Antara Energi Bersih dan Bertahan Hidup

  • 07 Des 2025 14:08 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar: Sarana transportasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, khususnya transportasi publik yang tarif selalu bersahabat dengan kantong masyarakat. Demikian pula Angkutan Kota (Angkot) yang lebih dikenal dengan sebutan "Pete-pete" di Makassar, menjadi bagian dari transportasi publik yang kejayaannya mencapai puncak pada era 1980-an hingga penghujung tahun 2000.

Bunyi mesinnya yang khas, teriakan kernet memanggil penumpang, hingga deretan angkot yang saling kejar setoran menjadi denyut transportasi warga kala itu. Namun seiring dengan perkembangan zaman, itu semua berubah. Ojek online, kendaraan pribadi, dan mobilitas digital perlahan menggerus eksistensi pete-pete.

Di kawasan Sudiang, Makassar tak jauh dari Asrama Haji, sebelumnya menjadi tempat mangkal para sopir pete-pete, namun kali ini, tak satu pun sopir ditemui di sana. Baru sekitar lima kilometer dari tempat itu, baru lah ditemukan pete-pete dengan hitungan jari seraya sebagian sopirnya duduk di dalam mobilnya dengan jok yang condong ke belakang.

Angkot bercat biru itu dibiarkan dengan pintu terbuka dan mesin dimatikan sambil menunggu penumpang di bawah pohon yang cukup rindang. "Hampir setiap hari kami menunggu di sini, berharap ada penumpang yang singgah dan naik di pete-pete kami," ujar Yunus.

Hal senada dikemukakan sopir lainnya Nasir yang melayani penumpang dari perbatasan Makassar-Maros ke Pasar Daya. Hampir sejam menunggu di persimpangan Jl Sudiang Raya dan Jl Perintis Kemerdekaan, barulah ada seorang penumpang paruh baya yang tujuan ke Pasar Bulu-Bulu dekat simpang lima Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Ibu dari tiga anak itu, awalnya kaget saat duduk di samping sopir dan menemukan sebuah tabung gas melon atau ukuran 3 kilogram tak jauh dari kaki sopir yang menginjak rem. Sebuah tabung gas melon bersubsidi biasanya yang ditemukan di dapur dan dipakai untuk memasak, kini menjadi pengganti bahan bakar minyak (BBM).

Bertahan hidup

Baik Yunus maupun Nasir, dua sopir pete-pete mewakili yang lainnya, mengakui menggunakan gas elpiji karena terdesak menutupi biaya operasional yang sangat tinggi sementara penumpang jarang naik pete-pete lagi. Penumpang lebih banyak menggunakan transportasi online yang lebih murah dan nyaman, tanpa perlu menunggu pete-pete penuh penumpang, lalu bergerak ke lokasi tujuan.

Kondisi itulah yang memicu Yunus mencoba merakit tabung gas sebagai pengganti BBM fosil setelah belajar dari media sosial youtube. Dengan memodifikasi sumber energi dimobil pete-petenya, Yunus pun akhirnya mengoperasikan Angkot dengan rute terbatas itu dengan menggunakan tabung.

Yunus mengaku sudah dua tahun terakhir meninggalkan BBM. Alasannya sederhana sekaligus memilukan. Setiap hari ia harus mengeluarkan hingga Rp200 ribu untuk membeli bensin, sementara pendapatan sering kali tak cukup menutup pengeluaran. Penumpang kian sepi, angkot makin terpinggirkan.

Sementara dengan gas elpiji 3 kilogram, Yunus hanya menghabiskan sekitar Rp80 ribu per hari. Penghematan itu menjadi penyelamat bagi dapurnya dan bertahan hidup sebagai sopir pete-pete. Namun di saat yang sama, ia juga tengah menanam bom waktu di dalam angkotnya sendiri, pasalnya belum ada uji formal dari lembaga tertentu untuk jaminan keamanan menggunakan gas elpiji di kendaraan jenis Angkot.

Meski sempat khawatir, namun yang digeluti Yunus dalam mengoperasikan pete-petenya itu, membuat ia menjadi "konsultan" berjalan bagi sopir lain yang juga tertarik mengubah energi BBM fosil menjadi gas untuk menarik Angkot. Sebenarnya inovasi yang hadir di kalangan masyarakat kecil seperti Yunus ini lahir karena kondisi di lapangan yang kian tidak bersahabat untuk dapat bertahan hidup. Karena itu, fenomena itu hendaknya menjadi perhatian serius pengambil kebijakan khususnya di sektor perhubungan untuk menghadirkan "win - win Solution" di lapangan.

