Emas Jadi Instrumen Investasi Paling Relevan saat Ini
- 10 Mei 2026 14:16 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, MAKASSAR – Pergerakan harga emas yang terus fluktuatif di pasar global seringkali membuat investor pemula merasa ragu untuk memulai langkah. Banyak anggapan bahwa harga saat ini sudah terlalu tinggi, sehingga muncul kekhawatiran akan potensi kerugian.
Namun, jika ditinjau dari perspektif jangka panjang, tren harga logam mulia ini secara konsisten menunjukkan grafik yang terus menanjak meski dihantam berbagai sentimen global. Ekonom sekaligus dosen dari The Indonesia Capital Market Institute (TICMI), Adriann Sayed, Saat Ngobrol Strategi Investasi di Pro 4 RRI makassar, Minggu 10 Mei 2016 menjelaskan bahwa psikologi merasa terlambat adalah hal yang lumrah dialami masyarakat saat melihat harga emas hari ini.
Namun, ia menekankan pentingnya melihat data historis puluhan tahun ke belakang. Jika ditarik garis lurus secara grafik, posisi harga saat ini memang tinggi, namun potensi untuk mencapai titik yang lebih tinggi lagi di masa depan masih sangat terbuka lebar.
"Kalau kita melihat harga saat ini, kita akan selalu merasa telat. Tapi kalau kita meninjau puluhan tahun yang lalu dan menarik garis lurus secara grafik, memang tinggi saat ini, tapi sebenarnya masih akan terus tinggi ke depannya," ujar Adriann .
Ia memberikan gambaran nyata pada pergerakan harga tahun ini. Pada awal Januari, harga sempat menyentuh level tertinggi di angka 5.600 (dalam satuan tertentu), sebelum akhirnya terkoreksi ke level 4.700 akibat eskalasi konflik dan huru-hara di berbagai belahan dunia. Menurut Adriann, koreksi harga seperti inilah yang seharusnya dimanfaatkan masyarakat untuk masuk dan membeli secara perlahan, karena nilai emas terbukti resilien terhadap inflasi dan krisis.
Lebih lanjut, Adriann berbagi pengalaman pribadinya saat membeli emas di harga Rp800.000 per gram. Kala itu, banyak pihak yang sudah menganggap harga tersebut sangat tinggi.
Namun kenyataannya, harga terus merangkak naik melampaui angka tersebut. Hal ini membuktikan bahwa emas memiliki korelasi kuat dengan kondisi dunia yang tidak stabil; semakin kacau situasi geopolitik atau peperangan, maka harga emas justru akan semakin melambung tinggi sebagai pelindung nilai. "
Dulu banyak yang ragu saat saya beli emas di angka Rp800.000. Katanya sudah terlalu tinggi. Tapi faktanya? Emas selalu menang melawan ketidakpastian. Semakin tinggi tensi geopolitik, semakin kuat harga emas merangkak naik. Ini bukan sekadar investasi, ini adalah asuransi di tengah kekacauan dunia." Ungkapnya.
Dalam perspektif yang lebih luas, kenaikan harga emas tidak hanya dipicu oleh pembelian ritel atau perorangan. Adriann menyoroti bahwa bank-bank sentral di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, India, hingga Bank Indonesia, terus menambah cadangan emas mereka. Permintaan besar dari institusi negara inilah yang menjadi motor penggerak utama mengapa harga emas sulit untuk turun dalam jangka panjang.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa emas adalah aset yang perlu disimpan dengan kesabaran. Di tengah kondisi dunia yang semakin tidak menentu dan penuh tantangan, emas tetap menjadi instrumen yang paling relevan untuk menjaga kekayaan. Dengan permintaan yang terus meningkat dari berbagai negara, kenaikan harga emas di masa mendatang bukan lagi sekadar prediksi, melainkan sebuah kewajaran ekonomi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....