Krisis Energi Global Berpotensi Picu Hiperinflasi di Indonesia
- 14 Mar 2026 05:34 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Gejolak geopolitik di Timur Tengah akibat konflik Iran versus Israel beserta sekutunya, Amerika Serikat, telah memicu kepanikan ekonomi global. Serangan yang dianggap tidak berdasar oleh banyak negara ini menyebabkan harga minyak mentah dunia jenis Brent melonjak tajam melampaui level 100 dolar AS per barel.
Ekonom dan Lecture The Indonesia Capital Market Institute (TICMI), Adriyan Sayed, menilai fenomena ini memberikan dampak disrupsi yang luar biasa besar terhadap sendi-sendi ekonomi dunia. "Ini adalah fenomena baru yang memicu kepanikan di seluruh dunia. Jika harga minyak mentah dunia diganggu, maka akan terjadi disruption yang merembet ke mana-mana," ujar Adriyan Sayed saat menjadi narasumber di program acara Muddani Pro 4 Makassar, Jumat, 13 Maret 2026.
Menurut dia, dampak langsung dari kenaikan harga minyak mentah ini adalah transmisi inflasi yang sulit dihindari, terutama menjelang momen besar seperti Lebaran. Selain itu sebut dia, kenaikan tarif angkutan umum hingga harga bahan pokok seperti sayur-mayur diprediksi akan meroket seiring meningkatnya biaya logistik.
Adriyan menekankan bahwa setiap kenaikan harga minyak dunia akan selalu diikuti oleh kenaikan biaya hidup masyarakat secara otomatis. "Relasinya jelas, kalau harga minyak mentah naik, tarif angkot dan bus pasti naik. Apalagi sekarang mau Lebaran, orang mau pulang kampung, pasti harga tiket dan bahan pangan ikut melonjak mengikuti kenaikan bahan dasar BBM," jelasnya.
Disebutkan, kondisi saat ini menjadi beban bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), karena harga minyak saat ini sudah jauh melampaui asumsi sebesar 70 dolar AS per barel. "Pemerintah masih menanggung subsidi selama harga di bawah 70 dolar AS, tapi sekarang posisinya sudah 100 dolar lebih. Besar kemungkinan pemerintah akan melakukan sharing risk kepada masyarakat, artinya harga BBM per liter bisa naik, misalnya dari 10 ribu menjadi 12 ribu rupiah karena beban APBN sudah terlalu besar," ungkap Adriyan.
Selain masalah BBM ungkap Adriyan, pelemahan nilai tukar rupiah hampir menyentuh level 17.000 per dolar AS menjadi ancaman serius bagi kestabilan moneter Indonesia. "Rupiah kita sekarang sudah hampir 17 ribu per dolar AS. Ini adalah akumulasi efek domino yang bisa menghantam ekonomi kita. Jika perang berlanjut, kita bisa menghadapi hiperinflasi dan krisis ekonomi seperti tahun 90-an jika tidak ada yang bisa mendamaikan situasi ini," tuturnya.
"Kenaikan harga minyak berujung pada naiknya suku bunga, otomatis penyaluran kredit seperti KUR akan lebih susah dan mahal. Bahkan, beberapa lembaga pemeringkat dunia seperti Moody’s dan Fitch mulai melihat fiskal kita kurang prudent karena pengeluaran lebih besar daripada pendapatan," tambah Adriyan.
Sebagai solusi jangka pendek guna menekan konsumsi BBM tanpa harus langsung menaikkan harga secara drastis, Adriyan menyarankan penerapan kembali kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). "Solusi instan yang bisa diterapkan adalah kembali ke sistem WFH untuk mengurangi beban penggunaan BBM secara nasional. Namun jangka panjangnya, kita harus mandiri di sektor energi," pungkas Adriyan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....