Arak Ogoh-Ogoh di Kariango, Simbol Pembersihan Diri Sambut Hari Raya Nyepi

  • 15 Mar 2026 21:50 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Maros - Sore itu, denting gamelan baleganjur menggema di kawasan Kompleks Kostrad Kariango, Kabupaten Maros. Irama musik tradisional Bali itu mengiringi langkah para pengarak yang perlahan bergerak membawa ogoh-ogoh raksasa berwajah garang. Warga sekitar, umat Hindu, hingga prajurit Kostrad tampak berdiri di sepanjang jalan kompleks, menyaksikan arak-arakan budaya yang sarat makna spiritual.

Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 atau 2026, umat Hindu dari Kota Makassar, Kabupaten Maros, dan sekitarnya menggelar tradisi mengarak ogoh-ogoh di Kompleks Pura Agung Cakra Bhuwana, Kariango, Maros, Minggu, 15 Maret 2026. Ogoh-ogoh yang diarak mengusung tema “Ki Buta Raja”, karya pemuda Hindu Cakra Bhuwana yang juga merupakan prajurit TNI. Sosok raksasa dengan rupa menyeramkan itu menjadi simbol kekuatan angkara murka yang ada dalam diri manusia.

Arakan dimulai dari halaman pura dan berkeliling di kawasan kompleks Kostrad Kariango. Selama sekitar dua jam, barisan budaya itu bergerak perlahan dengan iringan musik baleganjur yang dimainkan secara harmonis oleh para penabuh. Prosesi diawali dengan pasukan pembawa obor yang berjalan di depan, disusul penari lenda-lendi yang bergerak lincah mengikuti irama. Tak lama kemudian muncul penari rangda dengan karakter raksasa yang mistis, diikuti barong yang diapit pasukan pengawal.

Di bagian tengah, ogoh-ogoh “Ki Buta Raja” diarak para pemuda dengan penuh semangat. Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sulawesi Selatan, Gede Durahman, mengatakan arakan ogoh-ogoh sengaja dipusatkan di Pura Agung Cakra Bhuwana Kariango karena area di kompleks tersebut lebih luas. “Pelaksanaan di Pura Agung Cakra Bhuwana ini karena tempatnya cukup luas dibandingkan di Pura Giri Natha Makassar, sehingga teman-teman bisa lebih leluasa berkreasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, arakan ogoh-ogoh yang dikreasikan oleh Sanggar Gita Saraswati bersama berbagai lembaga umat Hindu tersebut mengelilingi lingkungan Kesatrian Kostrad Kariango.

Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi juga sarat pesan spiritual bagi umat Hindu dalam menyambut Hari Raya Nyepi. Tema “Ki Buta Raja” menggambarkan sosok raja buta kala yang melambangkan sifat-sifat angkara murka manusia ketika tidak mampu mengendalikan Sad Ripu, yakni enam musuh dalam diri manusia. “Sifat-sifat itulah yang kita introspeksi saat merayakan Nyepi. Angkara murka itu yang harus kita hindari,” katanya.

Dalam ajaran Hindu, Sad Ripu terdiri dari enam sifat negatif yang sering menguasai manusia, yaitu hawa nafsu (Kama), keserakahan (Lobha), kemarahan (Krodha), keangkuhan atau kemabukan (Mada), iri hati (Matsarya), serta kebingungan atau delusi (Moha). Keenam sifat ini diyakini dapat menghambat pertumbuhan spiritual jika tidak mampu dikendalikan.

Salah seorang umat Hindu yang turut menyaksikan arakan ogoh-ogoh, I Dewa Putu Murjana Yasa, menjelaskan bahwa ogoh-ogoh merupakan simbol dari buta kala, yakni kekuatan negatif yang harus dinetralisir sebelum umat Hindu memasuki Hari Raya Nyepi. “Ogoh-ogoh itu simbol buta kala. Sebelum melaksanakan puasa Nyepi, kita mengaraknya sebagai lambang membersihkan bumi dari pengaruh buta kala agar saat melaksanakan Nyepi kita bisa menjalani penyucian dengan tenang,” ujarnya.

Ia menambahkan, tradisi ini juga menjadi bagian dari rangkaian ritual menyambut Nyepi agar kehidupan manusia terbebas dari gangguan energi negatif, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Arakan ogoh-ogoh di Kariango juga menjadi ruang perjumpaan budaya yang mempererat kebersamaan. Tidak hanya umat Hindu yang menyaksikan, tetapi juga warga sekitar serta prajurit Kostrad yang tinggal di kawasan tersebut. Banyak warga mengabadikan momen arakan dengan ponsel, sementara anak-anak tampak antusias melihat sosok ogoh-ogoh yang menjulang tinggi.

Selain sebagai tradisi budaya, kegiatan tersebut juga membawa pesan toleransi antarumat beragama. Gede Durahman berharap perayaan Tahun Baru Saka 1948 dapat semakin memperkuat kerukunan di tengah masyarakat yang beragam, terlebih saat ini umat Muslim juga tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan. “Harapan kami, umat Hindu bisa terus menjaga toleransi dan kerukunan di tengah masyarakat, apalagi bersamaan dengan bulan suci Ramadan. Kita semua hidup bertetangga dan bersaudara,” katanya.

Setelah kegiatan arak ogoh-ogoh, rangkaian perayaan Nyepi di Makassar akan dilanjutkan dengan sejumlah ritual keagamaan. Salah satunya adalah upacara Melasti yang dirangkai dengan persembahyangan bersama seluruh umat Hindu di Pura Giri Natha Makassar pada Selasa, 17 Maret 2026 pukul 14.00 Wita. Selanjutnya, umat Hindu akan melaksanakan upacara pangerupukan dan persembahyangan bersama pada Rabu, 18 Maret 2026 mulai pukul 17.00 Wita.

Puncaknya adalah Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026. Pada hari tersebut, umat Hindu melaksanakan Catur Brata Panyepian, yaitu empat pantangan utama selama 24 jam sebagai bentuk penyucian diri dan refleksi spiritual. Pantangan itu meliputi Amati Geni (tidak menyalakan api atau lampu), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak menikmati hiburan).

Selain ritual keagamaan, umat Hindu di Makassar juga menggelar kegiatan sosial dalam rangkaian Nyepi, seperti berbagi takjil kepada umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa Ramadan di depan Kompleks Pura Giri Natha Makassar. Kegiatan itu juga dilengkapi dengan donor darah serta layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat sekitar pura.

Dengan semangat kebersamaan tersebut, tradisi ogoh-ogoh di Kariango tidak hanya menjadi simbol pembersihan diri menjelang Nyepi, tetapi juga menjadi cerminan harmoni dan toleransi yang tumbuh di tengah keberagaman masyarakat Sulawesi Selatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....