Makna Filosofis Passapu, Simbol Kehormatan Pria Makassar
- 09 Mei 2026 21:22 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, MAKASSAR - Pernahkah Anda memperhatikan simpul pada kain kepala pria Makassar? Simpul tersebut bukan sekadar pengikat agar kain tidak terlepas, melainkan simbol dari ikatan janji dan komitmen. Dalam filosofi Sulawesi Selatan, simpul Passapu diletakkan di tempat yang strategis untuk menunjukkan bahwa seorang pria telah "mengikat" hawa nafsunya dan mengedepankan akal serta kebijaksanaan dalam memimpin.
Dilansir dari Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan serta Dokumentasi Lembaga Adat Passapu Makassar. Secara teknis, cara melilit Passapu disebut dengan istilah Ma'passapu. Proses ini membutuhkan ketelatenan, mencerminkan bahwa untuk mencapai sebuah kemuliaan atau kedudukan, seseorang harus melalui proses panjang dan penuh kesabaran.
Setiap lilitan kain menggambarkan lapisan perlindungan diri, baik perlindungan secara fisik maupun perlindungan spiritual dari pengaruh buruk dunia luar. Salah satu filosofi yang paling menarik adalah posisi ujung kain. Jika ujung kain menghadap ke depan, itu melambangkan kesiapan untuk menghadapi tantangan dan musuh.
Namun, dalam konteks sosial saat ini, hal itu lebih dimaknai sebagai visi masa depan. Passapu mengajarkan bahwa seorang pria harus memiliki arah pandang yang jelas dan tidak mudah terombang-ambing oleh pendapat yang tidak berdasar atau hasutan.
Passapu juga sering dikaitkan dengan konsep Pangadereng (adat istiadat). Mengenakan Passapu berarti seseorang setuju untuk tunduk pada aturan adat yang berlaku.
Ini adalah bentuk kontrol sosial visual; ketika seseorang mengenakan Passapu, ia secara otomatis diingatkan untuk menjaga sikap, tutur kata, dan perbuatannya agar tidak mencoreng kehormatan komunitas atau sukunya. Keberadaan Passapu hingga saat ini menjadi bukti ketangguhan budaya Sulawesi Selatan.
Di tengah gempuran tren busana global, Passapu tetap berdiri tegak sebagai identitas yang tak tergantikan. Keindahannya bukan terletak pada kemewahan kainnya, melainkan pada nilai-nilai integritas yang disampirkan di kepala pemakainya, mengingatkan bahwa martabat tertinggi manusia terletak pada budi pekerti dan keberaniannya membela kebenaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....