Tumpeng Kang Caddi, Akulturasi Budaya dan Titik Balik Bangkit di TDA Makassar
- 26 Mei 2026 10:53 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar - Tumpeng Kang Ca’di, kolaborasi Budaya Bugis Sunda yang telah melewati berbagai fase metamorfosis sejak tahun 2017 hingga berdiri kokoh di tahun 2026. Demikian disampaikan Susi Irnawati, pemilik usaha kuliner Tumpeng Kang Ca’di saat berbincang di Program Obsesi Pro 1 RRI Makassar, Senin, 25 Mei 2026. Dikatakan, buah akulturasi budaya Susi yang berdarah Sunda dan suaminya yang berasal dari Maros, berdarah Bugis.
Susi memadukan kata "Kang" yang diambil dari sapaan pria Sunda, sementara kata "Caddi" berarti kecil dalam bahasa lokal Sulawesi Selatan, yang sekaligus merujuk pada memori masa lalu saat mereka merintis bisnis dengan tubuh kurus di bangku kuliah. Melalui kombinasi ini, mereka berharap bisnisnya mampu merepresentasikan harmoni budaya nusantara di tanah Makassar. Lebih lanjut Susi mengatakan bahwa Sebelum berada di posisinya saat ini, usaha tersebut harus melewati berbagai fase metamorfosis, hantaman pandemi, hingga keputusan berat merumahkan karyawan sebelum akhirnya menemukan momentum kebangkitan.
Usaha kuliner Tumpeng Kang Ca’di telah dirintis sejak tahun 2017 silam saat Susi masih duduk di bangku kuliah. Menariknya, Susi sendiri merupakan lulusan jurusan Komunikasi dan Penyiaran, sebuah disiplin ilmu yang terbilang sedikit jauh dari dunia bisnis makanan. Owner Kang Ca’di saat berbincang bersama RRI Mengatakan bahwa Pada awal berdiri, usahanya dinamai Pelangi Tumpeng dan hanya ditujukan untuk mengikuti berbagai ajang kompetisi kewirausahaan mahasiswa dengan mengusung konsep nasi tumpeng sehat warna-warni.
"Kita di mahasiswa, kita cari lomba-lomba kewirausahaan apa nih yang bagus, Pokoknya kan kalau mahasiswa ide-idenya yang cemerlang, ya udahlah kayaknya Pelangi Tumpeng cocok karena waktu itu adalah makanan sehat," kenang Susi.
Guna memutar roda ekonomi, Susi dan suaminya sempat beralih mengandalkan penjualan nasi kotak ke jaringan organisasi mahasiswa sebelum akhirnya melakukan rebranding menjadi Nasi Kuning Kang Caddi pada tahun 2019. Setelah sempat meroket tajam di area Car Free Day CFD Jalan Boulevard, puncak kejayaan tersebut seketika runtuh saat pandemi Covid-19 melanda pada awal tahun 2020. Pembatasan aktivitas dari pemerintah memaksa mereka menutup usaha selama kurang lebih lima bulan hingga terpaksa merumahkan seluruh karyawan karena tabungan bisnis yang habis tak tersisa.
Demi menyambung hidup, insting bisnis mereka diuji dengan melakukan pivot tak terduga menjadi penjual lauk pauk matang seperti paru rica dan ayam palekko selama lima bulan layaknya sebuah warung tegal warteg, sebelum akhirnya mencoba membuka kembali outlet nasi kuning di depan kampus UNM Parang Tambung pada tahun 2022.
Titik balik kebangkitan usaha mereka akhirnya ditemukan saat Susi bergabung dan berproses bersama komunitas TDA Perempuan Makassar. Melalui bimbingan mentor dan dukungan dari sesama pelaku usaha di komunitas tersebut, Susi mendapatkan perspektif baru untuk fokus kembali pada produk tumpeng, sebuah ide yang awalnya sempat ia ragukan karena menganggap pasarnya sangat terbatas. Setelah memperbaiki sistem manajemen dan memantapkan diri, mereka nekat meluncurkan kembali produknya dengan nama Tumpeng Kang Ca’di pada tahun 2024 hingga 2026 saat ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....