Hari Raya Idul Fitri Ajang Silaturahmi dan Makan Bersama di Masyarakat SulSel

  • 27 Mar 2026 21:17 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Perayaan Idul Fitri atau Lebaran di Masyarakat Sulawesi Selatan adalah momen saling bersilaturahmi dengan orang tua, anak terhadap orang tua dan keluarga sanak saudara. Hal ini di ungkapkan H. Syamsuddin ST (Ketua FKP RRI Makassar) dalam Obrolan Ikatte Pro4 RRI Makassar pada hari Kamis, 26 Maret 2026.

H.Syamsuddin atau yang biasa di sapa Pak Eko mengatakan silaturahmi saat ini di perkotaan sudah sangat berbeda atau sudah pudar, lain halnya dengan di Desa/Daerah masih sangat kental, saling mengunjungi dari rumah ke rumah masih sangat di jaga hingga saat ini, dan tak lengkap rasanya tanpa makan bersama menu yang di sajikan atau di hidangkan oleh tuan rumah.

“Contoh hidangan saat lebaran adalah Tape yang menjadi ciri khas masyarakat Bugis beda lagi dengan masyarakat Jeneponto yaitu Coto yang berasal dari daging kuda walaupun sudah jarang tersaji di karenakan daging kuda sangat mahal harganya”,Ucap H.Syamsuddin (Pak Eko).

H.Syamsuddin (Pak Eko) menambahkan di Masyarakat Bugis-Makassar menu khas lainnya yang berasal dari daging adalah Nasu Likku, Nasu berarti masak/lauk dan Likku berarti lengkuas. Hidangan ini wajib hadir saat Lebaran atau hajatan, dikenal gurih, beraroma kuat, berupa olahan ayam kampung (seringkali menggunakan ayam muda) boleh juga menggunakan daging bebek, daging sapi ataupun daging kuda tergantung dari kemampuan.

Lebih lanjut H. Syamsuddin (Pak Eko) mengatakan selain makanan ada juga kue yang menjadi ciri khas di masyarakat Sulawesi Selatan yaitu Baruasa adalah kue kering tradisional khas Bugis-Makassar, Sulawesi Selatan, berbentuk bulat, bertekstur agak keras, namun gurih dan manis. Bahan utamanya adalah tepung beras yang disangrai di atas tungku yang terbuat dari tanah liat.

“Metode pemanggangan adalah bagian yang paling artistik sekaligus teknis. Sebelum oven listrik dikenal, baruasa dipanggang menggunakan pemanggang tradisional yang terdiri dari tungku atau semacam wadah yang terbuat dari tanah liat ada juga besi atau seng yang diletakkan di atas tungku kayu bakar. Uniknya, di atas penutup wadah tersebut juga diletakkan bara api yang membara. Teknik "api atas-bawah" yang primitif namun efektif ini memastikan kue matang secara merata”, terang H. Syamsuddin (Pak Eko).

Menyantap hidangan lebaran/Idul Fitri di Sulawesi Selatan adalah tentang merayakan identitas dan kebersamaan. Setiap suapan coto, nasu likku, tape dan kue khas baruasa membawa memori kolektif tentang Tradisi silaturahmi, mengunjungi keluarga dan makan bersama ini tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga mengenyangkan jiwa dengan nilai-nilai kearifan lokal yang terus dijaga kelestariannya dari generasi ke generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....