Mengenal Istilah Dara Daeng dalam Persepsi Budaya Makassar

  • 03 Sep 2025 19:16 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar: Istilah Dara Daeng memadukan kata “Dara”, yang berarti gadis, dengan “Daeng”, sebuah gelar adat Makassar yang sarat makna kultural dan sosial. Sebutan ini bukan sekadar gelaran untuk mempercantik nama, melainkan sebuah simbol penghormatan yang lahir dari doa orang tua, representasi tata krama, serta cerminan nilai religius yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Makassar.

Menurut Stephanie Prisilia Djaswadi (2014) dalam jurnal Makna Daeng dalam Kebudayaan Suku Makassar dari situs journal.unair.ac.id, penggunaan Daeng sejak dahulu merupakan nama pemberian orang tua yang sarat doa dan penghambaan kepada Allah, sekaligus gelar yang diberikan kepada mereka yang memiliki kelebihan atau kedudukan bangsawan. Dari pandangan ini jelas bahwa gelar Daeng tidak berdiri sekadar sebagai tanda status, tetapi juga sebagai identitas religius dan sosial yang penuh makna.

Sementara itu, Tamrin (2015) dalam jurnal Perluasan Makna Kata Sapaan Daeng dalam Bahasa Makassar dari laman researchgate.net menjelaskan bahwa istilah ini kini telah meluas penggunaannya, bahkan dipakai untuk menyapa masyarakat menengah ke bawah seperti tukang becak atau pedagang keliling, karena dianggap sopan dan ramah. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran makna dari yang awalnya terbatas pada golongan tertentu menjadi istilah egaliter yang lebih inklusif dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks Dara Daeng, perpaduan dua unsur ini membawa simbol penghormatan terhadap perempuan muda yang dipandang sebagai penerus nilai budaya. Gelar tersebut menempatkan anak perempuan bukan hanya sebagai figur keluarga, tetapi juga sebagai wajah budaya Makassar yang menyatukan nilai religius, adat, dan ekspresi sosial modern.

Dengan demikian, mengenal istilah Dara Daeng berarti memahami dinamika budaya Makassar yang terus bergerak dari masa ke masa. Istilah ini adalah jembatan antara tradisi dan perubahan, sebuah simbol bahwa perempuan muda dihargai tidak hanya karena kecantikan atau statusnya, melainkan karena perannya sebagai pewaris budaya dan identitas kolektif masyarakat. (Sari)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....