Memahami Fitrah Anak, Kunci Menerapkan Pola Asuh yang Tepat

  • 28 Jun 2026 11:58 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Memahami fitrah anak menjadi salah satu kunci penting dalam menerapkan pola asuh yang tepat. Setiap anak diyakini lahir dalam keadaan suci dan telah dibekali potensi serta keunikan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami setiap tahapan perkembangan anak agar proses pengasuhan dapat berjalan sesuai dengan kebutuhan dan fitrahnya.

Dalam dialog Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar pada hari Jumat, 26 Juni 2026, Al Nur Fatmawati Abd. Fattah, S.S., C.HTh. - Founder STIFIn Education, Anthurium Foundation, Silver Shiny Corporation, menjelaskan bahwa fitrah merupakan kondisi suci yang dimiliki setiap manusia sejak lahir. Selain itu, setiap anak telah dibekali potensi yang menjadi modal dasar untuk berkembang sesuai dengan karakter dan kemampuannya masing-masing.

Menurutnya, fitrah tidak hanya berkaitan dengan perkembangan intelektual, tetapi juga mencakup perkembangan emosional, spiritual, dan jasmani. Seluruh aspek tersebut berkembang secara bertahap dan membutuhkan pemenuhan yang seimbang agar anak dapat tumbuh secara optimal.

"Setiap manusia lahir sesuai dengan fitrahnya. Allah SWT telah memberikan bekal dan potensi kepada setiap anak. Fitrah itu mencakup perkembangan akal, emosi, jiwa, hingga jasmani yang semuanya memiliki tahapan perkembangan masing-masing," jelasnya.

Ia mengatakan, dalam konsep pendidikan berbasis fitrah terdapat empat tahapan perkembangan anak. Tahap pertama adalah masa pembentukan pada usia 0 hingga 7 tahun. Selanjutnya, tahap penggemblengan berlangsung pada usia 7 hingga 10 tahun, diikuti tahap pendampingan pada usia 11 hingga 15 tahun, serta tahap pengabdian pada usia 16 hingga 20 tahun.

Menurutnya, apabila setiap tahapan tersebut dijalani secara optimal, maka pada usia sekitar 16 tahun seorang anak telah memiliki bekal untuk menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, bahkan mampu menjadi pemimpin.

“Pada usia 0 hingga 7 tahun, perkembangan anak lebih didominasi oleh fungsi otak kanan yang berhubungan dengan imajinasi, kreativitas, kasih sayang, dan eksplorasi. Karena itu, orang tua dianjurkan memperbanyak interaksi yang penuh cinta, memberikan ruang bermain, serta mendampingi anak dalam mengeksplorasi lingkungan sekitarnya”, jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kemampuan berpikir logis yang berkaitan dengan fungsi otak kiri umumnya mulai berkembang setelah anak berusia sekitar tujuh tahun. Oleh sebab itu, pada masa sebelum usia tersebut anak dinilai belum mampu memahami logika secara matang sehingga pendekatan berupa kemarahan atau hukuman bukanlah cara yang tepat dalam mendidik mereka.

"Anak usia di bawah tujuh tahun belum berkembang logikanya. Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa mereka masih berada pada tahap belajar dan membutuhkan pendampingan dengan kasih sayang, Pada masa ini, anak lebih mudah memahami sesuatu melalui contoh, kebiasaan, dan pengalaman yang diberikan oleh orang-orang di sekitarnya dibandingkan dengan nasihat atau hukuman. Oleh karena itu, sikap sabar, komunikasi yang lembut, serta keteladanan dari orang tua menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter, rasa aman, dan kepercayaan diri anak sejak dini. " ujarnya.

Memasuki usia 7 hingga 10 tahun, orang tua mulai dapat menerapkan pembiasaan dan pembentukan disiplin secara lebih terarah. Sementara itu, pada usia 11 hingga 15 tahun, pola komunikasi perlu berubah menjadi lebih bersahabat. Orang tua diharapkan mampu menjadi teman berdiskusi agar anak merasa nyaman menyampaikan pikiran maupun perasaannya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah terlalu berfokus pada hasil dibandingkan proses yang dijalani anak. Ketika anak melakukan kesalahan, mereka cenderung lebih sering dikoreksi. Sebaliknya, ketika anak menunjukkan perilaku baik atau meraih keberhasilan, apresiasi justru sering kali terabaikan. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat membuat anak merasa takut bertemu orang tua karena khawatir hanya akan menerima kritik. Akibatnya, anak memilih menjaga jarak bukan karena kehilangan rasa sayang, melainkan karena takut mengecewakan orang tua.

"Anak bukan tidak menyayangi orang tuanya. Mereka sering kali menjauh karena takut tidak mampu memenuhi harapan ayah dan bundanya. Mereka khawatir akan dimarahi atau dianggap belum memberikan hasil yang terbaik. Akibatnya, anak memilih memendam perasaan, menghindari komunikasi, atau menutupi kesulitan yang sedang dihadapinya. Padahal, yang paling mereka butuhkan bukanlah tuntutan untuk selalu sempurna, melainkan penerimaan, dukungan, dan ruang yang aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi”, tuturnya.

Oleh karena itu, ia mengajak para orang tua untuk mempelajari tahapan perkembangan anak berdasarkan fitrahnya. Dengan memahami karakteristik setiap fase pertumbuhan, orang tua diharapkan dapat menerapkan pola asuh yang lebih bijaksana, membangun komunikasi yang hangat, serta memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....