Tradisi Pengukuhan Gelar Haji yang Sarat Makna Kultural di Sulawesi Selatan
- 29 Mei 2026 10:25 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Kepulangan jemaah haji asal Sulawesi Selatan selalu berhasil mencuri perhatian publik tanah air dengan penampilannya yang megah dan mencolok. Di balik busana talukung berlapis dan perhiasan yang berkilau, terdapat sebuah ritual kultural krusial yang disebut Mappatoppok. Tradisi meletakkan penutup kepala khas haji ini menjadi penanda resmi bahwa seorang jemaah telah menyelesaikan rukun Islam kelima dan siap menyandang status sosial baru di tengah masyarakat.
Bagi masyarakat Bugis-Makassar, Mappatoppok bukan sekadar prosesi berganti pakaian sesaat setelah turun dari pesawat. Ritual ini merupakan simbol transformasi spiritual yang mendalam, di mana penutup kepala yang dipasangkan dianggap sebagai "mahkota tanggung jawab". Prosesi ini biasanya dipimpin oleh tokoh agama senior atau kerabat yang telah lebih dulu menunaikan ibadah haji, diiringi dengan lantunan selawat dan doa keselamatan yang khidmat.
Dikutip dari kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX.,Tradisi ini juga menjadi salah satu bentuk pengukuhan status sosial dan kehormatan (Siri’) bagi keluarga besar jemaah. Mengingat perjuangan finansial dan fisik yang luar biasa untuk bisa berangkat ke tanah suci, keberhasilan kembali ke kampung halaman dengan selamat adalah prestasi tertinggi. Oleh karena itu, penyambutan ritual ini dipersiapkan dengan sangat matang sebagai bentuk apresiasi kolektif dari keluarga dan tetangga sekitar.
Budayawan Sulawesi Selatan, Dr. Andi Muhammad Akhmar, M.Hum., menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan bentuk nyata dari akulturasi yang harmonis. "Mappatoppok adalah jembatan estetis antara syariat Islam dan ekspresi kultural lokal. Pakaian megah dan ritual ini tidak boleh hanya dilihat dari kacamata kemewahan lahiriah, melainkan harus dimaknai sebagai ekspresi rasa syukur yang mendalam atas karunia spiritual yang luar biasa," ujarnya saat diwawancarai media.
Tidak hanya bagi sang jemaah, momentum Mappatoppok juga menjadi berkah tersendiri bagi kerabat dan tetangga yang hadir menjemput. Masyarakat setempat percaya bahwa jemaah yang baru saja menginjakkan kaki dari Makkah membawa berkah spiritual (barakka) yang melimpah. Menghadiri ritual ini dan bersalaman dengan jemaah dianggap mampu menularkan doa baik agar mereka yang hadir bisa segera menyusul ke Baitullah.
Namun, di era digital ini, tradisi Mappatoppok terkadang memicu perdebatan di media sosial karena visualisasinya yang dinilai sebagian netizen terlalu berlebihan. Kendati demikian, bagi masyarakat lintas generasi di Sulawesi Selatan, tradisi ini tetap kokoh berdiri menembus zaman. Nilai gotong royong dan ikatan kekeluargaan yang tebal dalam prosesi ini justru menjadi benteng pertahanan kebudayaan lokal yang tidak mudah luntur.
Melalui tradisi Mappatoppok, tersimpan harapan besar agar para haji dan hajjah baru mampu menjadi agen perubahan moral di lingkungan mereka. Simbol penutup kepala yang diberikan diharapkan menjadi pengingat abadi untuk menjaga tutur kata, meningkatkan kedermawanan, serta memperkuat integritas sosial. Pada akhirnya, tradisi ini menegaskan bahwa esensi ibadah haji di Sulawesi Selatan akan terus hidup dan berdampak nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....