Makna Pohon Induk, Kalosi, dan Lambiri dalam Upacara Rambu Solo’ Toraja

  • 22 Jun 2026 22:20 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Kekayaan budaya Toraja tidak hanya tercermin melalui prosesi pemakaman adat Rambu Solo’, tetapi juga melalui pemanfaatan berbagai unsur alam yang sarat makna filosofis. Di antara unsur penting tersebut adalah keberadaan pohon induk, pohon kalosi, dan pohon lambiri yang memiliki fungsi tersendiri dalam pelaksanaan upacara adat. Prosesi Pemakaman Puang Lai' A.Pappang Nura Bandaso (Nenek Toko) saat ini melaksanakan prosesi rambu solo mulai dari tanggal 13 Juni hingga 27 juni 2026. Di Tongkonan maruang Batupiak Kelurahan nonongan kecamatan Sopia, kabupaten toraja.

Dalam tradisi Rambu Solo’, pohon induk (a’riri posi’) berfungsi sebagai tiang utama atau pusat yang menjadi simbol asal-usul kehidupan dan persatuan keluarga besar. Keberadaannya melambangkan hubungan antara manusia dengan leluhur serta Sang Pencipta.

Sementara itu, pohon kalosi digunakan sebagai tempat pengikatan kerbau yang akan dipersembahkan dalam upacara. Selain memiliki fungsi praktis, pohon ini juga menjadi simbol penghormatan kepada leluhur, kemakmuran, dan status sosial keluarga yang menyelenggarakan Rambu Solo’.

Adapun pohon lambiri dimanfaatkan sebagai bagian dari bahan penunjang bangunan sementara dan perlengkapan upacara. Pohon ini melambangkan keteguhan, perlindungan, dan keberlanjutan kehidupan antargenerasi dalam masyarakat Toraja.

Menurut Dr. Dirk Sandarupa, M.Hum., MCE, keberadaan berbagai jenis pohon dalam Rambu Solo’ menunjukkan bahwa masyarakat Toraja memiliki pengetahuan ekologis yang kuat dan memandang alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan budaya.

“Penggunaan pohon induk, kalosi, dan lambiri dalam Rambu Solo’ mencerminkan filosofi Tallu Lolona, yaitu keharmonisan antara manusia (lolo tau), tumbuhan (lolo tananan), dan hewan (lolo patuan). Hal ini menunjukkan bahwa budaya Toraja dibangun di atas prinsip keseimbangan antara manusia dan alam,” ujarnya. Senin, 22 Juni 2026.

Nilai-nilai tersebut menjadi bukti bahwa kearifan lokal Toraja tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga mengandung pesan pelestarian lingkungan yang relevan bagi generasi masa kini dan masa depan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....