Nilai Spiritual Hari Raya Tumpek Landep dalam Ajaran Hindu
- 15 Apr 2026 20:46 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar – PRO 1 RRI Makassar kembali menyiarkan program rutin Hindu Dharma pada Rabu (15/04/2026). Edisi kali ini mengangkat topik mendalam mengenai makna dan nilai spiritual di balik perayaan Hari Raya Tumpek Landep. Menghadirkan narasumber I Ketut Artana Muliadi, S.Ag, yang merupakan Penyuluh Agama Hindu dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan.
Dalam pemaparannya, I Ketut Artana menjelaskan bahwa Tumpek Landep bukan sekadar ritual pemujaan terhadap benda pusaka atau alat-alat dari logam. “Secara etimologi, Landep berarti tajam atau runcing. Hari raya ini merupakan momentum bagi setiap individu untuk mengasah ketajaman pikiran (Idep). Menurutnya, perayaan yang jatuh setiap Sabtu Kliwon Wuku Landep ini adalah bentuk syukur atas anugerah kecerdasan yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati,”jelasnya.
Ketajaman pikiran menjadi fokus utama dalam diskursus tersebut. I Ketut Artana menekankan bahwa pikiran yang tajam harus dibarengi dengan landasan dharma (kebenaran) agar tidak disalahgunakan. “Tanpa pengendalian diri yang kuat, kecerdasan manusia justru berisiko menjadi senjata yang merusak diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Oleh karena itu, ritual yang dilakukan pada hari ini sejatinya adalah simbolisasi dari upaya menyucikan pikiran agar tetap jernih dan terarah pada kebajikan,” tambahnya.
Terkait fenomena masyarakat yang melakukan upacara terhadap kendaraan bermotor atau alat elektronik, narasumber memberikan penjelasan yang mencerahkan. Beliau menyebutkan bahwa benda-benda tersebut adalah sarana pendukung kehidupan manusia yang diciptakan melalui ketajaman akal budi. "Tumpek Landep mengingatkan kita bahwa teknologi dan alat-alat yang kita gunakan sehari-hari adalah hasil dari ketajaman pikiran manusia. Kita memohon kehadapan Sang Hyang Pasupati agar benda-benda tersebut membawa manfaat dan keselamatan bagi penggunanya," ungkap I Ketut Artana Muliadi.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar umat tidak terjebak pada simbolisme material semata atau menganggap ritual ini sebagai pemujaan berhala. Esensi paling krusial adalah bagaimana manusia mampu "melandepkan" atau mengasah kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual secara seimbang. Dalam konteks sosial, pikiran yang tajam akan melahirkan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, terutama di masa sekarang di mana arus informasi sangat deras dan sering kali membingungkan.
Pada edisi kali ini I Ketut Artana juga menyoroti relevansi Tumpek Landep di era digital. Ia berpendapat bahwa di zaman sekarang, "senjata" yang paling nyata bukan lagi keris atau tombak, melainkan jemari dan pikiran saat berinteraksi di media sosial. Ketajaman pikiran harus digunakan untuk menyaring informasi dan menyebarkan kedamaian, bukan untuk menciptakan konflik atau menyebar berita bohong yang dapat memecah belah persatuan bangsa.
Menutup dialog, I Ketut Artana mengajak seluruh umat Hindu di Sulawesi Selatan untuk menjadikan momentum Tumpek Landep sebagai titik balik pengendalian diri. “Dengan pikiran yang tajam dan suci, diharapkan manusia mampu menebas segala bentuk kebodohan (Awidya) yang menyelimuti jiwa. Melalui ritual dan perenungan ini, spiritualitas Hindu diharapkan terus menjadi pelita yang memandu setiap langkah hidup manusia menuju keharmonisan dan kesejahteraan lahir batin,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....