Tingkatkan Nilai Tambah Nelayan Untia, KKMP Siapkan Fasiltas Modern
- 25 Agt 2026 21:10 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar — Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Untia terus melangkah maju dalam mendorong efisiensi dan tata kelola organisasi yang bersih di kawasan pesisir Makassar. Kehadiran pengawas internal dari pihak kelurahan dan tokoh masyarakat menjadi pondasi utama agar pengelolaan Koperasi terhindar dari benturan kepentingan, hal ini disampaikan Ketua Pengawas Koperasi yang juga Lurah Untia, Andi Tosa kepada RRI saaat hadir di Obrolan Teras UMKM di Pro 4 Makassar Senin, 24 Agustus 2026.
"Saya kira tidak ada hal-hal negatif atau konflik di dalamnya, artinya transparansi sejauh ini berjalan sangat baik antara pihak pengelola dengan masyarakat," ungkap Andi Tosa.
Melihat besarnya potensi laut Untia menurut Andi Tosa, pihak kelurahan mendorong pengurus untuk mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas secara penuh. "Potensi alam Untia ini memang pesisir pantai dan penghasilan warga sebagian besar dari nelayan, sehingga seluruh hasil tangkapan ini harus terus dimaksimalkan masuk ke fasilitas cool storage," pungkas Andi Tosa.
Andi Tossa menyebut, meskipun secara formal menaungi dua fokus unit usaha—yakni koperasi umum dan unit khusus nelayan, seluruh kegiatan operasional KKMP Untia berjalan terintegrasi dalam satu manajemen. "Sebenarnya ini adalah satu Koperasi Kelurahan Merah Putih yang menaungi Kampung Nelayan Merah Putih, jadi satu komando terstruktur agar pengurusannya berada dalam satu pintu," kata Tosa.
"Dalam beberapa bulan ini saya cukup sibuk mengurusi legalitas, tapi alhamdulillah dari pihak pemerintah setempat, Dinas Koperasi, hingga Kementerian Kelautan dan Perikanan sangat responsif memberikan pendampingan," ujar Lurah Untia.
Sementara Sekretaris KKMP Untia Andi Aidil Alif Kaharuddin menerangkan, kehadiran unit Kampung Nelayan Merah Putih membawa angin segar bagi modernisasi sektor perikanan tangkap di wilayah pesisir Untia. Dikatakan, keberadaan sarana penunjang yang memadai diharapkan dapat mengubah pola kerja tradisional nelayan menjadi industri yang lebih bernilai tambah.
"Fasilitas yang disiapkan seperti ruang pendingin (cool storage), ruang pengolahan, hingga shelter pendaratan ikan agar hasil tangkapan tidak lagi sekadar dijual murah untuk menutupi biaya operasional saja," tutur Aidil.
Ia mengungkapkan, dampak dari pengoperasian sarana pendingin tersebut kini telah membuka lapangan kerja baru dan mengubah mata pencaharian sebagian warga pesisir. Pola kerja yang semula bergantung pada cuaca laut kini mulai bergeser ke sektor pemrosesan pascamanen yang lebih stabil.
"Dampak dari Kampung Nelayan ini, ada nelayan yang dulunya melaut sekarang sudah bekerja operasional di gudang beku dan pabrik es dengan gaji bulanan," jelas Aidil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....