Dibalik BBM yang Selalu Tersedia, Ada Elnusa Petrofin yang Bekerja 24 Jam
- 12 Jun 2026 16:00 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Ketika sebagian masyarakat masih terlelap, deru mesin mobil tangki berkapasitas 24 kiloliter mulai mengisi jalanan Sulawesi Selatan. Di balik kemudi, para awak mobil tangki bersiap menjalankan tugas yang jarang terlihat publik, namun sangat menentukan kehidupan sehari-hari masyarakat, memastikan bahan bakar minyak (BBM) tersedia tepat waktu di SPBU, kawasan industri, hingga wilayah kepulauan dan daerah terpencil.
Di balik kelancaran distribusi energi tersebut, terdapat peran besar PT Elnusa Petrofin, perusahaan jasa hilir migas yang menjadi bagian dari keluarga besar Pertamina dan telah beroperasi sejak 1996. Area Manager Corporate Communication & Relation PT Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo, Jumat, 12 Juni 2026 menjelaskan bahwa perusahaan tidak hanya bergerak di bidang distribusi BBM, tetapi juga melayani sektor marine, perdagangan BBM industri, pengelolaan kebutuhan energi pertambangan, penyediaan chemical untuk pengeboran, hingga pembangunan infrastruktur migas seperti terminal dan tangki BBM.
“Bisnis terbesar kami adalah distribusi energi atau distribusi BBM. Selama ini masyarakat lebih mengenal kami melalui armada mobil tangki yang menyalurkan bahan bakar ke SPBU maupun berbagai sektor industri,” ujarnya saat wawancara bersama RRI Makassar.
Menembus Wilayah Sulit Demi BBM Satu Harga Bagi Elnusa Petrofin, distribusi energi bukan sekadar kegiatan logistik. Perusahaan juga menjadi bagian penting dalam mendukung Program BBM Satu Harga yang dijalankan pemerintah bersama Pertamina.
Program tersebut memungkinkan masyarakat di daerah terpencil memperoleh BBM dengan harga yang sama seperti di wilayah perkotaan, meskipun harus melewati tantangan geografis yang tidak sederhana.
“Banyak daerah di Indonesia yang sangat sulit dijangkau secara geografis. Namun melalui kerja sama pemerintah, Pertamina, dan Elnusa Petrofin, BBM tetap bisa tersedia dengan harga yang sama,” kata Putiarsa.
Di Sulawesi Selatan, sejumlah wilayah yang masuk kategori daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) di antaranya Bontocani dan Tonra di Kabupaten Bone, Kepulauan Sangkarang di Kota Makassar, hingga wilayah Liukang di Kabupaten Pangkep. Untuk menjangkau daerah-daerah tersebut, distribusi energi tidak selalu menggunakan mobil tangki. Dalam banyak kasus, pengiriman harus memanfaatkan kombinasi berbagai moda transportasi. “Kadang harus menggunakan kapal besar, kapal kecil, bahkan moda transportasi lainnya agar energi bisa sampai ke masyarakat,” jelasnya.
Komitmen menjaga pasokan energi diwujudkan melalui operasional distribusi yang berjalan selama 24 jam setiap hari.
Head of Operation PT Elnusa Petrofin Makassar, Rahmat Agung Fernandez, engungkapkan saat ini perusahaan mengoperasikan 83 unit armada mobil tangki yang melayani distribusi BBM ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan, mulai dari Makassar, Pangkep, Bone, Sinjai, Bulukumba hingga Jeneponto.Dalam sehari, volume distribusi rata-rata mencapai sekitar 3.300 kiloliter BBM.
“Distribusi tidak mengenal hari libur. Kebutuhan BBM di SPBU harus tetap terpenuhi setiap hari,” ujarnya.
Menurut Rahmat, tantangan terbesar biasanya muncul saat musim liburan panjang, Natal dan Tahun Baru, serta periode wisata ketika volume kendaraan meningkat drastis di sejumlah jalur utama.
Selain kemacetan, faktor cuaca juga menjadi perhatian serius, terutama pada musim penghujan dan gelombang tinggi yang dapat memengaruhi distribusi ke wilayah kepulauan.
Meski demikian, perusahaan telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi agar pasokan energi tetap terjaga.
Ketika Pengemudi Menjadi Garda Terdepan. Di balik armada yang hilir mudik mengangkut BBM, terdapat sosok-sosok yang menjadi garda terdepan distribusi energi nasional. Salah satunya adalah Ridwan (45), awak mobil tangki PT Elnusa Petrofin yang telah mengabdikan diri selama lebih dari 17 tahun.
