Dari Batuk hingga TB, CKG Membuka Jalan Kesembuhan

  • 21 Agt 2026 20:37 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID Makassar - Langkah Salmawaty tampak perlahan ketika memasuki Puskesmas Malimongan Baru, Kota Makassar. Tubuh perempuan berusia 65 tahun itu terlihat lelah.

Di sampingnya, sang anak setia menopang tubuhnya agar bisa berjalan menuju meja skrining. Sudah hampir sepekan Salmawaty harus berhadapan dengan batuk yang tidak kunjung reda.

Ia datang bukan karena ingin mencari tahu sesuatu yang besar. Ia hanya ingin keluhan yang mengganggu hari-harinya itu segera mendapatkan penanganan.

“Saya mau periksa ini, Bu. Sudah seminggu batuk,” kata Salmawaty kepada petugas skrining.

Petugas menyambutnya dengan ramah. Sebelum bertemu dokter, Salmawaty menjalani pemeriksaan awal seperti pasien lainnya.

Tekanan darahnya diperiksa. Hasilnya 130/80 mmHg. “Tensinya agak tinggi, Bu,” kata petugas.

Salmawaty mengangguk. Angka itu bukan sesuatu yang asing baginya.

“Iya, saya memang punya riwayat tekanan darah tinggi,” jawabnya.

Setelah pemeriksaan awal selesai, Salmawaty diminta menunggu nomor antrean. Ia duduk menanti dengan anak yang tetap berada di sisinya.

Tidak lama kemudian, nomor tiga dipanggil. Salmawaty masuk ke ruang pemeriksaan dokter.

Di ruangan itulah perjalanan yang semula hanya berawal dari batuk mulai mengarah pada sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya. Dokter menyarankan pemeriksaan dahak sebagai bagian dari deteksi dini tuberkulosis atau TB.

Salmawaty mengikuti pemeriksaan tersebut. Tiga hari kemudian, hasil laboratorium keluar.

Hasilnya positif TB.Kabar itu tentu membuat Salmawaty terkejut. Penyakit yang mungkin sebelumnya hanya ia kenal dari cerita orang lain, kini menjadi bagian dari kehidupannya sendiri. Namun dokter tidak membiarkannya larut dalam kekhawatiran.

Obat Tubercolusis TB

Salmawaty diberi penjelasan bahwa TB dapat disembuhkan. Pengobatan memang membutuhkan waktu panjang, tetapi peluang sembuh terbuka selama pasien disiplin mengonsumsi obat dan menyelesaikan seluruh rangkaian terapi.

Dari ruang pemeriksaan, Salmawaty kemudian memulai perjalanan pengobatan selama enam bulan. Dua bulan pertama merupakan fase intensif.

Setiap hari ia harus mengonsumsi kombinasi empat jenis obat, yakni rifampisin, isoniazid, pirazinamid dan etambutol. Setelah dua bulan, pengobatan memasuki fase lanjutan selama empat bulan dengan dua jenis obat, yaitu rifampisin dan isoniazid.

Enam bulan mungkin terdengar singkat ketika hanya disebut dalam hitungan waktu. Namun bagi pasien TB, enam bulan berarti rutinitas yang harus dijaga setiap hari.Ada obat yang harus diminum.

Ada jadwal kontrol yang harus dipatuhi. Ada pemeriksaan yang harus dijalani. Dan ada rasa lelah yang terkadang datang selama perjalanan pengobatan.

Bagi Salmawaty, dukungan keluarga menjadi bagian penting.nak yang sejak awal memapahnya ke puskesmas kini ikut memastikan pengobatan ibunya tidak terlewat. Keluarga menjadi pengingat ketika jadwal minum obat tiba.

Menjadi penyemangat ketika pengobatan terasa panjang. Dan menjadi teman ketika Salmawaty harus kembali ke fasilitas kesehatan untuk kontrol.

