Modal Rp1 Juta, Lili Nuria Sukses Jadi Eksportir Kacang Mede

  • 15 Mar 2025 11:21 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar : Lili Nuria, pemilik PT. Bunli Abadi Bersama, adalah sosok inspiratif yang membuktikan bahwa kerja keras dan tekad kuat bisa membawa kesuksesan. Bermodal awal hanya Rp1 juta, ia berhasil membangun bisnis olahan kacang mede yang kini go internasional.

Lili memulai perjalanan bisnisnya pada tahun 2017 setelah mengikuti pelatihan kewirausahaan dari Kementerian Koperasi. Awalnya, ia membuka usaha makanan siap saji berupa ayam dan bebek.

Namun, tantangan datang ketika seorang pejabat menyarankannya untuk menciptakan produk yang lebih unik dan bisa dibanggakan. “Kamu harus punya produk yang bisa dibawa ke mana-mana,” kata Lili menirukan saran tersebut, Sabtu (8/3/2025).

Dari situ, Lili beralih ke bisnis kacang bawang (langkoseng). Namun, setelah setahun berjalan, ia merasa kurang tertantang. “Saya suka tantangan, dan kacang bawang sudah terlalu umum,” ujarnya.

Akhirnya, di akhir 2018, ia memutuskan untuk fokus pada kacang mede, mengingat Sulawesi Selatan dikenal sebagai penghasil kacang mede berkualitas.

Dengan modal Rp1 juta, Lili memulai usaha olahan kacang mede. Ia bergabung dengan program inkubasi Rumah BUMN BRI pada tahun 2018 dan terpilih sebagai salah satu alumni berprestasi pada tahun 2021.

Dukungan BRI, seperti kemudahan akses modal dan pendampingan, membantunya berkembang pesat. “Saya dari nol, tapi BRI membantu saya dikenal hingga tingkat nasional,” ungkapnya.

Kini, produk olahan kacang mede miliknya telah menembus pasar internasional, seperti Mesir, Singapura, Malaysia, dan Hongkong. Selain itu, Lili juga bermitra dengan perusahaan besar seperti PT Kereta Api Indonesia untuk menyediakan snack jarak jauh, serta memasok produknya ke hotel, restoran, dan kafe (Horeca) di dalam dan luar negeri.

Lili terus berinovasi dengan menciptakan varian produk, seperti original, pedas, bawang putih, rumput laut, coklat jahe, dan gula aren. Varian terlarisnya adalah original, bawang putih, dan gula aren.

Selain itu, ia juga memanfaatkan kacang mede yang tidak lolos sortir untuk diolah menjadi bumbu pecel, gado-gado, dan bumbu sate. “Saya tidak mau ada yang terbuang. Semua bisa dimanfaatkan,” tegasnya.

Meski sukses, Lili menghadapi tantangan dalam hal ketersediaan bahan baku. “Lahan kacang mede semakin berkurang, jadi saya harus mencari supplier dari berbagai daerah seperti Jawa dan Nusa Tenggara Barat,” jelasnya.

Namun, tantangan ini tidak menyurutkan langkahnya. Bahkan, produknya berhasil masuk ke gerai premium seperti Sesamart di Grand Indonesia dan Bintang Supermarket di Bali.

Bantu Masyarakat Sekitar

Kacang Mete produksi PT. Bunli Abadi Bersama dengan beragam varian rasa seperti original, pedas, bawang putih, rumput laut, coklat jahe, dan gula aren. (rri.co.id/Aan Ariska)

Bisnis Lili tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi dirinya, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Ia mempekerjakan lima karyawan tetap dan puluhan tenaga kerja lepas dari lingkungan sekitarnya. “Saya bayar mereka sesuai jam kerja. Ini cara saya membantu masyarakat sekitar,” ujarnya.

Lili memiliki rencana besar untuk masa depan. Selain terus memperluas pasar ke maskapai penerbangan di dalam dan luar negeri, ia juga berencana mengembangkan produk turunan kacang mede. “Saya ingin terus berinovasi dan membawa produk lokal Sulsel ke kancah global,” ujarnya penuh semangat.

Lahir di Jakarta pada 21 April 1971, Lili memulai hidup baru di Makassar setelah menikah dengan warga lokal. Sebelum berbisnis, ia adalah karyawati di sebuah perusahaan kontraktor Jepang di Jakarta.

Namun, setelah pindah ke Makassar pada 1997, ia memutuskan untuk berwirausaha. “Saya ingin waktu yang lebih fleksibel untuk keluarga,” ujarnya.

Kini, Lili tidak hanya sukses sebagai pengusaha, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang. “Saya percaya, dengan tekad dan kerja keras, kita bisa mencapai apa pun,” tutupnya.***

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....