Tekan Inflasi Nasional, Airlangga Hartarto: Ekonomi Kita Secara Fundamental Kuat

  • 04 Agt 2026 18:42 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fundamental perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat di tengah tantangan ekonomi global. Menurutnya, sejumlah indikator makroekonomi menunjukkan tren positif sehingga optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga.

Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga di sela Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa 4 Agustus 2026. Ia menilai stabilitas ekonomi Indonesia saat ini ditopang oleh inflasi yang terkendali, aktivitas industri yang terus berekspansi, serta daya tahan ekonomi domestik yang masih solid.

Airlangga menjelaskan inflasi nasional berhasil ditekan hingga mencapai 2,88 persen atau lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka 3 persen. Selain itu, aktivitas manufaktur juga terus menunjukkan perbaikan dengan Purchasing Managers' Index (PMI) berada di atas level 50 yang menandakan sektor industri masih berada pada fase ekspansi.

"Kondisi ekonomi kita secara fundamental kuat. Kemarin baru diumumkan inflasi sudah 2,88 persen, turun dari 3 persen sebelumnya. PMI juga naik di atas 50," kata Airlangga.

Ia juga membantah anggapan bahwa ekonomi Indonesia sedang mengalami perlambatan. Menurut Airlangga, proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional masih berada pada kisaran 5,2 hingga 5,4 persen, lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan hanya sekitar tiga persen.

"Data mengatakan ekonominya tidak melambat, masih di kisaran 5,2 sampai 5,4 persen. Jadi Indonesia bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Walaupun global melambat di angka 3 koma, Indonesia tidak ikut global. Kita masih bisa menjaga resiliency ekonomi," ujarnya.

Untuk menjaga momentum tersebut hingga akhir tahun, pemerintah terus memperkuat kebijakan di sektor energi, termasuk memperluas implementasi program B50. Airlangga mengatakan penggunaan biodiesel B50 tidak hanya mendukung transisi energi yang lebih berkelanjutan, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap impor solar sehingga mampu menghemat devisa negara dalam jumlah besar.

"B50 kan menentukan bahwa kita tidak perlu impor solar lagi. Dengan biodiesel 50 itu, penghematan devisanya bisa mencapai Rp17 triliun," ungkapnya.

Selain menyoroti manfaat B50, Airlangga memberikan apresiasi kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dinilai menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional. "UMKM Indonesia menjadi salah satu penyangga perekonomian, terutama terkait dengan sektor makanan dan minuman. Indonesia beruntung kita punya UMKM yang tangguh," pungkas Airlangga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....