Perlahan, perjuangan itu menunjukkan hasil. Setelah hampir empat bulan menjalani terapi, pemeriksaan dahak ulang dilakukan.

Kali ini hasilnya membawa kabar yang jauh lebih melegakan. Salmawaty dinyatakan negatif TB berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium selama proses pengobatan.

Puskesmas bukan hanya tempat untuk mendapatkan obat ketika seseorang sudah sakit. Di sana, pemeriksaan juga menjadi bagian dari upaya menemukan penyakit sedini mungkin.

Semangat itulah yang terus didorong melalui Program Cek Kesehatan Gratis atau CKG. Di Puskesmas Andalas, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, program tersebut terus dioptimalkan.

Ada warga yang datang karena memiliki keluhan. Ada pula yang datang meskipun merasa tubuhnya baik-baik saja.

Salah satunya adalah Tini, perempuan berusia 60 tahun. Tini datang seorang diri ke Puskesmas Andalas.

Keluhannya adalah mual dan sakit di bagian ulu hati. Petugas kemudian memeriksa tekanan darahnya.Hasilnya 105/80 mmHg.

Setelah pemeriksaan awal, Tini bertemu dokter. Dokter kemudian memintanya menjalani pemeriksaan gula darah di laboratorium.

Hasil pemeriksaan menunjukkan angka 139 mg/dL dalam kondisi tidak berpuasa. Dokter menjelaskan hasil tersebut dan kemudian memberikan obat untuk mengatasi keluhan lambung yang dirasakan Tini.

Proses Pemeriksaan Pad Program CKG di Puskesmas andalas Kecamatan Wajo Makassar

Kepala Puskesmas Andalas Anwar Ganing di Makassar Jumat 21 Agustus 2026 mengatakan pemeriksaan kesehatan melalui CKG tidak harus menunggu masyarakat mengalami keluhan. “Tujuan CKG adalah mendeteksi dini penyakit, sehingga dapat mencegah kondisi menjadi lebih berat,” ujarnya.

Pemeriksaan disesuaikan dengan kategori usia dan kondisi kesehatan masing-masing peserta. Pemeriksaan dapat mencakup gula darah, kolesterol, asam urat hingga pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.

Anwar mengatakam Jika hasil pemeriksaan menemukan masalah kesehatan, pasien tidak berhenti pada tahap mengetahui hasil. Puskesmas memberikan tindak lanjut, baik berupa pengobatan maupun rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi apabila diperlukan.

“Dengan demikian, CKG tidak sekadar menghadirkan pemeriksaan gratis. Program tersebut berusaha membangun satu rangkaian pelayanan: menemukan risiko, memahami kondisi, kemudian melakukan tindakan.”

Menurut Anwar Puskesmas Andalas sendiri memiliki wilayah kerja yang cukup padat. Wilayahnya mencakup Kelurahan Melayu Baru dengan jumlah penduduk sekitar 14 ribu jiwa.

Terdapat 19 Posyandu dan sekitar 23 RW.Untuk pelaksanaan CKG, Puskesmas Andalas memiliki target sekitar 8.900 sasaran dalam satu tahun.Hingga data terakhir pada Juni 2026, sekitar 3.400 warga telah mengikuti program tersebut.

“Angka itu menunjukkan bahwa perjalanan untuk mencapai seluruh sasaran masih panjang. Karena itu, puskesmas tidak hanya menunggu. Petugas melakukan strategi jemput bola. Mereka turun ke berbagai kegiatan masyarakat, termasuk kegiatan PKK dan kegiatan warga lainnya.”

Cara tersebut dipilih karena tidak semua warga memiliki waktu atau kesempatan datang ke puskesmas hanya untuk melakukan pemeriksaan. “Kalau kita hanya menunggu warga atau pasien datang ke Puskesmas untuk melakukan CKG, tentu kurang maksimal untuk memenuhi target yang ditentukan pemerintah,” kata Kepala Puskesmas Andalas.

