Gau' Maraja: Warisan Leluhur Menyala di Jantung Maros

  • 01 Jul 2025 23:37 WIB
  •  Makassar

KBRN, Maros : Disela hamparan bukit karst dan suara angin yang menerpa hutan batu Leang-Leang, sebuah cahaya budaya kembali dinyalakan. Namanya Gau' Maraja, pesta akbar rakyat Maros yang tahun ini kembali digelar, menyambut Hari Jadi Kabupaten Maros ke-66. Bukan sekadar perayaan, Gau' Maraja telah menjadi nadi yang mengalirkan kembali semangat adat, pusaka, dan warisan leluhur kepada generasi kini.

Bagi sebagian masyarakat, festival ini mungkin hanya rangkaian acara seni dan kirab budaya. Namun bagi Ketua Panitia, Marjan Masere, Gau' Maraja adalah bentuk perlawanan terhadap lupa. “Kita tidak ingin budaya hanya dikenang dalam buku sejarah. Lewat festival ini, kita hidupkan kembali apa yang diwariskan leluhur: kesantunan, kehormatan, dan semangat gotong royong,” ujarnya, mata berbinar saat meninjau lokasi pameran pusaka, Selasa (1/7/2025)

Tahun ini, Gau' Maraja akan digelar pada tanggal 3 hingga 5 Juli 2025 di dua tempat sakral yakni Lapangan Pallantikang, yang menjadi jantung pemerintahan, dan Kawasan Leang-Leang sebuah kawasan situs manusia purba yang telah berusia puluhan ribu tahun. Tempat yang sarat filosofi masa lalu bertemu masa kini.

*Antara Keris, Keroncong, dan Kirab*

Agenda Gau' Maraja 2025 berlapis-lapis. Di panggung utama, akan ditampilkan keris yang konon milik Presiden RI Prabowo Subianto, dan satu lagi dari Menteri Kebudayaan. Dua bilah pusaka itu bukan hanya simbol kekuasaan, tapi lambang indentitas bahwa masyarakat Bugis-Makassar punya akar budaya yang kokoh.

Di hari kedua, akan digelar Simposium Budaya Internasional ruang di mana akademisi, seniman, dan budayawan duduk bersama membahas masa depan tradisi di tengah derasnya globalisasi. Malam harinya, di Leang-Leang, cahaya obor akan berpadu dengan petikan keroncong menghadirkan harmoni yang tak hanya menyentuh telinga, tapi juga kalbu.

Puncaknya, 5 Juli, ribuan orang akan menyaksikan Kirab Budaya, parade warna-warni etnik dan busana adat dari seluruh kecamatan di Maros. Di saat yang sama, generasi muda menunjukkan bakat mereka dalam Festival Lagu Pelajar. Lapangan Pallantikang akan penuh sesak oleh penonton dan pelaku UMKM yang menjajakan hasil karya lokal dari kuliner hingga kerajinan bambu dan anyaman.

*Leang-Leang: Saksi Masa Lalu, Titik Bangkit Masa Kini*

“Leang-Leang tahun ini bukan hanya tempat wisata. Ia akan menjadi saksi bahwa budaya kita masih hidup,” tegas Sekretaris Panitia, Lory Hendra Jaya. Baginya, Gaumaraja bukan sekadar even tahunan. “Ini pengingat bahwa kita punya akar. Dan siapa pun yang kehilangan akarnya, akan mudah tumbang oleh zaman.”ucapnya.

Di tengah semarak itu, tampak para pelajar berdiri berdampingan dengan tetua adat. Suatu pemandangan yang jarang terlihat di luar momentum budaya seperti ini. Di situ, nilai-nilai diturunkan bukan lewat pidato, tapi lewat praktik saling menghargai, berkarya tanpa meninggalkan jati diri.

*Lebih dari Festival*

Gau' Maraja bukan sekadar hiburan. Ia adalah bentuk afirmasi identitas. Bahwa Maros bukan hanya kabupaten dengan bandara internasional dan taman nasional, tapi juga tempat di mana budaya hidup dan berkembang bersama masyarakatnya.

Panitia mengajak seluruh masyarakat untuk datang, tidak hanya sebagai penonton, tetapi sebagai pewaris nilai. “Kalau bukan kita yang merayakan budaya kita sendiri, siapa lagi?” pungkas Marjan, sebelum melangkah menuju deretan tenda pengrajin lokal yang mulai berdiri.

Dalam Gaumaraja 2025, Maros bukan hanya memperingati ulang tahun. Ia sedang memperkuat akar dan menumbuhkan harapan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....