Kekuatan Istigfar di Detik-detik jelang Berbuka Puasa

  • 25 Feb 2026 16:37 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Fenomena berburu takjil memang menjadi pemandangan ikonik setiap sore di bulan Ramadan. Namun, di balik keriuhan pasar kaget dan aroma gorengan, ada sebuah tradisi spiritual yang kian diperbincangkan para pakar kalbu: kekuatan istigfar di detik-detik menjelang berbuka.

Mengucapkan permohonan ampun di saat energi fisik berada di titik nadir ternyata bukan sekadar ritual, melainkan metode detoksifikasi jiwa yang paling ampuh. Secara psikologis, momen kritis sebelum azan Maghrib adalah waktu di mana emosi manusia cenderung tidak stabil akibat rasa lapar yang memuncak.

Di sinilah istigfar berperan sebagai emotional stabilizer. "Dengan melantunkan istigfar, seseorang sedang menarik rem darurat pada nafsunya, mencegah perilaku konsumtif atau 'balas dendam' saat waktu makan tiba," ungkap seorang praktisi psikologi Islam. Hal ini mengubah transisi dari menahan lapar ke saat makan menjadi proses yang penuh kesadaran (mindful).

Dari sisi teologis, tradisi ini berakar kuat pada ajaran bahwa doa orang yang berpuasa adalah salah satu doa yang tidak tertolak (mustajab). Para ulama menekankan bahwa mengawali doa dengan istigfar ibarat membersihkan wadah yang kotor sebelum diisi air yang murni.

Dengan meminta ampunan terlebih dahulu, seorang hamba sedang meruntuhkan penghalang dosa yang selama ini mungkin menjadi penyumbat saluran komunikasinya dengan Sang Pencipta. Evaluasi diri juga menjadi alasan kuat mengapa istigfar diletakkan di penghujung hari puasa.

Meskipun seseorang merasa telah menjaga haus dan lapar, tidak ada jaminan bahwa lisan, mata, dan hatinya benar-benar terjaga dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Istigfar hadir sebagai "penambal" atas retakan-retakan kecil dalam ibadah hari itu, memastikan bahwa puasa yang diserahkan kepada Allah adalah puasa yang telah dibersihkan kembali.

Kini, gerakan istigfar menjelang berbuka mulai digalakkan di berbagai komunitas hijrah sebagai bentuk peningkatan kualitas ibadah. Menjadikan istigfar sebagai "menu pembuka" sebelum kurma dan air minum bukan hanya mendatangkan pahala, tetapi juga ketenangan batin yang bertahan hingga waktu sahur tiba. Puasa pun tidak lagi sekadar menahan lapar, tetapi menjadi perjalanan transformasi karakter yang nyata setiap harinya.

Sumber Informasi:

Ihya Ulumuddin – Imam Al-Ghazali (Bab Rahasia Puasa).

Hadis Riwayat Tirmidzi (Keutamaan doa orang berpuasa).

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....