Keanekaragaman Hayati: Fondasi Tersembunyi di Balik Ritual dan Adat
- 10 Mei 2026 13:13 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID - Makassar - Keanekaragaman hayati memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kehidupan manusia, bukan hanya dalam aspek lingkungan, tetapi juga dalam budaya, tradisi, hingga kebutuhan sehari-hari. Hampir seluruh hal yang menopang kehidupan manusia berasal dari kekayaan hayati yang ada di sekitar kita. Hal ini di ungkapkan Darmawan Denassa (Pemilik Rumah Hijau Denassa) dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar pada hari Jumat, 8 Mei 2026
Darmawan Denassa mengatakan makanan yang kita konsumsi setiap hari merupakan contoh paling sederhana. Nasi berasal dari tumbuhan, ikan berasal dari hewan laut air tawar, sedangkan daging yang kita makan berasal dari ayam, sapi, dan kambing. Semua itu adalah bagian dari keanekaragaman hayati. Karena itu, bukan hanya seni, budaya, dan tradisi yang bergantung pada alam, tetapi juga kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup
“Bahkan pakaian yang digunakan manusia juga berkaitan dengan kekayaan hayati. Kain sutra, misalnya, dibuat dari ulat sutra yang memakan daun murbei. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia hampir tidak pernah terlepas dari peran tumbuhan dan hewan”,ucap Denassa.
Denassa menambahkan dalam tradisi masyarakat, keterkaitan tersebut terlihat semakin jelas. Pada acara pernikahan adat, misalnya, sering ditemukan berbagai perlengkapan tradisi seperti pisang satu tandan, tebu satu batang, hingga batang pisang muda yang dibawa sebagai simbol adat. Kue-kue tradisional yang disajikan pun banyak menggunakan bahan alami, seperti gula yang berasal dari tebu. Hampir seluruh unsur dalam tradisi tersebut bersumber dari alam dan keanekaragaman hayati.
Lebih lanjut Denassa menjelaskan Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Kekayaan ini seharusnya menjadi sumber daya penting yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Namun, masih banyak masyarakat yang belum menyadari besarnya potensi tersebut serta pentingnya menjaga kelestariannya.
“Hubungan antara keanekaragaman hayati dan budaya juga terlihat pada alat musik tradisional. Masyarakat Makassar, misalnya, mengenal alat musik pui-pui yang dibuat dari kayu. Gendang tradisional dibuat dari kayu angsana dan kulit hewan, sementara pemukulnya berasal dari tanduk kerbau. Semua bahan tersebut berasal dari alam”, terang Denassa.
Hal ini menjadi pengingat bahwa jika beberapa jenis tumbuhan atau hewan mulai langka bahkan punah, maka tradisi dan budaya yang bergantung pada bahan-bahan tersebut juga akan terancam hilang. Oleh karena itu, menjaga keanekaragaman hayati bukan hanya tentang melindungi alam, tetapi juga menjaga identitas budaya, tradisi, dan keberlangsungan kehidupan manusia itu sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....