Makna Ungkapan Kasipalli dalam Bahasa Makassar

  • 17 Sep 2025 11:18 WIB
  •  Makassar

KBRN Makassar : Bahasa Makassar merupakan salah satu bahasa daerah di Sulawesi Selatan yang kaya akan ungkapan dan peribahasa yang sarat makna, salah satunya adalah kasipalli. Dalam tradisi masyarakat Makassar, kasipalli merujuk pada pantangan atau larangan yang bersifat tabu (pemali) dan diyakini dapat mendatangkan kesialan, aib, maupun gangguan spiritual. Lebih dari itu, kasipalli berfungsi sebagai sarana pendidikan moral, etika, dan penanaman nilai kesopanan sejak dini.

Dalam Naskah Pembinaan Bahasa dan Sastra Daerah Makassar Arman,S,.S menjelaskan beberapa bentuk kasipalli yang masih dipraktikkan hingga kini antara lain "nigaukang attinro mopang, nasaba matei tau toata". larangan tidur tengkurap karena dipercaya dapat mempercepat kematian orang tua. Meski tidak memiliki hubungan medis langsung, larangan ini efektif membentuk kesopanan anak agar tidak berperilaku sembarangan. Ada pula "ammake baju eja punna bosi, nasaba' natabaki gunturu". larangan memakai baju merah saat hujan karena diyakini dapat disambar petir. Sesungguhnya, makna yang terkandung adalah upaya orang tua untuk menjaga keselamatan anak agar segera pulang ketika hujan turun.

Selain itu, terdapat kasipalli "appatungkuluk, nasaba' natabaki cilaka" yang melarang seseorang bertopang dagu dengan alasan dapat mendatangkan celaka. Dalam budaya Makassar, sikap tersebut dianggap mencerminkan kemalasan, kesombongan, dan keangkuhan yang tidak pantas dimiliki manusia. Ada pula "angnganre ripattongko, nasaba' ajjariki pattongko" siri" larangan makan menggunakan penutup sebagai pengganti piring, yang menanamkan nilai kesopanan sekaligus mengajarkan pentingnya menghindari perilaku tercela yang dapat berujung pada aib keluarga.

Arman dari balai bahasa provinsi Sulawesi selatan menyusun isi naskah tentang, Nilai penghargaan antar sesama juga terkandung dalam kasipalli. Misalnya,“Annolak pakkiona tawwa angnganre manna sikekdejja larangan menolak ajakan orang lain untuk makan meskipun hanya sedikit. Ajakan ini dipandang sebagai bentuk sipakalebbi (saling menghargai), sehingga menolaknya dianggap kurang sopan. Bahkan dalam kondisi kenyang, cukup mengambil sedikit makanan sebagai tanda penghormatan. Demikian pula dengan larangan menyisakan makanan yang dimaknai sebagai tindakan durhaka. Kepercayaan ini menekankan pentingnya mensyukuri rezeki dan menghindari sikap mubazir.

Dari berbagai bentuk kasipalli, tampak bahwa larangan-larangan tersebut bukan semata-mata tabu tanpa alasan, melainkan sarat dengan nilai moral, kesopanan, penghargaan, dan religiusitas. Dengan demikian, kasipalli menjadi cerminan kearifan lokal masyarakat Makassar dalam mendidik generasi muda melalui pesan simbolik yang diwariskan secara turun-temurun, sekaligus berfungsi sebagai media pendidikan sosial yang membentuk karakter, menanamkan etika, serta memperkuat nilai budaya dan keagamaan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....