Pupuk Organik, Kunci Kemandirian Petani Menuju Pertanian Berkelanjutan

  • 28 Feb 2025 16:43 WIB
  •  Makassar

KBRN,Gowa: Petani di Kecamatan Bongaya, Kabupaten Gowa, terpaksa harus membeli pupuk bersubsidi diatas harga eceran tertinggi atau HET. Kondisi ini disebabkan tingginya biaya transportasi untuk mendistribusikan pupuk di wilayah dataran tinggi ini. Hal ini diungkapkan Ketua Kelompok Tani Kecamatan Bongaya Ruslan Dg Sibali, Kamis (27/2/2025)

Harga pupuk subsidi seperti urea yang seharusnya Rp112.500 per zak kini dijual hingga Rp125.000 per sak. Penyebab utama kenaikan harga ini adalah sulitnya akses transportasi ke daerah Bongaya, terutama pada musim hujan yang menyebabkan jalan menjadi licin dan sulit dilalui kendaraan pengangkut.

“Saat ini, distribusi pupuk ke Bongaya mengalami kesulitan karena akses jalan yang rusak parah. Akibatnya, biaya transportasi naik, dan itu berimbas pada harga pupuk di tingkat petani,” ujar Ruslan

Dikatakan kondisi ini semakin diperparah dengan minimnya armada pengangkut yang beroperasi ke wilayah tersebut. Petani harus menempuh jarak lebih jauh untuk mendapatkan pupuk.

“Kami berharap pemerintah bisa mencari solusi, seperti memperbaiki jalan atau memberikan subsidi tambahan untuk biaya angkut,” kata Burhan, seorang petani di Bongaya.

Ditengah kendala distribusi tersebut, dan seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pertanian berkelanjutan, petani di dataran tinggi Kabupaten Gowa mulai beralih menggunakan pupuk organik sebagai alternatif pupuk kimia. Langkah ini diambil untuk mengatasi ketergantungan terhadap pupuk bersubsidi yang kerap mengalami keterlambatan distribusi.

Ruslan mengatakan pihaknya sering mendapat bantuan pupuk organik cair sebanyak 1 liter dari Dinas Pertanian.Menurutnya petani mulai beralih ke pupuk organik meski masih menggunakan pupuk kimia. Dengan penggunaan pupuk cair, Ruslan mengakui produksi padi justru lebih meningkat

Selain di Kecamatan Bungaya, petani di Kecamatan Bajeng juga mulai mengembangkan pupuk organik berbasis limbah pertanian dan kotoran ternak. Pupuk ini dinilai lebih ramah lingkungan dan dapat meningkatkan kesuburan tanah dalam jangka Panjang, namun menurut Penyuluh Pertanian Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa Hasri penggunaan pupuk organik dari kotoran ternak tanpa melalui proses pengolahan lebih lanjut, petani biasanya menggunakan untuk memupuk tanaman ubi dan jagung.

“ Pengolahan secara lebih lanjut kotoran ternak tersebut masih belum dilakukan petani, dan penggunaan pun terbatas pada tanaman seperti ubi dan jagung. Sementara untuk memupuk tanaman padi petani kini memilih memadukan penggunaan pupuk kimia dan pupuk organik cair”

Penggunaan pupuk organik cair di Kabupaten Gowa mulai dibudayakan petani diberbagai kecamatan termasuk di Kecamatan Pattalassang. Hasri mengatakan dengan penggunaan tambahan pupuk organik cair terjadi perubahan signifikan terhadap hasil produksi padi.

“Sangat besar perubahan menggunakan pupuk cair, dari hasilnya setiap tungkai malai tanaman padi yang menggunakan tambahan organik cair berisi padat, sementara jika tidka menggunakan tungkai malai ada yang tidak berisi hingga ke puncak malai.”

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Muhammad Fajaruddin mengakui sejumlah Kelompok Tani di Kabupaten Gowa telah mengembangkan pupuk organik, bahkan Kelompok Tani tersebut bekerjasama dengan Unit Layanan Program Makan Bergizi Gratis untuk mengolah sampah sayuran untuk diolah menjadi pupuk organik.

“Pengolahan pupuk yang bekerjasama dengan Unit Pelayanan MBG ada di Kecamatan Bajeng dengan mengolah buah dengan sampah sayuran, dan di Bontonompo mengolah daun-daun jagung dengan sayuran sebagai pupuk organik.

Alokasi Pupuk Organik dan Pupuk Kimia Bersubsidi Tahun 2025

Kuota pupuk bersubdisi di Kabupaten Gowa mengalami kenaikan 2 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. “ Kuota pupuk bersubsidi untuk jenis urea mencapai 52 ribu ton, NPK 45 ribu ton dan SP 14 ribu ton. Dengan angka tersebut, pemenuhan kebutuhan pupuk bersubsidi aman di Kabupaten Gowa, Ujar Fajaruddin

Fajaruddin mengungkapkan tahun ini pemerintah juga mengalokasikan pupuk organik dan Kabupaten Gowa mendapatkan jatah sebanyak 18.615 ton.

Berdasarkan rilis dari pupuk Indonesia, untuk jenis pupuk urea mengalami peningkatan sebesar 4 persen dari 407,492 ton menjadi 424,887, NPK dari 370.193 menjadi 386.741 ton dan pupuk organik 14.538 ton menjadi 71.492 ton.Sementara pupuk NPK Kakao mengalami penurunan 7 persen , dari 42.118 ton menjadi 39.250 ton.. Hal ini didasarkan pada realisasi di 2024 yang hanya mencapai 30 persen atau 12.751 ton.

Senior Manajer Pupuk Indonesia Wilayah Sulamapua Sukodim mengatakan alokasi penambahan pupuk bersubsidi di Sulawesi Selatan naik sebesar 11 persen dari 834,341 ton menjadi 922,370 ribu ton. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan alokasi pupuk organik di Sulawesi Selatan

“Penambahan pupuk organik sangat signifikan di Sulawesi Selatan agar para petani menggunakan pupuk secara berimbang agar produktifitas naik, serta swasembada pangan dan pertanian berkelanjutan tercapai.”

Sukodim mengatakan berbagai upaya dilakukan Pupuk Indonesia untuk mengoptimalkan penggunaan pupuk ditingkat petani dengan melakukan sosialisasi dan menggandeng Dinas terkait untuk mengampanyekan pemupukan berimbang dengan pupuk organik

“ Memberikan edukasi kepada petani penggunaan pupuk berimbang dalam bentuk sosialisasi demplot, dan kawalan uji tanah gratis dan menggandeng Dinas Pertanian terutama penyuluh untuk mengedukasi petani terkait penggunaan pupuk organik berimbang.”

Penggunaan pupuk organik cair (POC) telah terbukti efektif dalam meningkatkan produksi padi di Sulawesi Selatan. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa aplikasi POC Lampoko Biourine dapat meningkatkan hasil panen padi sebesar 1,90 ton per hektar, atau peningkatan sebesar 24,05%. Selain itu, penggunaan POC ini memungkinkan pengurangan penggunaan pupuk anorganik hingga 75%.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Gowa telah mendorong budidaya padi organik dengan memanfaatkan pupuk organik cair yang diproduksi dari sumber daya lokal. Hasilnya, budidaya padi organik di beberapa kecamatan mampu mencapai produksi rata-rata 6 ton per hektar.

Secara keseluruhan, penerapan pupuk organik cair di Sulawesi Selatan tidak hanya meningkatkan produktivitas padi, tetapi juga mendukung praktik pertanian berkelanjutan dengan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....