Menelisik Makna di Balik Lipatan Passapu, Simbol Jati Diri Lelaki Makassar
- 09 Mei 2026 07:16 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Majassar - Dikutip dari: Pemerintah Kabupaten Gowa (Humas Gowa) dan Jurnal Kebudayaan Universitas Hasanuddin. Bagi masyarakat suku Makassar, mengenakan Passapu bukan sekadar bergaya dengan kain tradisional. Penutup kepala yang terbuat dari kain patonro ini memiliki kedudukan sakral yang mencerminkan martabat pemakainya. Dalam berbagai prosesi adat di Butta Gowa, Passapu menjadi atribut wajib yang menunjukkan bahwa seorang pria siap memikul tanggung jawab, baik sebagai pemimpin keluarga maupun penjaga adat.
Filosofi utama dari Passapu terletak pada bentuknya yang meruncing ke atas. Hal ini melambangkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta (Hablum Minallah). Ujung yang tegak lurus mengisyaratkan bahwa segala tindakan manusia harus senantiasa berlandaskan pada kejujuran dan keteguhan hati. Tanpa prinsip yang kokoh, seorang lelaki dianggap kehilangan "sirinya" atau harga dirinya dalam tatanan sosial masyarakat Sulawesi Selatan.
Selain itu, jenis-jenis Passapu juga menentukan status sosial dan situasi yang dihadapi. Terdapat Passapu Patonro yang berdiri tegak dan biasanya digunakan oleh para bangsawan atau prajurit dalam suasana formal atau peperangan. Sementara itu, ada pula gaya yang lebih rendah atau miring yang menandakan kerendahan hati. Perbedaan detail ini menunjukkan betapa telitinya leluhur Makassar dalam mengatur etika berpakaian yang selaras dengan perilaku.
Warna juga memainkan peran krusial dalam filosofi ini. Passapu berwarna merah identik dengan keberanian dan semangat pantang menyerah, sering diasosiasikan dengan pahlawan Sultan Hasanuddin. Sedangkan warna kuning biasanya dikhususkan bagi kalangan bangsawan tinggi atau raja. Penggunaan warna yang tepat adalah bentuk penghormatan terhadap struktur adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Di era modern, Passapu kini mulai kembali diminati oleh generasi muda sebagai bentuk kebanggaan kultural. Penggunaannya tidak lagi terbatas pada upacara pernikahan atau ritual adat, tetapi juga dalam festival budaya. Upaya pelestarian ini penting agar filosofi "Siri' na Pacce" yang terkandung dalam selembar kain patonro tidak hilang ditelan zaman dan tetap menjadi kompas moral bagi pemuda Sulawesi Selatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....