Asal Usul Huruf 'K' Menjadi Singkatan untuk Ribu

  • 13 Mei 2026 11:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai penggunaan huruf "K" untuk menggantikan angka ribuan, baik di media sosial maupun pada label harga di kafe dan restoran. Fenomena ini bukanlah tanpa alasan, karena secara teknis huruf "K" merupakan singkatan dari "kilo".

Merujuk pada kamus Merriam-Webster, kilo adalah unit pengukuran dalam Sistem Satuan Internasional (SI) yang melambangkan angka seribu. Secara etimologis, istilah kilo berasal dari bahasa Yunani, yaitu "chilioi", yang digunakan untuk menyatakan jumlah yang banyak atau jamak.

Dalam sistem pengukuran formal, kita sudah sangat akrab dengan istilah kilometer untuk satuan jarak atau kilogram untuk satuan berat. Dalam struktur hitungannya, satu kilo setara dengan 1.000 unit dasar, sehingga masyarakat mulai mengadopsi singkatan ini untuk mempermudah penyebutan angka ribuan.

Sejarah penggunaan huruf "K" sebagai penyingkat ribuan ternyata sudah dimulai sejak pertengahan era 1940-an. Berdasarkan catatan sejarah, simbol ini pertama kali muncul dalam glosarium buku teks Basic Electrical Engineering terbitan McGraw-Hill tahun 1945.

Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan "K" awalnya berkembang di dunia teknik sebelum akhirnya merambah ke penggunaan bahasa populer secara luas. Trend ini kemudian semakin diperkuat pada tahun 1947 ketika perusahaan elektronik ternama, Radio Corporation of America (RCA), memasukkan "K" dalam glosarium mereka yang berjudul Common Words in Radio, Television, & Electronics.

Sejak saat itu, dunia penyiaran dan teknologi informasi turut mempopulerkan penggunaan huruf tersebut untuk efisiensi komunikasi, yang perlahan mulai merambah ke sektor-sektor ekonomi dan gaya hidup. Dalam sektor perdagangan, penggunaan "K" sering kali bersanding dengan kode mata uang seperti IDR, yang merupakan singkatan resmi dari Indonesian Rupiah menurut standar ISO 4217.

Sebagai contoh, keterangan harga "IDR 50K" memiliki arti Rp50.000. Penulisan ini dianggap lebih praktis dan memberikan kesan modern serta minimalis pada desain menu atau label produk yang memiliki ruang terbatas.

Meski demikian, tidak jarang ditemukan label harga yang hanya mencantumkan huruf "K" tanpa disertai kode mata uang seperti IDR atau USD. Dalam kondisi seperti ini, arti "K" pada harga tersebut biasanya tetap merujuk pada satuan ribu, namun disesuaikan dengan ketentuan mata uang yang berlaku secara lokal di wilayah tersebut. Penggunaan "K" kini telah menjadi bagian dari identitas komunikasi global yang menjembatani bahasa teknis dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

Masuknya era komputer dan internet semakin memperkuat penggunaan “K”. Dalam dunia komputasi, istilah seperti 64K memori atau 128K data menjadi istilah umum, meskipun secara teknis dalam komputasi satu “K” sering merujuk pada 1.024.

Meski demikian, dalam penggunaan sehari-hari, makna “K” tetap dipahami sebagai seribu. Di Indonesia, penggunaan “K” semakin populer seiring pertumbuhan media sosial dan ekonomi digital.

Harga barang, jumlah pengikut akun, hingga gaji sering ditulis dalam format singkat, seperti 20K untuk dua puluh ribu rupiah atau 100K followers. Praktik ini dianggap lebih ringkas dan sesuai dengan gaya komunikasi cepat di platform digital.

Kini, huruf “K” tidak hanya berfungsi sebagai simbol matematika, tetapi juga telah menjadi bagian dari bahasa populer. Penggunaannya mencerminkan kebutuhan masyarakat modern akan komunikasi yang singkat, praktis, dan mudah dipahami, tanpa kehilangan makna angka yang dimaksud.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....