Belanja Online, Jualan Offline: Cara Cerdas Hadapi Era Digital

  • 27 Mei 2025 11:27 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar: Perubahan budaya belanja masyarakat dari konvensional ke digital semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir. Didukung oleh pesatnya perkembangan teknologi, tingginya penetrasi internet dan smartphone, serta pengaruh pandemi COVID-19, tren belanja online kini menjadi pilihan utama masyarakat, termasuk para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Salah satu pelaku UMKM yang merasakan dampak positif dari tren ini adalah Dadang (42). Ia menjalankan usaha penjualan pakaian anak dan lukisan stereofoam dengan memanfaatkan platform e-commerce Shopee.

“Berbelanja lewat platform digital lebih efisien. Saya tidak perlu keluar rumah, bisa langsung pilih barang dengan harga yang jauh lebih murah,” ujar Dadang saat ditemui di acara Car Free Day (CFD) di Makassar, Minggu (25/5/2025).

Dadang memulai usahanya sejak tahun 2022 dengan modal awal sebesar Rp10 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli berbagai jenis pakaian anak di Shopee, mulai dari daster, baju koko, hingga kaos anak laki-laki.

Ia mencontohkan, harga daster anak di Shopee sangat terjangkau. “Saya bisa dapat 10 potong daster anak hanya dengan Rp75.000. Kemudian saya jual lagi dengan harga Rp15.000 sampai Rp20.000 per potong,” jelasnya.

Barang-barang tersebut kemudian ia jual kembali saat kegiatan Car Free Day yang rutin digelar setiap Minggu pagi. Setiap pekan, Dadang bisa memperoleh penghasilan hingga Rp1 juta. Strategi ini dinilainya efektif karena CFD ramai dikunjungi masyarakat yang sedang berolahraga atau bersantai, sehingga peluang penjualan pun meningkat.

Pendapatannya perlahan meningkat seiring bertambahnya pelanggan. Ia juga memasarkan dagangannya melalui Marketplace Makassar untuk menjangkau pembeli yang lebih luas.

Tak hanya menjual pakaian anak, Dadang juga mengembangkan usahanya dengan menjual lukisan stereofoam. Produk ini ia peroleh dari paket usaha yang juga dibelinya melalui Shopee.

“Paket usaha lukisan ini harganya Rp500.000. Saya dapat 20 lukisan stereofoam lengkap dengan alat melukis, rangka, dan kursi duduknya,” ujar Dadang.

Lukisan ini banyak diminati anak-anak yang datang ke CFD. Dengan membayar Rp15.000, mereka bisa mewarnai lukisan sendiri dan membawa pulang hasil karyanya.

Dadang menegaskan bahwa kehadiran platform digital sangat membantu pelaku UMKM seperti dirinya. Selain memudahkan dalam mencari produk jualan, harga yang ditawarkan juga lebih kompetitif, dengan kualitas barang yang tetap terjaga.

“Sekarang nggak perlu keliling pasar atau toko. Lewat Shopee saja sudah bisa cari banyak barang, tinggal pilih dan pesan. Lebih hemat waktu dan biaya,” tutupnya.

Kisah Dadang menjadi bukti nyata bahwa pemanfaatan platform digital secara tepat dapat menjadi peluang besar bagi UMKM untuk tumbuh dan berkembang di tengah persaingan bisnis yang semakin dinamis.

Sementara itu, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) terus mengintensifkan upaya optimalisasi platform digital guna memperkuat pasar UMKM di Indonesia. Langkah ini dianggap krusial untuk meningkatkan kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional dan memperluas jangkauan pasar mereka di era digital.

Pada tahun 2024, UMKM menyumbang 61,07% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, setara dengan Rp8.573,89 triliun, serta menyerap sekitar 117 juta tenaga kerja atau 97% dari total angkatan kerja nasional.

Kemenkop UKM juga menjalin kemitraan dengan berbagai platform e-commerce besar, seperti Shopee, untuk meningkatkan daya saing UMKM. Program ekspor yang bekerja sama dengan Shopee, misalnya, berhasil meningkatkan jumlah produk lokal yang diekspor hingga 50% pada tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, studi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menunjukkan bahwa digitalisasi memiliki dampak positif terhadap kinerja UMKM. Sebanyak 88,37% pelaku UMKM yang beralih dari usaha offline ke online mengalami peningkatan omzet tahunan, dengan 66,28% di antaranya mencatat kenaikan hingga 50%. Selain itu, 24,42% pelaku UMKM menambah jumlah tenaga kerja setelah melakukan digitalisasi bisnis.(RRI Rahmadhani)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....