belajar kembali tentang bagaimana manusia hidup bersama alam,” kata Arya.

Dari pengalaman tersebut, Arya memutuskan menetap di Selayar dan membentuk Nalarupa Cipta Nirmana bersama timnya. Praktik arsitektur tersebut dikembangkan dengan pendekatan yang berangkat dari pengetahuan dan kehidupan masyarakat setempat.

Menurut Arya, kampung tidak dapat dipandang sebagai kota yang belum selesai. Setiap kampung memiliki sistem sosial, tradisi, material, cara membangun dan hubungan dengan alam yang terbentuk selama beberapa generasi. “Kampung bukan kota yang belum selesai. Kampung memiliki sistem dan pengetahuannya sendiri,” ujarnya.

Ketertarikan Arya terhadap Bitombang salah satunya muncul dari keberadaan rumah-rumah tua yang mampu bertahan hingga ratusan tahun. Rumah tradisional tersebut berdiri di atas batu besar dengan kaki-kaki kayu yang bengkok dan dapat mencapai ketinggian sekitar 10 meter.

Bagi Arya sebagai arsitek, kondisi tersebut menjadi objek pembelajaran mengenai struktur, kontur dan kemampuan bangunan beradaptasi dengan lingkungan. “Rumah Bitombang mengajarkan kami tentang bagaimana bangunan beradaptasi dengan tempat,” tuturnya.

Dalam proses penelitian, Nalarupa bersama Rumah Kebun Project dan Tsurayya Rimba Wastra berdialog dengan masyarakat setempat. Percakapan dengan mataguri, kepala lingkungan, dan warga Bitombang turut membuka pengetahuan mengenai rantai tradisi konstruksi yang masih bertahan.

Arya menilai bentuk kampung dan tata ruang Bitombang berkaitan erat dengan iklim, material, kondisi lingkungan, kontur, budaya hingga kebutuhan keluarga. Pembelajaran tersebut kemudian mengubah cara Arya memandang profesinya sebagai arsitek. Menurutnya, arsitektur tidak semestinya hanya menyelesaikan persoalan ruang.

“Arsitektur seharusnya memberi manusia kesempatan untuk mengalami waktu secara sadar,” katanya.

Arya Poetra (dua dari kanan) bersama Nalarupa, Rumah Kebun Project dan Tsurayya Rimba Wastra berdialog dengan masyarakat setempat. (Foto : Rumah Kebun project)

Melalui Nalarupa, Arya bersama mitra berharap pengetahuan arsitektur dapat membantu Bitombang berkembang tanpa kehilangan identitas. Ia menegaskan, perkembangan kampung tidak harus menjadikannya museum, produk wisata, maupun kawasan perkotaan. “Kampung tidak harus menjadi kota untuk menjadi maju,” tegasnya.

Arya mengakui masyarakat Bitombang membutuhkan perubahan, termasuk ekonomi yang lebih baik, infrastruktur, pendidikan, teknologi dan peluang bagi generasi muda. Namun, menurutnya, perubahan tersebut tidak harus menghilangkan identitas dan kehidupan yang telah terbentuk di masyarakat.

“Kami ingin perubahan tetap berjalan, tetapi identitas dan kehidupan masyarakat tidak hilang,” ujarnya.

Arya juga berharap pengalaman dan pengetahuan arsitektur yang dimiliki dapat berkontribusi terhadap penataan kampung-kampung lain di Selayar. Ia melihat arsitektur dapat diterapkan melalui penataan ruang, peningkatan kenyamanan, pengembangan ruang publik, perbaikan fasilitas hingga penguatan potensi lokal.

“Arsitektur bukan semata tentang merancang bangunan, tetapi membaca dan memperkuat pengetahuan masyarakat,” jelasnya.

Bagi Arya, pengalaman di Bitombang menjadi bagian dari proses untuk mencari pendekatan arsitektur yang lebih kontekstual. Ia ingin arsitektur hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, bukan menggantikan kehidupan yang sudah ada.

“Pertanyaannya adalah bagaimana arsitektur membantu kampung berkembang tanpa menghilangkan kehidupannya,” pungkas Arya.

Arsitek, Arya Poetra (kanan) bersama Nalarupa dan Rumah Kebun Project, saat nmengunjungi kampung tua Bitomba Selayar. (Foto : Rumah kebun project)
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....