Sejak bergabung pada 2009, Ridwan telah melintasi berbagai jalur distribusi di Sulawesi Selatan. Ia masih mengingat masa ketika jalur poros Camba menuju Bone belum selebar sekarang.
“Pernah harus menginap di jalan saat kemacetan terjadi di Kappang ketika proyek pembangunan jalan berlangsung,” kenangnya.
Bagi Ridwan, setiap perjalanan bukan sekadar mengemudikan kendaraan besar. Muatan yang dibawanya memiliki risiko tinggi sehingga seluruh prosedur keselamatan harus dijalankan secara disiplin. Saat bertugas, awak mobil tangki dilarang menggunakan telepon genggam maupun mendengarkan musik. Bahkan tanda-tanda kelelahan sekecil apa pun harus segera ditangani.
“Kalau mulai jenuh atau mengantuk biasanya saya mengobrol dengan rekan pendamping di dalam mobil,” katanya.
Setiap armada diawaki dua orang, yaitu pengemudi utama dan pendamping, untuk menjaga konsentrasi dan keselamatan selama perjalanan. Meski pekerjaan tersebut penuh tantangan, Ridwan mengaku bangga menjadi bagian dari rantai distribusi energi nasional.
“Kalau BBM tiba tepat waktu dan masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan energinya, itu membuat saya senang,” ujarnya.
Namun kebanggaan itu sering kali dibayar dengan pengorbanan. Saat sebagian besar masyarakat menikmati momen Lebaran bersama keluarga, para awak mobil tangki tetap bertugas di jalan. “Kalau dapat jadwal saat hari raya ya tetap harus jalan. Karena distribusi BBM tidak boleh berhenti,” katanya.
Teknologi dan Keselamatan Jadi Prioritas
Selain mengandalkan sumber daya manusia, Elnusa Petrofin juga memanfaatkan teknologi untuk menjaga keselamatan operasional. Seluruh armada dilengkapi sistem GPS, kamera CCTV, serta perangkat pemantauan yang terhubung langsung dengan pusat kontrol selama 24 jam.
Apabila sistem mendeteksi pengemudi menunjukkan tanda-tanda kelelahan, seperti menguap atau kehilangan fokus, petugas monitoring akan segera menghubungi awak kendaraan untuk beristirahat. “Kalau terlihat mengantuk, langsung ditelepon dari pusat monitoring,” ujar Ridwan.
Rahmat Agung menambahkan, seluruh awak mobil tangki juga wajib mengikuti pelatihan dan sertifikasi secara berkala, termasuk pelatihan keselamatan berkendara serta penanganan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Pengemudi baru pun tidak langsung diberikan kewenangan mengemudikan mobil tangki secara mandiri. Mereka harus melalui masa pendampingan sebelum menjadi pengemudi utama.
Di lokasi operasional Makassar, terdapat sekitar 387 awak mobil tangki yang mengoperasikan 83 armada distribusi.
Aturan keselamatan juga diterapkan secara ketat terhadap kebiasaan merokok.
“Rokok menjadi salah satu risiko terbesar dalam pekerjaan ini. Tidak ada toleransi karena menyangkut keselamatan banyak orang,” tegasnya.
Siaga Saat Bencana Melanda
Dalam situasi darurat seperti banjir, longsor, maupun bencana alam lainnya, distribusi energi menjadi tantangan tersendiri. Namun Elnusa Petrofin telah menyiapkan berbagai prosedur mitigasi agar pasokan BBM tetap tersedia bagi masyarakat.
Pasokan dapat dialihkan dari terminal BBM terdekat atau menggunakan moda transportasi alternatif apabila jalur distribusi utama terputus. “Prinsipnya, kami berusaha memastikan energi tetap tersedia bagi masyarakat. Bagaimana caranya, itu menjadi tanggung jawab kami bersama Pertamina dan pihak terkait,” kata Putiarsa.
Selain menjalankan distribusi energi, Elnusa Petrofin juga aktif melaksanakan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di berbagai wilayah operasional. Di Sulawesi, perusahaan memiliki 17 lokasi kerja yang tersebar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo.
Program yang dijalankan meliputi bidang kesehatan, pendidikan, pemberdayaan UMKM, bantuan kebencanaan, hingga program keselamatan masyarakat.
Bagi Elnusa Petrofin, energi bukan hanya komoditas yang didistribusikan, melainkan kebutuhan vital yang menopang aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat.
“BBM adalah kebutuhan vital yang menggerakkan ekonomi masyarakat. Karena itu kami berupaya memastikan energi tersedia sekaligus memberikan manfaat sosial bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi,” tutup Putiarsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....