Disabilitas Netra Buktikan Kemandirian Lewat Rumah Subsidi BTN

  • 07 Feb 2026 05:54 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Keterbatasan fisik bukan penghalang untuk mandiri dan berprestasi. Hal itu dibuktikan Rizkha, seorang pegawai di Dinas Sosial Kota Makassar. 

Rizkha merupakan penyandang disabilitas Netra kategori low vision, namun tetap aktif bekerja dan berhasil memiliki rumah melalui program perumahan bersubsidi.  Rizkha (39) telah berkeluarga dan saat ini berstatus sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). 

Dalam kesehariannya, ia bekerja di Unit Rehabilitasi Anak Usia Dini Inang Matutu sebagai staf administrasi, sebagaimana tercatat secara formal di Badan Kepegawaian Negara (BKN).

“ Secara jelas memang staf administrasi, tapi pekerjaannya banyak yang non teknis,’ Ujar Rizkha. Selain tugas administrasi internal, ia juga kerap berinteraksi langsung dengan anak-anak, seperti mendongeng, membantu aktifitas harian, hingga menjaga kebersihan anak-anak yang menjalani rehabilitasi 

Sebagai penyandang disabilitas Netra low vision< Rizkha masih dapat mengenal warna, Cahaya, dan pergerakan, namun tidak dapat melihat detail kecil. Meski demikian hal tersebut tidak menghalanginya untuk bekerja secara penuh waktu. 

Rizkha mulai bekerja sebagai P3K pada tahun 2023, namun jauh sebelum itu , tepatnya pad tahun 2022, ia telah lebih dulu berhasil mengakses program pembiayaan rumah subsidi melalui Bank BTN  Proses kepemilikan rumah tersebut dilalui RIzkha dengan pendampingan dari pihak pengembang Dreamland Alexander yang berlokasi di Moncongloe. 

Seluruh proses administrasi mulai dari pemberkasan hingga verifikasi, dibantu oleh pihak developer. “Berkas saya diverifikasi, lalu ada konfirmasi langsung dari BTN, bahkan mereka sempat datang ke tempat kerja untuk memastikan,” jelasnya.

Meski prosesnya memakan waktu sekitar enam bulan, Rizkha menyebut prosedur yang dijalani sesuai dengan ketentuan dan cukup membantu, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan tetap dan penyandang disabilitas. Untuk rumah subsidi tersebut, Rizkha hanya membayar uang muka sebesar Rp 500 ribu, dengan total biaya awal sekitar Rp 18,5 juta. Saat ini, cicilan rumah yang harus dibayarkan setiap bulan berkisar Rp 1.193.000.

Keberhasilan Rizkha memiliki rumah melalui skema subsidi menjadi Gambaran konkret bahwa program pemerintah, khususnya di bidang perumahan dapat memberikan manfaat nyata dan membuka kesempatan setara bagi penyandang disabilitas untuk hidup lebih mandiri dan Sejahtera. 

Perumahan Subsidi BTN milik Rizkha. (Foto: Rahmadani/RRI)

BTN Jadi Garda Terdepan Dukung Program Tiga Juta Rumah Pemerintahan Prabowo

Sebagai bank pembiayaan perumahan nasional, BTN menjadi garda terdepan dalam mendukung visi pemerintah menjadikan kepemilikan rumah yang layak dan terjangkau sebagai bagian dari pemerataan ekonomi nasional. Hingga akhir September 2025, BTN telah menyalurkan KPR Sejahtera FLPP sebesar Rp186,58 triliun, naik 8,0% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp172,76 triliun. Artinya, BTN telah mengucurkan sekitar Rp13,82 triliun agar masyarakat dapat memiliki rumah subsidi dalam satu tahun terakhir atau kurun waktu yang tidak jauh berbeda dengan satu tahun periode pemerintahan Presiden Prabowo.

Selain itu, sebagai wujud komitmen program Tiga Juta Rumah, pemerintahan Presiden Prabowo pada bulan Juni 2025 memutuskan untuk menaikkan kuota KPR FLPP dari 220.000 menjadi 350.000 secara nasional untuk tahun 2025. Dari total nasional, BTN dipercaya menyalurkan 220.000 unit dan tetap menjadi penyalur KPR subsidi terbesar dengan pangsa pasar sekitar 62%.

“Dengan kuota 220.000 unit untuk BTN, artinya BTN mengakadkan 220.000 rumah pada tahun ini saja. Kalau dibagi dengan jumlah hari kerja, setiap hari BTN mengakadkan 1.000 rumah. Ini mesin KPR terbesar yang pernah ada di Indonesia,” tukas Nixon di Jakarta belum lama ini.

Klaim BTN sebagai mesin KPR raksasa ini bahkan diafirmasi oleh lembaga pemeringkat Fitch Ratings Indonesia. Dalam keterangan tertulisnya belum lama ini, Fitch menyatakan bahwa sangat sulit untuk mencari pengganti BTN yang selama ini berperan khusus dalam mendukung kebijakan pemerintah di sektor perumahan. Dengan posisinya sebagai mitra utama pemerintah untuk pemenuhan kebutuhan rumah bagi rakyat, BTN terus konsisten mendukung program Tiga Juta Rumah. Setelah dilantik pada 20 Oktober satu tahun yang lalu, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan kabinet dan visi-misi pemerintahannya, yang terdiri dari Delapan Misi atau Asta Cita. 

Di antara misinya itu, terdapat misi “Membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan”. Pemerintahan Prabowo meyakini, program Tiga Juta Rumah dapat menjadi kunci untuk mengentaskan kemiskinan melalui sektor perumahan.

Pemerintahan Prabowo dengan target tiga juta rumahnya yaitu dua juta di perdesaan dan satu juta di perkotaan bahkan percaya bahwa pembangunan rumah secara masif dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Hal ini diperkuat dengan kajian yang dilakukan BTN melalui unit Housing Finance Center-nya, bahwa sektor perumahan memiliki multiplier effect terhadap 185 sub-sektor ekonomi lainnya.

Dengan semangat mendukung Asta Cita pemerintahan Prabowo, BTN berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) di sektor perumahan, mulai dari developer maupun BUMN, startup, hingga komunitas di akar rumput seperti driver ojek online, pedagang kecil, dan pangkas rambut dalam rangka memberikan akses pembiayaan kepada pekerja sektor informal. Selain dengan pihak di negeri sendiri, BTN bahkan merambah ke tingkat internasional berkat dukungan pemerintah dengan berkolaborasi bersama investor dari Qatar, yakni AlQilaa Group yang mendukung pembangunan hunian vertikal bersubsidi di Indonesia. Penulis (Rahmadhani)

Rekomendasi Berita