CSR Angkasa Pura Indonesia Dorong Sanggar Seni Sulsel Terus Berkarya
- 13 Mei 2026 18:35 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Maros - PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Sultan Hasanuddin kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya lokal melalui penyaluran bantuan program Corporate Social Responsibility (CSR) kepada Lembaga Seni Budaya Pajaga Ada’. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Tunggu Keberangkatan Gate 5 Bandara Sultan Hasanuddin pada Selasa, 12 Mei 2026 tersebut menjadi bagian dari Program Dukungan kepada Sanggar Seni, Komunitas Budaya, dan Penggiat Kebudayaan Tahun 2026 melalui Program InJourney Airport Community Upskilling for Aviation atau Pojok Budaya.
Program tersebut dilaksanakan serentak di lingkungan PT Angkasa Pura Indonesia sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan komunitas seni sekaligus upaya menjaga keberlangsungan budaya daerah di tengah arus modernisasi dan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi. Kehadiran program budaya di lingkungan bandara juga menegaskan bahwa bandara bukan hanya sekadar fasilitas transportasi udara, tetapi dapat menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan mancanegara.
Dalam kegiatan tersebut, Lembaga Seni Budaya Pajaga Ada’ menampilkan berbagai pertunjukan seni tradisional khas Sulawesi Selatan yang memikat perhatian para penumpang di area terminal keberangkatan. Iringan musik tradisional, tarian daerah, serta nuansa budaya lokal yang ditampilkan menghadirkan atmosfer berbeda di tengah aktivitas bandara yang padat.
Tidak sedikit penumpang yang tampak antusias menyaksikan pertunjukan tersebut, bahkan mengabadikan momen sebagai bagian dari pengalaman perjalanan mereka. Kehadiran pertunjukan budaya di area bandara dinilai memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar hiburan.
Di tengah berkembangnya industri transportasi dan pariwisata, bandara kini menjadi salah satu wajah pertama yang dilihat wisatawan saat memasuki suatu daerah. Karena itu, pengenalan budaya lokal sejak di lingkungan bandara dianggap mampu membangun kesan awal yang kuat mengenai identitas dan karakter daerah tujuan.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Ruly Artha, menegaskan bahwa pihaknya ingin menghadirkan bandara yang tidak hanya fokus pada pelayanan transportasi, tetapi juga menjadi ruang representasi budaya dan kearifan lokal Sulawesi Selatan. Menurutnya, keberadaan unsur budaya di lingkungan bandara diharapkan mampu menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih hangat, berkarakter, dan berkesan bagi para pengguna jasa bandara.
Selain itu, program tersebut juga menjadi bentuk kontribusi perusahaan dalam menjaga eksistensi komunitas seni budaya agar tetap aktif berkarya dan mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas. “Melalui program ini, kami ingin menghadirkan bandara yang tidak hanya memberikan pelayanan transportasi, tetapi juga menghadirkan nilai budaya dan kearifan lokal. Kehadiran budaya di lingkungan bandara diharapkan memberikan pengalaman perjalanan yang lebih berkesan bagi masyarakat,” ujar Ruly Artha.
Program CSR berbasis budaya ini juga dipandang sebagai langkah strategis dalam mendukung pelestarian tradisi lokal di tengah perubahan zaman. Ruang-ruang publik seperti bandara dinilai memiliki potensi besar sebagai media promosi budaya karena menjadi titik pertemuan masyarakat dari berbagai daerah dan negara.
Dengan menampilkan seni budaya secara langsung di area pelayanan publik, masyarakat tidak hanya dikenalkan pada hiburan tradisional, tetapi juga diajak memahami nilai dan identitas budaya yang melekat di dalamnya. Selain mendukung pelestarian budaya, kegiatan tersebut turut membuka ruang ekspresi bagi generasi muda untuk tetap terlibat dalam aktivitas seni tradisional.
Keberadaan komunitas budaya dan sanggar seni diharapkan terus tumbuh sebagai wadah pembinaan kreativitas sekaligus penjaga warisan budaya daerah agar tidak tergerus perkembangan zaman. Apresiasi terhadap program tersebut juga datang dari Anggota Komisi VIII DPR RI, Sri Wulan.
Ia menilai kehadiran pertunjukan seni budaya di lingkungan Bandara Sultan Hasanuddin menjadi langkah positif dalam memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat luas sekaligus menciptakan suasana perjalanan yang lebih menarik bagi penumpang. Menurutnya, penguatan identitas budaya di ruang publik seperti bandara dapat menjadi nilai tambah tersendiri bagi daerah, terutama dalam mendukung sektor pariwisata dan memperkuat citra daerah di mata wisatawan.
“Kami mengapresiasi Bandara Sultan Hasanuddin yang menghadirkan ruang bagi pelestarian budaya daerah di lingkungan bandara. Kehadiran budaya lokal seperti ini tentu menjadi nilai tambah yang dapat memberikan pengalaman berbeda dan lebih berkesan bagi para pengguna jasa bandara,” ungkap Sri Wulan.
Melalui program Pojok Budaya tersebut, PT Angkasa Pura Indonesia menunjukkan bahwa pengembangan sektor transportasi udara dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian budaya lokal. Sinergi antara dunia transportasi, komunitas seni, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat identitas budaya daerah sekaligus menjadikan bandara sebagai etalase budaya Indonesia yang hidup dan terus berkembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....