Sipakatau dan Sipakainge Jadi Benteng Cegah Narkoba
- 13 Mei 2026 14:02 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama. Tidak sedikit kasus menunjukkan bahwa narkoba sering masuk melalui celah “pelarian”, ketika anak merasa kehilangan tempat bercerita, kurang mendapat perhatian, atau menghadapi tekanan emosional dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal di Pro 4 RRI Makassar pada hari Senin, 11 Mei 2026, Dosen Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Basiah, S.S., M.A., menilai bahwa keluarga memiliki peran utama dalam mendeteksi perubahan perilaku anak sejak dini. Menurutnya, nilai budaya Bugis-Makassar seperti sipakatau dan sipakainge sangat relevan diterapkan dalam kehidupan keluarga modern saat ini.
“Sipakatau berarti saling memanusiakan, sedangkan sipakainge berarti saling mengingatkan. Dua filosofi ini penting diterapkan agar anak merasa dihargai, didengar, dan tidak takut terbuka kepada orang tua,” ujar Basiah.
Ia menjelaskan, banyak anak memilih mencari “pelarian” ketika menghadapi tekanan akademik, pergaulan, maupun masalah pribadi yang tidak mampu mereka ungkapkan. Dalam kondisi tersebut, narkoba kerap hadir sebagai jalan instan yang dianggap mampu menghilangkan beban sesaat.
Menurut Basiah, penerapan nilai sipakatau dalam keluarga dapat dimulai dari komunikasi sederhana, seperti mendengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi. Dengan sikap saling menghargai, anak akan merasa aman untuk menyampaikan keresahan maupun masalah yang sedang dihadapi.
Sementara itu, nilai sipakainge dapat diwujudkan melalui kebiasaan saling mengingatkan dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang. Orang tua diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih tertutup, mudah marah, kehilangan semangat belajar, hingga perubahan lingkungan pertemanan.
“Deteksi dini itu penting. Jangan menunggu sampai anak benar-benar terjerumus. Kadang perubahan kecil dalam sikap atau kebiasaan sehari-hari bisa menjadi tanda bahwa anak sedang menghadapi masalah,” jelasnya.
Basiah juga menekankan bahwa pendekatan budaya lokal tidak boleh dianggap kuno. Justru di tengah perkembangan era digital dan tantangan sosial saat ini, nilai-nilai kearifan lokal dapat menjadi pondasi kuat dalam membangun ketahanan keluarga.
Ia berharap masyarakat, khususnya para orang tua, dapat kembali menghidupkan budaya dialog dalam keluarga agar anak tidak merasa sendirian menghadapi persoalan hidup.
“Anak yang merasa dihargai dan diperhatikan biasanya memiliki benteng yang lebih kuat untuk menolak pengaruh negatif, termasuk narkoba,” tutup Basiah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....