Hal itu dimaksudkan agar rasa was-was baik pada sopir maupun penumpang dapat ditepis. Kendati selama ini, sejumlah sopir Angkot yang sudah menggunakan tabung gas elpiji selalu meyakinkan penumpangnya jika itu aman. Selama ini perjalanan pete-pete berenergi bersih itu memang tak terjadi gangguan. Mesin berjalan normal, layaknya kendaraan berbahan bakar bensin. Tetapi rasa aman itu hanyalah ketenangan semu.

Pasalnya, tabung gas elpiji 3 kilogram tidak pernah dirancang untuk berada di dalam kendaraan, apalagi di ruang sempit yang penuh getaran, panas mesin, dan risiko benturan. Yunus pun mengakui, semua instalasi dipelajarinya tanpa pendampingan teknis yang memadai.

Terlepas dari semua itu, salah seorang penumpang Suriani mengaku sempat takut, tapi setelah bertanya sana-sini tentang teknis pengoperasian gas tersebut kepada sopirnya, akhirnya membuat ia lega.

Ancaman ledakan

Mencermati fenomena sopir pete-pete yang sudah menggunakan gas Elpiji untuk operasional kendaraanya, Dosen Teknik Mesin Universitas Negeri Makassar, Muhammad Farid, menegaskan bahwa konversi bahan bakar gas memang bisa memberikan dampak positif dari sisi penghematan. Namun instalasi bahan bakar gas memiliki standar keselamatan yang sangat ketat.

“Kesalahan kecil bisa menyebabkan kebocoran. Kebocoran bisa memicu percikan. Percikan di ruang sempit seperti angkot dapat berujung ledakan fatal,” ujarnya.

Farid juga menyayangkan belum adanya sikap tegas dari pemerintah untuk mengantisipasi fenomena ini, demi menghindari risiko yang bisa merenggut banyak nyawa.

Hal senada disampaikan Area Manager Communication Relation dan CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, T Muhammad Roem. Ia memastikan bahwa elpiji 3 kilogram tidak diperuntukkan bagi kendaraan bermotor.

Masyarakat diimbau menggunakan gas subsidi itu sesuai peruntukannya. Meski dari dari sisi lingkungan, penggunaan gas memang berkontribusi terhadap pengurangan emisi, meski tidak signifikan.

Mustam Arif, Pengamat lingkungan dari Jurnal Celebes, menyebut emisi gas buang bisa berkurang hingga sekitar 21 persen. Namun praktik ini tetap berada di wilayah abu-abu hukum, bahkan cenderung ilegal.

Hal senada dikemukakan Pengamat Transportasi Dr Lambang Basri. Dia mengatakan, apa yang dilakukan sopir angkot semestinya menjadi perhatian serius pemerintah. Mereka tetap membutuhkan penghasilan, tetapi juga memerlukan bahan bakar yang murah dan aman untuk menekan biaya operasional.

Sedang menurut Pengamat Kebijakan Publik Dr Adi Sumandiar, negara harus hadir menghadirkan keadilan energi. Jika Indonesia serius memimpin transisi energi bersih, maka sopir seperti Yunus tidak boleh dipaksa memilih jalan pintas yang berbahaya.

“Mereka butuh akses, butuh teknologi, dan butuh dukungan,” tegasnya.

Ironisnya, praktik penggunaan “energi hijau” ini belum sepenuhnya terendus oleh Dinas Perhubungan Kota Makassar. Fakta ini justru pertama kali terungkap dari temuan lapangan tim investigasi RRI Makassar. Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Makassar Jusman Hattu menyatakan akan segera menindaklanjuti demi keselamatan publik.

Di tingkat nasional, Presiden Prabowo Subianto bahkan telah menyatakan komitmennya menjadikan Indonesia sebagai pelopor energi bersih dunia. Namun di akar rumput, transisi energi justru berlangsung tanpa regulasi, tanpa perlindungan, dan penuh risiko.

Apa yang dilakukan Yunus dan sopir pete-pete lainnya bukanlah bentuk keberanian yang menantang hukum. Ini lahir dari tekanan hidup,biaya yang terus melonjak, penumpang yang makin berkurang, dan ketiadaan pilihan yang benar-benar terjangkau.

Pada akhirnya, energi bersih bukan hanya soal emisi. Energi bersih adalah hak untuk hidup aman, hak untuk bekerja tanpa mempertaruhkan nyawa, dan hak untuk mendapatkan solusi yang layak dari negara.

Pertanyaannya kini, akankah negara hadir lebih cepat, sebelum bencana itu benar-benar terjadi di jalanan?

Penulis (Rahmadhani)

Rekomendasi Berita