Semangat Jamaluddin, Petani Kanreapia Melek Digital Makin Sejahtera

  • 18 Nov 2025 21:57 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar: Petani sayur di Desa Kanreapia di kaki Gunung Bawakaraeng, Kecamatan Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan kini memiliki cara mudah untuk memasarkan hasil panen tanpa harus mengeluarkan banyak ongkos. Kemajuan teknologi yang semakin pesat, menjadi hal yang dimanfaatkan dengan baik oleh petani di Kanreapia.

Tidak hanya menjadikan kemajuan teknologi untuk melihat perkembangan terkini, petani sayur di Kanreapia melihat peluang besar dengan memanfaatkan media sosial untuk berbagi edukasi seputar pertanian, serta memanfaatkan untuk mendapatkan jaringan pasar baru.

Jamaluddin pemuda Kanreapia kelahiran 1988 adalah sosok dibalik literasi digital yang kini manfaatnya telah dirasakan oleh petani. Menurut Jamaluddin, gerakan literasi digital baru mulai diterapkan beberapa tahun terakhir, hal ini dimulai saat dirinya memperkenalkan Kanreapia sebagai Kampung Sayur.

Setelah menjadi entitas Kampung Sayur, masyarakat banyak yang datang tidak hanya untuk datang membeli sayur, akan tetapi Jamaluddin juga membuka kesempatan bagi warga, komunitas, maupun korporasi untuk datang belajar terkait pertanian sayur.

Disebutkan oleh Jamaluddin, dengan banyaknya orang datang di Kanreapia, awalnya petani merasa canggung karena mereka datang membawa gawai lalu mendokumentasikan kegiatan petani tapi lama-lama menjadi terbiasa, dan pada akhirnya petani mulai belajar untuk memanfaatkan kemajuan teknologi.

“Melalui literasi digital, kami mencoba agar petani mulai memanfaatkan media sosial dengan membuat akun,” ujar Jamaluddin, kepada RRI.co.id, pada awal September 2025 lalu.

Ayah dua orang anak ini menyebutkan, setelah diajari untuk membuat media sosial, petani memulai diajari hal-hal sederhana untuk di posting seperti swafoto, menampilkan sayuran yang ditanam, dan lain sebagainya. Dari hasil posting di media sosial, petani kemudian melakukan komunikasi dengan pedagang.

“Misalnya dia (petani) posting daun bawang, ada pedagang membalas dan menanyakan ketersediaan, serta melakukan negosiasi harga, dan kalau cocok bisa langsung diantarkan ke pembeli,” ucap Jamaluddin dengan nada gembira.

Dengan petani sayur melek digital, Jamaluddin menyebut secara tidak langsung penjualan hasil panen menjadi semakin mudah, tidak harus tinjau ke pasar dan pedagang tidak mesti kelelahan untuk datang meninjau karena sudah melihat foto yang diunggah di media sosial.

“Dengan melek digital juga mengubah stigma bahwa petani tidak berpendidikan. Dengan literasi digital mengubah nilai bahwa petani itu berpendidikan, petani itu bisa digital,” jelasnya.

Ditambahkan oleh Jamaluddin, kini petani sayur di Kanreapia setiap harinya rutin mengunggah segala sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas kesehariannya. “Pokoknya tidak ada lagi kegiatan yang tanpa mereka posting. Apakah dia menyiram, menanam, apalagi panen. Itu mereka sudah posting di situ. Artinya melalui digital ini selain promosi, mungkin mereka secara langsung menjual,” ujar sarjana bahasa Indonesia itu.

Petani Sayur Desa Kanreapia melakukan pemupukan tanaman seledri. (Dok Jamaluddin untuk RRI)

Cegah Tengkulak Bermain

Tengkulak atau perantara antara pembeli dan penjual memiliki dampak positif dan negatif bagi petani atau pedagang, jika beruntung dapat tengkulak yang baik maka hasil panen bisa mendapatkan hasil yang sesuai, jika sebaliknya maka awalnya yang dianggap untung bisa berubah jadi buntung.

Berkat literasi digital yang diperoleh petani sayur di Kanreapia, praktik-praktik yang dilakukan oleh leluhur zaman dahulu masih banyak dilakukan sampai hari. Cara menjual hasil panen masih sama dan cenderung tidak berkembang.

Jamaluddin menyebut untuk hasil panen sayur pangsa pasarnya sudah jelas akan ke mana, walaupun dari segi harga bisa murah dan juga mahal. Hanya saja pria lulusan magister Universitas Muslim Indonesia (UMI) itu mengatakan naik turunnya harga sayur disebabkan karena petani tidak melek digital.

“Sekarang mulai petani sayur mulai melek digital, tengkulak-tengkulak tidak lagi bisa bermain, harga mereka bisa ketahui secara pasti,” ujar Jamaluddin.

Ia menyebut, zaman dahulu tengkulak dapat memainkan harga sesukanya sebab tidak ada akses bagi petani untuk mengetahui. Berbeda dengan sekarang untuk mengetahui harga yang sesungguhnya sehingga mencegah para tengkulak memainkan harga.

