Barongko, Kudapan Warisan Bangsawan Bugis yang Sarat Filosofi
- 10 Jun 2026 09:38 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar - Barongko merupakan salah satu kuliner tradisional khas Bugis-Makassar yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2017. Kudapan berbahan dasar pisang kepok ini tidak hanya dikenal karena cita rasanya yang lembut dan manis, tetapi juga menyimpan nilai filosofi yang mendalam bagi masyarakat Bugis-Makassar.
Dilansir dari Bengkelnarasi.com barongko memiliki kemiripan dengan nagasari karena sama-sama dibungkus daun pisang. Namun, perbedaannya terletak pada bahan utama yang digunakan.
Pada Barongko, pisang kepok atau yang dikenal dengan sebutan utti manurung dihaluskan bersama santan, gula, dan telur hingga menjadi adonan lembut sebelum dibungkus daun pisang dan dikukus. Hasilnya adalah kue bertekstur lembut, manis, dan segar, terutama ketika disajikan dalam keadaan dingin. Hingga kini, Barongko masih menjadi hidangan yang sering hadir dalam berbagai acara adat, keagamaan, pernikahan, aqiqah, hingga sajian berbuka puasa di bulan Ramadan.
Menurut catatan sejarah, Barongko pada masa lalu merupakan makanan istimewa yang hanya disajikan untuk kalangan bangsawan dan raja-raja Bugis-Makassar. Hidangan ini biasanya hadir dalam pesta adat, acara keagamaan, maupun jamuan resmi kerajaan sebagai hidangan penutup.
Seiring perkembangan zaman, Barongko semakin dikenal luas dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Meski demikian, proses pembuatannya tetap mempertahankan resep tradisional agar cita rasa khasnya tetap terjaga.
Lebih dari sekadar makanan, Barongko mengandung filosofi penting dalam budaya Bugis-Makassar. Berdasarkan penjelasan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kata Barongko berasal dari ungkapan “barangku mua udoko” yang berarti “barangku sendiri yang kubungkus.”
Makna tersebut mencerminkan nilai siri’ atau harga diri yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Bugis-Makassar. Membungkus dan menjaga sesuatu yang berharga menjadi simbol menjaga kehormatan, martabat, dan harga diri dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, penggunaan pisang yang dibungkus daun pisang juga melambangkan kejujuran. Apa yang terlihat dari luar sama dengan isi di dalamnya. Filosofi ini mengajarkan bahwa hati, pikiran, dan tindakan harus berjalan selaras serta mencerminkan kepribadian yang baik.
Dalam kehidupan rumah tangga, nilai tersebut menjadi simbol penting untuk membangun hubungan yang harmonis. Keselarasan sikap dan ketulusan antara pasangan dipercaya menjadi fondasi dalam menciptakan keluarga yang bahagia.
Dengan cita rasa khas dan makna budaya yang mendalam, Barongko tidak hanya menjadi sajian tradisional, tetapi juga representasi nilai-nilai luhur masyarakat Bugis-Makassar yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....