Strategi Diplomasi dan Subsidi Perkuat Ketahanan Ekonomi Domestik
- 15 Mar 2026 03:29 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Stabilitas ekonomi Indonesia kini berada di bawah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait akses di Selat Hormuz. Ekonom sekaligus pengajar dari The Indonesia Capital Market Institute, Adriyan Sayed, menilai, nasib kelancaran pasokan energi Indonesia sangat bergantung pada posisi diplomasi pemerintah terhadap Iran.
"Kapan kita bisa melakukan dialog dengan pendekatan yang lebih konstruktif dengan Iran, lebih bisa dipercaya lagi, ya tentunya kita harus lebih baik kepada mereka sehingga kapal-kapal dari Indonesia bisa bebas. Saya yakin kalau itu terjadi tidak ada masalah dengan ekonomi kita," ujar Adriyan Sayed kepada Pro 4 RRI Makassar, Sabtu, 14 Maret 2026.
Dikatakan, persoalan semakin pelik karena posisi Indonesia yang dinilai terlalu dekat dengan Amerika Serikat melalui kerja sama Board Of Peace (BOP). Menurut Adriyan, Iran merasa keberatan dengan sikap Indonesia yang dianggap menjadi rekan dari negara yang mendukung agresi di Palestina.
"Kita jangan dulu gabung dengan BOP itu. Kenapa? Ketua BOP di Palestina itu adalah Amerika Serikat, sedangkan Amerika Serikat yang jadi biang keroknya dari perang di Iran ini. Kalau kita bisa secara tegas untuk sementara keluar dari sana dengan bahasa diplomasi, saya yakin pemerintah Iran akan melihat ada niat baik," tambahnya.
Di sisi domestik terang ekonom ini, daya beli masyarakat Indonesia tercatat mengalami pelemahan signifikan di awal tahun 2026. Meskipun demikian ungkapnya, biasanya meningkat menjelang hari raya, data menunjukkan adanya penurunan ritel sales yang cukup tajam.
Adriyan menyoroti bahwa kebijakan fiskal pemerintah dalam bentuk subsidi akan sangat menentukan ketahanan konsumsi rumah tangga ke depan. "Retail sales kita minus 2,7 persen dari Desember naik, tapi di Januari sampai saat ini itu daya beli kita melemah. Kalau menurut saya, skema subsidi langsung berupa dana bantuan (BLT) itu lumayan bisa membantu karena masyarakat lebih tahu apa kebutuhan mereka dibandingkan dalam bentuk makanan," jelasnya.
Sektor pasar modal pun tak luput dari tekanan, indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat merosot ke level 7.000 akibat sentimen global dan isu keterbukaan informasi free float yang diminta oleh MSCI. Meski demikian, Adriyan melihat penurunan harga saham ini justru menjadi peluang bagi investor domestik untuk masuk ke emiten yang memiliki fundamental kuat.
"Saat ini indeks kita melorot, tapi saya rasa tidak perlu terlalu khawatir bagi masyarakat yang ingin berinvestasi karena ini faktor eksternal. Inilah momentum sebenarnya, kita mengambil prinsip Warren Buffett; ketika orang panik kita masuk, kita beli karena kita dapat diskon saham-saham besar," tutur Adriyan.
Ancaman nyata lainnya adalah potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal jika harga bahan baku impor terus melambung akibat depresiasi rupiah dan biaya logistik global. "Jika persoalan Israel versus Iran ini tidak diatasi, saya rasa tingkat pengangguran bakal terjadi. Agar perusahaan tetap bisa bertahan, ujung-ujungnya solusinya adalah melakukan efisiensi atau PHK," ungkap Adriyan kepada RR.
Sebagai solusi jangka panjang, Adriyan mendorong percepatan kemandirian energi melalui hilirisasi batu bara menjadi gas cair (LNG) dan transisi ke kendaraan listrik. Namun, ia mengingatkan bahwa kemandirian sumber daya alam saja tidak cukup tanpa dibarengi stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS untuk menjaga kepercayaan investor asing.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....