Setiap pasien yang datang ke puskesmas juga ditawarkan mengikuti CKG apabila belum pernah menjalani pemeriksaan. Dengan cara tersebut, kunjungan masyarakat ke puskesmas tidak hanya dimanfaatkan untuk mengatasi keluhan, tetapi sekaligus menjadi kesempatan untuk mengetahui faktor risiko kesehatan lainnya.

Namun strategi jemput bola bukan berarti tanpa hambatan. Petugas menghadapi persoalan administrasi dan pendataan. Ada warga yang membawa pulang formulir pemeriksaan sehingga proses input dan pendataan sasaran menjadi lebih sulit.

“Ada pula warga yang secara administratif masih tercatat memiliki KTP dan KK di wilayah tersebut, tetapi sudah tidak berdomisili di sana. Akibatnya, sebagian sasaran yang tercatat sulit ditemukan ketika petugas melakukan penjangkauan. Meski demikian, program tetap berjalan. Puskesmas terus mencari cara agar layanan dapat menjangkau sebanyak mungkin warga”

Upaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat juga terlihat pada 11 Agustus 2026. Hari itu, Puskesmas Andalas bekerja sama dengan Pelindo dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis melalui Program Pelindo Peduli.

Sebanyak 200 warga Kecamatan Wajo menjadi sasaran.Peserta terdiri atas 100 balita dan 100 lansia. Kegiatan berlangsung di pelataran Kantor Kecamatan Wajo dengan mengusung tema “Merdeka Sehat untuk Semua”.

Selain Puskesmas Andalas, kegiatan tersebut melibatkan Puskesmas Tarakan dan Yayasan Sustainable Impact.ID. Bagi balita, pemeriksaan kesehatan menjadi bagian penting dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan.

Sementara bagi lansia, pemeriksaan rutin menjadi penting karena kelompok usia tersebut memiliki risiko lebih besar mengalami berbagai gangguan kesehatan. Camat Wajo Ivan Kalalembang mengapresiasi kegiatan tersebut.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pelindo dan seluruh pihak yang terlibat. Kegiatan ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus membantu meningkatkan kesadaran warga mengenai pentingnya menjaga dan memeriksakan kesehatan,” kata Ivan.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah kecamatan, fasilitas pelayanan kesehatan dan pihak perusahaan perlu terus diperkuat. Bukan hanya agar kegiatan pemeriksaan dapat dilakukan, tetapi agar layanan benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Ivan berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan.Terutama bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan kemudahan dalam memperoleh pelayanan kesehatan.

Rayakan Kmeerdekaan, Pelindo Gratiskan CKG 200 Warga Kecamatan Wajo Makassar

Dari sisi Pelindo, kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar wilayah operasional. Division Head Pelayanan SDM dan Umum Pelindo Regional 4 Rinto Saiful mengatakan kegiatan pemeriksaan kesehatan tidak ingin hanya menjadi kegiatan seremonial memperingati hari kemerdekaan.

“Melalui semangat ‘Merdeka Sehat untuk Semua’, kami ingin peringatan kemerdekaan tidak hanya dirayakan secara seremonial, tetapi juga diwujudkan melalui kegiatan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” kata Rinto.

Menurutnya, kesehatan merupakan salah satu fondasi penting dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat.

Karena itu, dukungan terhadap akses pelayanan kesehatan dilakukan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau TJSL.

“Kami berharap pemeriksaan kesehatan gratis ini dapat membantu para orang tua memantau tumbuh kembang balitanya serta mendorong para lansia untuk semakin peduli terhadap kondisi kesehatan mereka,” ujar Rinto.

Di Kota Makassar, upaya memperluas akses CKG juga dilakukan oleh Dinas Kesehatan.Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar Nursaidah mengatakan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan mulai meningkat. Salah satu tandanya adalah semakin banyak instansi, perusahaan dan penyelenggara kegiatan masyarakat yang meminta pelaksanaan CKG.

