Dinamika Ekonomi Global Turut Memengaruhi Pasar Keuangan Indonesia
- 03 Okt 2026 14:45 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Perkembangan ekonomi global saat ini masih dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik kondisi geopolitik internasional maupun kebijakan ekonomi negara-negara besar. Situasi tersebut turut memberikan dampak terhadap perekonomian Indonesia, khususnya pada sektor usaha dan pasar keuangan.
Adriyan Sayed - Econom and Lecturer The Indonesia Capital Market Institut dalam Obrolan Khusus Investasi Pro4 RRI Makassar edisi Kamis, 1 Oktober 2026. Mengatakan, perkembangan ekonomi saat ini perlu dilihat dari dua sisi, yakni kondisi ekonomi dalam negeri dan perkembangan ekonomi global.
“Kalau kita berbicara terkait perkembangan ekonomi saat ini, kita harus membaginya menjadi dua, yaitu dalam negeri dan luar negeri, dari sisi global, kondisi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perekonomian dunia. Ketegangan tersebut turut berdampak terhadap harga minyak mentah dunia yang kembali mengalami kenaikan,” ujar Adriyan.
Adriyan menyebutkan, harga minyak mentah dunia sempat berada di kisaran 80 dolar AS per barel, namun kembali meningkat hingga menyentuh sekitar 110 dolar AS per barel setelah terjadi serangan balasan dalam konflik tersebut.
“Kita bisa melihat dampaknya akan berpengaruh ke semua negara, termasuk Indonesia. Harga energi, BBM, dan lainnya berpotensi kembali tinggi,” jelasnya.
Adriyan juga menyoroti kondisi harga solar di Amerika Serikat yang disebut telah mencapai titik tertinggi. Kondisi tersebut bahkan mendorong Amerika Serikat untuk menahan ekspor solar karena kebutuhan dalam negeri yang meningkat dan harga komoditas tersebut yang tinggi.
“Di sisi lain, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Menurut Adriyan, perubahan suku bunga di Amerika Serikat dapat memberikan dampak terhadap kebijakan moneter di negara lain, termasuk Indonesia”, ucap Adryian.
Ia menjelaskan, Bank Indonesia turut mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75 persen. Kebijakan tersebut dinilai dapat memberikan pengaruh terhadap berbagai sektor, termasuk dunia usaha dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain itu, kondisi ekonomi global juga berdampak terhadap pasar obligasi Indonesia. Adrian menyebutkan, imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sempat berada di kisaran 7,2 persen hingga 7,4 persen, lebih tinggi dibandingkan kondisi normal yang berada di sekitar 6 hingga 6,5 persen. “Ini sekadar gambaran mengenai apa yang terjadi saat ini di luar sana dan bagaimana efeknya terhadap negara kita, Indonesia,” katanya.
Adriyan menambahkan, berbagai perkembangan ekonomi global tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi di dalam negeri, termasuk dunia usaha dan pasar keuangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....