Membangun Kepedulian Sosial Melalui Nilai Budaya Pesse
- 28 Jul 2026 15:32 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Nilai budaya pesse dapat menjadi landasan penting dalam membangun solidaritas, baik di lingkungan kampus maupun di tengah kehidupan bermasyarakat. Nilai ini mengajarkan setiap individu untuk saling peduli, saling membantu, serta bergotong royong dalam menghadapi berbagai persoalan.
Andi Tenri Bali Baso, S.S., M.Hum - Dosen Departemen Sastra Daerah FIB Universitas Hasanuddin dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar edisi Senin, 27 Juli 2026, menjelaskan bahwa semangat kebersamaan tidak dapat dipisahkan dari sikap saling mendoakan, bahu-membahu, dan memberikan pertolongan kepada sesama. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki integritas yang tinggi, tetapi juga harus memiliki kepedulian terhadap teman-temannya.
"Mahasiswa harus memiliki semangat untuk saling membantu. Jangan hanya memikirkan diri sendiri. Kepedulian terhadap teman merupakan hal yang sangat penting, nilai kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti saling mengingatkan, memberikan dukungan kepada teman yang sedang menghadapi kesulitan, serta menciptakan lingkungan pergaulan yang sehat dan bebas dari pengaruh negatif", ujarnya.
Andi Tenri juga menyinggung fenomena yang kerap muncul di kalangan anak muda saat ini, yakni sikap yang hanya berorientasi pada kepentingan pribadi. Menurutnya, dalam dunia pendidikan, terutama di perguruan tinggi, tidak seharusnya muncul persaingan yang tidak sehat, seperti keinginan agar hanya dirinya yang memperoleh prestasi terbaik sementara orang lain tidak.
"Menjadi mahasiswa bukan berarti harus merasa senang jika hanya diri sendiri yang memperoleh nilai terbaik. Justru akan lebih baik jika kita sama-sama berkembang dan sama-sama meraih keberhasilan, semangat kebersamaan merupakan wujud nyata dari nilai pesse, yakni sikap empati, kepedulian, dan solidaritas terhadap sesama”, kata Andi Tenri.
Lebih lanjut, Andi Tenri menjelaskan bahwa sejak kecil seseorang telah dibentuk melalui berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah. Namun, masa perkuliahan merupakan fase penting bagi seseorang untuk menemukan jati diri sekaligus membangun karakter yang sesungguhnya.
| Baca juga: Meluruskan Mitos Ekstrem Badik Bugis |
Menanggapi semakin menguatnya sikap individualistis di tengah kehidupan modern, ia menilai bahwa masyarakat perlu kembali menghidupkan nilai-nilai budaya lokal sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah dengan kembali memahami makna siri', yang merupakan nilai luhur masyarakat Bugis-Makassar.
Menurutnya, siri' bukan sekadar rasa malu, tetapi menjadi pedoman moral yang tertanam dalam diri setiap individu. Ketika seseorang benar-benar memahami dan mengamalkan nilai siri', maka karakter, kepribadian, dan kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar akan terbentuk secara alami. "Kalau kita memahami makna siri', dampaknya akan terlihat pada kepribadian kita. Kita akan lebih memiliki empati terhadap orang-orang di sekitar," jelasnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun komunikasi yang baik, baik di lingkungan pertemanan maupun di dalam keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan fondasi utama dalam menanamkan nilai-nilai pesse, karena dari lingkungan keluargalah seseorang pertama kali belajar tentang kepedulian, tanggung jawab, dan solidaritas.
Andi Tenri mengingatkan pentingnya mengoptimalkan delapan fungsi keluarga, seperti fungsi keagamaan, pendidikan, kasih sayang, perlindungan, sosialisasi, ekonomi, pembinaan lingkungan, dan reproduksi. Peran ayah, ibu, kakak, maupun anak dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut akan menjadi dasar yang kuat dalam membentuk karakter individu yang peduli terhadap sesama. "Nilai-nilai utama itu berawal dari keluarga. Ketika delapan fungsi keluarga berjalan dengan baik, maka nilai pesse dan kepedulian sosial akan tumbuh secara alami dalam diri setiap anggota keluarga," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....