Tombi, Penanda Kehormatan dalam Rambu Solo’ di Tana Toraja

  • 20 Jun 2026 08:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Upacara adat Rambu Solo’ kembali berlangsung khidmat di Kabupaten Tana Toraja. Prosesi pemakaman Puang Lai’ A. Pappang Nura Bandaso atau yang akrab dikenal sebagai Nenek Toko menjadi perhatian masyarakat karena sarat dengan nilai budaya, tradisi, dan semangat gotong royong yang masih terjaga hingga kini.

Rangkaian upacara yang digelar di Tongkonan Maruang Batupiak, Kelurahan Nonongan, Kecamatan Sopai, berlangsung sejak 13 Juni dan akan berakhir pada 27 Juni 2026. Berbagai tahapan adat telah dilaksanakan, mulai dari pengangkatan jenazah ke tongkonan, ma'badong, mangriu batu, manombon, ma'pasak tedong, hingga ma'parokko alang.

Salah satu prosesi yang menarik perhatian adalah pendirian tombi, yang dilakukan secara gotong royong oleh keluarga dan kerabat setelah tahapan ma'pasak tedong dan ma'parokko alang pada Jumat, 19 Juni 2026. Tombi merupakan tiang bambu yang menjadi simbol penting dalam tradisi Rambu Solo’ masyarakat Toraja.

Dalam budaya Toraja, tombi berfungsi sebagai penanda berlangsungnya upacara adat sekaligus lambang penghormatan kepada almarhum. Tiang bambu tersebut biasanya dihiasi kain atau panji-panji adat yang mencerminkan status sosial, kehormatan keluarga, serta penghargaan kepada leluhur yang telah berpulang.

Cucu almarhumah, Dirk Sandarupa, turut hadir dan mengikuti prosesi pendirian tombi. Menurutnya, bambu dipilih bukan hanya karena kuat dan ringan, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Toraja.

“Dalam perspektif budaya Toraja, bambu dipilih bukan hanya karena sifatnya yang ringan dan kuat, tetapi juga karena memiliki nilai simbolik sebagai bagian dari alam yang menyertai siklus kehidupan manusia, dari kelahiran hingga kematian,” ujar Dirk saat dikonfirmasi, Jumat, 19 Juni 2026.

Dirk menambahkan, dari sudut pandang antropologi budaya, tombi merupakan simbol visual yang menandai ruang ritual sekaligus menunjukkan identitas dan stratifikasi sosial dalam pelaksanaan upacara Rambu Solo’.

Dalam tradisi Toraja, tombi berupa panji atau bendera yang dipasang pada batang bambu pilihan yang lurus dan kokoh. Selain menjadi simbol penghormatan kepada leluhur, tombi juga berfungsi sebagai sarana informasi bagi masyarakat bahwa sebuah upacara adat dan masa duka sedang berlangsung di lingkungan keluarga tersebut.

Dirk menuturkan ciri tombi dalam upacara Rambu Solo' antara lain:

  • Bahan utama: bambu pilihan yang lurus dan kokoh.
  • Hiasan: kain merah, putih, atau motif khas Toraja, serta ornamen tertentu sesuai tingkatan upacara.
  • Makna simbolik: melambangkan penghormatan kepada leluhur dan menjadi penanda berlangsungnya upacara adat.
  • Penempatan: didirikan di sekitar lokasi upacara rante dan rumah adat tongkonan.

"Dalam perspektif budaya Toraja, bambu dipilih bukan hanya karena sifatnya yang ringan dan kuat, tetapi juga karena memiliki nilai simbolik sebagai bagian dari alam yang menyertai siklus kehidupan manusia, dari kelahiran hingga kematian," Kata Dirk.

Dirk mengatakan Jika ditinjau secara antropologi budaya, tombi dapat dipahami sebagai simbol visual yang menandai ruang ritual dan menunjukkan identitas serta stratifikasi sosial dalam pelaksanaan upacara Rambu Solo.

Tombi adalah panji atau bendera yang terbuat dari kain panjang dan dipasang pada sebatang bambu.Tombi berfungsi sebagai tanda atau lambang status sosial dan sarana informasi dari keluarga yang sedang berduka.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....