“Dulu tengkulak yang harga Rp 13 ribu di pasar dia hanya beli dari petani Rp 6 ribu. Kalau sekarang petani bisa mengetahui harga yang sesungguhnya sehingga meskipun ada selisih maka tidak terlalu signifikan,” ucapnya.

Melalui literasi digital juga, petani sayur di Kanreapia bisa membuat harga lebih terkendali karena lebih mudah untuk akses. Walaupun belum sepenuhnya lanjut Jamaluddin, akan tetapi secara bertahap meyakini dapat mengendalikan dengan baik.

Kampung Berseri Astra (KBA) Kanreapia, Kampung Iklim Kampung Sayur. (Dok Jamaluddin untuk RRI)

Gotong Royong dan Sedekah

Meski para petani sayur di Desa Kanreapia mendapatkan pengetahuan terkait literasi digital, peninggalan leluhur zaman dulu yang masih dianggap memiliki makna kebaikan tetap dipertahankan, salah satunya adalah budaya “Akkammisi” jika diartikan “kammisi” berarti hari kamis.

Melalui “Akkamisi”, petani sayur di Kanreapia setiap hari Kamis berkumpul pada satu titik untuk mengerjakan suatu hal bersamaan dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan.

Adapun kegiatan yang biasa dilakukan pada hari Kamis itu diantaranya penanaman pohon, pembersihan jalan, perbaikan irigasi, dan yang lainnya. “Jadi kami mempertahankan tradisi ini saling membantu satu sama lain. Artinya apa yang sudah ada dulu dan bagus tentu tidak kita hilangkan,” jelasnya.

Dengan mempertahankan budaya “Akkammisi” ini, Jamaluddin jadi narasumber di COP 28 Dubai guna mempresentasikan gerakan literasi lingkungan. Pada kesempatan itu, Jamaluddin berbagi cerita terkait aksi iklim yang dilakukan, termasuk pertanian organik, pengelolaan sumber mata air, hingga aksi petani yang membagikan hasil panen untuk kebutuhan kemanusiaan.

“Dari sini lah teman-teman pemuda itu termotivasi bahwa ternyata walaupun tempel koran bisa saja membawa hal yang baik. Jadi tidak mesti hal besar dilakukan untuk memberi manfaat ke banyak orang,” jelasnya.

Petani di Desa Kanreapia sendiri memiliki program sedekah sayur, dimana para petani menyisihkan sebagian hasil panen untuk disumbangakan ke yang membutuhkan seperti panti asuhan, pesantren, hingga kawasan yang terdampak bencana alam.

Gerakan sedekah sayur ini kata jamal merupakan cara bagi petani sayur di Desa Kanreapia untuk berbagi dengan sesama. “Jadi tidak hanya uang yang bisa disumbangkan, karena kita memiliki banyak sayur, kita akhirnya menyumbangkan apa yang kita miliki,” tambahnya.

Ditambahkan oleh Jamaluddin, sedekah sayur ini menumbuhkan semangat kedermawanan para petani. “Petani tanpa ada paksaan rutin menyisihkan hasil panen. Misalnya dari produksi ratusan kilo petani menyisihkan 10 kg sayur untuk dibagikan ke yang membutuhkan,” ujarnya.

Sejak tahun 2020, gerakan sedekah sayur dari Desa Kanreapia sudah membagikan ratusan ton sayur di lebih 100 panti asuhan yang tersebar di Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Maros, dan Takalar. “Panti asuhan atau pesantren rata-rata sudah mendapatkan bantuan dua kali atau lebih,” jelas Jamaluddin.

Sejumlah masyarakat ikut memanen sayuran di Kampung Sayur, Desa Kanreapia. (Dok Jamaluddin untuk RRI)

Penghargaan dan Dukungan Astra

Jamaluddin masih teringat, pada tahun 2014 usai menamatkan pendidikan magister memilih untuk tidak mencari pekerjaan di kota namun kembali ke kampungnya di Desa Kanreapia dengan menggagas Rumah Koran, tempat dimana anak petani sayur diajarkan untuk membaca agar minat baca meningkat dan tidak buta huruf.

Melalui gerakan ini juga ia diganjar penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards dari PT Astra International Tbk untuk bidang pendidikan di tahun 2017.

Pada tahun 2021 Jamaluddin menjadikan kampung sayur Kanreapia berhasil mendapatkan predikat Kampung Berseri Astra (KBA), program pengembangan masyarakat berbasis komunitas yang didukung Astra. Program itu menitikberatkan pelestarian lingkungan sebagai salah satu pilarnya.

Jamaluddin menambahkan, saat ini Desa Kanreapia memiliki tiga identitas yakni sebagai Kampung Sayur, Kampung Berseri Astra (KBA) binaan Astra yang kemudian juga mendapatkan predikat KBA Proklim Berkelanjutan pada tahun 2023. Dimana penghargaan ini menekankan tiga fokus strategi, yaitu Electric Vehicle, Renewable Energy, dan Digitalization.

Identitas lain yang disematkan untuk Desa Kanreapia adalah Kampung Iklim binaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kanreapia mendapatkan dua penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim), yaitu Proklim Utama pada tahun 2020 dan Proklim Lestari atau yang tertinggi di tahun 2022.(*)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....