Cahaya Ramadan di Balik Jeruji Lapas Maros
- 28 Feb 2026 16:04 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar : Ramadan tahun ini menghadirkan suasana yang berbeda di Lapas Kelas IIB Maros. Di balik tembok tinggi dan pintu besi yang terkunci rapat, bulan suci tetap datang membawa cahaya harapan bagi para warga binaan.
Bagi mereka, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ramadan juga menjadi momentum menahan rindu kepada keluarga, menahan penyesalan atas masa lalu, sekaligus belajar menerima keadaan dengan lebih lapang.
Salah satunya adalah MK. Ramadan kali ini menjadi yang kedua baginya sejak menjalani masa hukuman. Ia telah menjalani satu tahun empat bulan dari total vonis sekitar empat tahun.
MK mengakui, Ramadan pertamanya di dalam lapas terasa begitu berat. Hatinya masih dipenuhi kecemasan dan penyesalan, sehingga ibadah pun belum sepenuhnya ia jalani dengan khusyuk.
"Ramadan pertama masih berat, pikiran belum tenang,” ujarnya, Jumat, 27 Februari 2026.
Namun seiring waktu, proses pembinaan perlahan mengubah cara pandangnya. Di Ramadan kedua ini, MK merasa lebih ikhlas dan mulai menemukan makna di balik keterbatasan. Ia bahkan dipercaya untuk mengajar mengaji sesama warga binaan, sebuah peran yang memberinya rasa tanggung jawab sekaligus kepercayaan diri baru.
Perubahan serupa juga dirasakan IW, warga binaan lainnya. Ia menilai Ramadan menjadi ruang refleksi yang menghadirkan ketenangan batin. Hari-harinya kini diisi dengan pengajian, salat berjamaah, dan tadarus Al-Qur’an. Tempat yang dahulu dipandang penuh stigma, baginya justru menjadi ruang pembinaan dan perbaikan diri.
Pihak lapas pun berupaya menghadirkan suasana Ramadan yang lebih religius dan menenangkan. Kepala Lapas Kelas IIB Maros, Ali Imran, menjelaskan bahwa selama bulan suci, intensitas kegiatan keagamaan ditingkatkan. Lapas bekerja sama dengan Kementerian Agama serta Wahda Islamiyah Kabupaten Maros untuk menghadirkan program pembelajaran membaca Al-Qur’an metode dirosa bagi warga binaan dewasa.
Tak hanya itu, jadwal kunjungan keluarga selama Ramadan disesuaikan ke sore hari. Kebijakan ini memungkinkan warga binaan berbuka puasa dengan makanan tambahan dari keluarga, menghadirkan momen sederhana namun sarat makna di balik jeruji.
Di tempat ini, Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia menjadi ruang perenungan, momentum memperkuat iman, serta menumbuhkan harapan baru untuk kembali ke tengah masyarakat dengan pribadi yang lebih baik. Di balik pintu besi yang terkunci, cahaya Ramadan tetap menyala, menerangi langkah mereka menuju perubahan.