“CKG ini yang harus kita maksimalkan. Dari sekitar 1,4 juta penduduk di Kota Makassar, Alhamdulillah sekarang masyarakat mulai memahami terkait apa manfaat dari CKG,” kata Nursaidah.

Menurutnya, masyarakat sebenarnya dapat memperoleh pelayanan CKG dengan datang ke fasilitas kesehatan. Namun pola pelayanan kini berkembang. Perusahaan dan instansi mulai meminta pemeriksaan dilakukan langsung di tempat mereka.

Hal tersebut menunjukkan perubahan kebutuhan masyarakat. Pelayanan kesehatan tidak lagi hanya ditunggu di dalam gedung fasilitas kesehatan. Masyarakat ingin layanan yang lebih dekat dengan tempat mereka bekerja dan beraktivitas.Dinkes Makassar pun memperkuat strategi jemput bola.

“Hari ini kami juga melakukan CKG di beberapa tempat. Jadi selain datang ke puskesmas, teman-teman Dinkes melakukan jemput bola di beberapa perkantoran atau perusahaan yang ingin mendapatkan fasilitas CKG,” ujarnya.

Secara nasional, Kementerian Kesehatan terus memperluas sekaligus memperkuat tindak lanjut program tersebut.Hingga 31 Juli 2026, sebanyak 73,8 juta penduduk telah mengikuti CKG.

Jumlah tersebut bahkan telah melampaui total capaian sepanjang 2025 yang mencapai sekitar 70 juta peserta. Namun pemerintah mengingatkan bahwa banyaknya orang yang diperiksa bukanlah tujuan akhir.

Pemeriksaan harus menghasilkan perubahan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan CKG harus dilanjutkan dengan edukasi, pengobatan, pemantauan hingga rujukan.

“Tujuan CKG bukan hanya mengecek, tetapi membuat masyarakat sehat. Setelah akses diperluas, fokus kita adalah memastikan masalah yang ditemukan langsung ditangani,” ujar Budi.

Pada 2026, tindak lanjut CKG difokuskan pada tiga faktor risiko penyakit tidak menular, yaitu hipertensi, gula darah tinggi dan kolesterol tinggi.

Ketiganya merupakan faktor risiko penting yang dapat berujung pada penyakit jantung, stroke dan gagal ginjal.

Hingga akhir Juli 2026, cakupan pemeriksaan tekanan darah dan indeks massa tubuh telah mencapai sekitar 90 persen dari sasaran.

Sementara pemeriksaan gula darah mencapai sekitar 83 persen. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Maria Endang Sumiwi mengatakan hasil skrining harus diikuti dengan tata laksana kesehatan di puskesmas.

Mulai Agustus 2026, pemerintah juga memantau data tata laksana dari sedikitnya 5.300 puskesmas sebelum diperluas secara nasional.

Artinya, seseorang yang ditemukan memiliki risiko kesehatan tidak hanya diberi tahu mengenai kondisinya. Ia harus mendapatkan pendampingan untuk menentukan langkah berikutnya.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengingatkan bahwa pola penyakit di Indonesia telah mengalami perubahan. Jika dahulu penyakit infeksi menjadi salah satu penyebab utama masalah kesehatan, kini penyakit tidak menular semakin dominan.

Masalahnya, penyakit tersebut kerap berkembang tanpa gejala yang jelas. “Orang dengan hipertensi sering tidak mengetahui dirinya hipertensi. Orang dengan diabetes juga sering tidak mengetahui dirinya diabetes,” tegas Dante.

“Karena itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan keluhan. CKG penting untuk menemukan risiko lebih awal sebelum muncul komplikasi,” lanjutnya.

Pernyataan itu menjadi penting karena banyak orang baru mencari pertolongan ketika tubuh mulai menunjukkan tanda yang mengganggu aktivitas. Padahal, ketika gejala muncul, penyakit bisa saja sudah berkembang cukup jauh.Karena itu, Dante mengajak masyarakat menjadikan pemeriksaan kesehatan sebagai kebiasaan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....