Balai Gadang Pertahankan Cita Rasa Rendang Keluarga
- 23 Mei 2026 08:36 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Makanan Padang dikenal luas sebagai salah satu kuliner favorit masyarakat Indonesia. Cita rasanya yang kaya rempah dan khas membuat masakan ini selalu diminati berbagai kalangan. Rendang, sebagai salah satu menu andalan khas Minang, bahkan telah dikenal hingga mancanegara karena kelezatannya yang autentik dan menggugah selera.
Dalam perbincangan bersama RRI di Acara Obrolan Teras UMKM pada hari Kamis, 21 Mei 2026 , Hendro Haryanto Founder Run.Dang menceritakan awal mula dirinya bersama sang istri Leli sebagai Owner RM. Balai Gadang, Ia mengungkapkan usaha mereka bermula dari produksi nasi rames, nasi bungkus, dan nasi campur pada tahun 2018.
“Awalnya kami hanya memproduksi lauk-pauk, terutama sayur nangka. Saat itu momennya bulan Ramadan, jadi kami mencoba tes pasar terlebih dahulu. Ternyata banyak warga sekitar yang menyukai sayur nangka buatan kami,” ujar Hendro.
Hendro mengatakan dengan melihat respons positif dari masyarakat, mereka kemudian mulai menjual nasi campur pada pertengahan Ramadan. Menurut Hendro, pada saat itu masyarakat sekitar masih belum terlalu familiar dengan nasi Padang. Namun, perlahan menu yang mereka sajikan mulai diterima dan digemari pelanggan.
“Dari situlah akhirnya kami membuka Rumah Makan Balai Gadang. Alhamdulillah, masyarakat mulai menyukai masakan kami,” tambahnya.
Rendang menjadi salah satu menu andalan yang paling diminati pelanggan. Hendro mengaku tidak terlalu kesulitan mempromosikan masakan Padang karena rendang sudah dikenal luas sebagai makanan khas Indonesia yang memiliki cita rasa istimewa. Ia menjelaskan bahwa rendang yang mereka sajikan tetap mempertahankan cita rasa otentik warisan keluarga. Resep tersebut berasal dari orang tuanya yang berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat, daerah yang terkenal dengan rendangnya.
“Rendang kami memiliki ciri khas rasa dari orang tua yang kami pelajari dan kembangkan. Alhamdulillah, sampai sekarang rasa dan kualitasnya tetap terjaga,” katanya.
Hendro juga menuturkan bahwa memasak rendang bukan sekadar mengikuti resep, melainkan harus dilakukan dengan penuh penghayatan. Menurutnya, proses memasak rendang membutuhkan waktu yang panjang dan suasana hati yang baik agar menghasilkan rasa yang maksimal. “Kalau memasak rendang itu harus menjiwai. Prosesnya lama, bisa berjam-jam, jadi harus dinikmati. Kalau memasaknya tidak dengan hati yang baik, hasilnya juga bisa berbeda,” ujarnya.
Sementara itu, sang istri, Leli, menambahkan bahwa rendang merupakan bagian dari tradisi dan budaya Minang yang memiliki nilai tersendiri. Ia menilai hasil masakan akan berbeda ketika dimasak oleh orang yang benar-benar memiliki hobi dan kecintaan terhadap dunia kuliner. “Kalau hanya sekadar menjalankan kewajiban sebagai koki, hasilnya tentu berbeda dengan orang yang memang menikmati proses memasak,” jelas Leli.
Di tengah tren kuliner modern yang terus berkembang, Hendro dan Leli tetap berusaha menjaga keaslian cita rasa rendang mereka. Meski demikian, mereka juga menyesuaikan tingkat kepedasan agar dapat diterima lidah masyarakat Makassar dan pelanggan dari berbagai kalangan, termasuk anak-anak.
“Rendang asli Padang sebenarnya lebih pedas. Namun, kami menyesuaikannya agar tidak terlalu pedas, tetapi rasa Minangnya tetap terasa. Kalau ada pelanggan yang ingin lebih pedas, biasanya bisa pesan khusus,” kata Hendro.
Menurut mereka, menjaga keseimbangan antara rasa autentik dan selera pelanggan menjadi salah satu kunci agar rendang tetap diminati di tengah dinamika dunia kuliner saat ini. inovasi dalam penyajian dan pelayanan juga menjadi faktor penting untuk mempertahankan eksistensi rendang di tengah persaingan kuliner yang semakin berkembang. Dengan tetap mempertahankan cita rasa khas Minangkabau serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar modern, rendang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia hingga mancanegara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....